KabarBaik.co – Bertepatan dengan peringatan Hari Santri Nasional 2025, Pondok Pesantren Lirboyo di Kediri kembali menjadi sorotan sebagai salah satu simbol perjuangan, dakwah, dan pendidikan Islam klasik yang telah bertahan lebih dari satu abad. Didirikan oleh K.H. Abdul Karim pada tahun 1910, pesantren ini lahir dari semangat untuk menyebarkan ilmu agama dan membangun generasi santri yang berakhlak serta berilmu.
Berawal dari langkah sederhana, KH Abdul Karim yang sebelumnya mengajar di Pondok Pesantren Tebuireng asuhan KH M Hasyim Asy’ari, memilih menetap di Desa Lirboyo, Kediri, setelah menikah dengan Nyai Khodijah binti KH Sholeh dari Banjarmlati Kediri.
Atas Inisiatif pribadi dan dorongan sang mertua, beliau mendirikan pondok kecil untuk para penuntut ilmu. Santri pertamanya antara lain Umar dari Madiun, Yusuf, Sahil, Somad dari Magelang, serta Syamsudin dari Gurah, Kediri.
Seiring waktu, jumlah santri terus bertambah hingga nama Lirboyo dikenal luas, tidak hanya di Kediri, tetapi juga di berbagai daerah lain di Indonesia. Pada tahun 1913, KH Abdul Karim membangun masjid kecil yang dinamakan Masjid Lawang Songo, yang hingga kini masih berdiri kokoh sebagai ikon spiritual pesantren. Masjid Lawang Songo dinamakan demikian karena memiliki sembilan pintu.
Lebih dari sekadar lembaga pendidikan, Pondok Pesantren Lirboyo juga tercatat dalam sejarah perjuangan bangsa. Pada masa revolusi, para santri turut ambil bagian dalam pertempuran, termasuk dalam Peristiwa 10 November di Surabaya, menunjukkan bahwa semangat santri tidak hanya terbatas di ruang belajar, tetapi juga di medan perjuangan.
Kini, lebih dari seratus tahun kemudian, Pondok Pesantren Lirboyo telah berkembang menjadi kompleks pendidikan besar dengan puluhan unit pondok di bawah naungan yayasan. Beberapa di antaranya yaitu PP HM Mahrusiyyah, PP Salafy Terpadu Ar-Risalah, PP Darussalam, PP Al-Baqoroh, PP Darussa’adah, PP HM Lirboyo, PP HM Antara, PP HM Syarif Hidayatullah (HMS), PP Murottilil Qur’an, PP Haji Ya’qub, dan PP Al-Ghuroba.
Selain itu, terdapat pula pondok khusus putri seperti PP Putri Hidayatul Mubtadiat (P3HM), PP Putri Tahfidzil Qur’an (PPTQ), PP Putri Hidayatul Mubtain Qur’aniyyah (HMQ), PP Al-Baqoroh Putri, PP Al-Ihsan, serta PP As-Salamah Lil Banat.
Pembagian unit ini memungkinkan sistem pendidikan yang lebih terarah sesuai jenjang dan fokus kajian keilmuan para santri.
Dengan ribuan santri dari berbagai penjuru Nusantara, Lirboyo tetap mempertahankan sistem pendidikan salafiyah klasik, di mana pengajaran kitab kuning menjadi inti pembelajaran. Namun demikian, pesantren ini juga tidak menutup diri terhadap perkembangan zaman dengan mulai memperkuat digitalisasi administrasi dan pengembangan kader intelektual muda.
Momentum Hari Santri Nasional menjadi pengingat bahwa nilai-nilai perjuangan, keilmuan, dan keikhlasan yang diwariskan dari Lirboyo tetap relevan hingga kini dan meneguhkan peran santri sebagai penjaga moral dan cahaya bagi negeri. (*)






