KabarBaik.co, Malang – Polemik penayangan film Pesta Babi yang memicu pro dan kontra di tengah masyarakat terus menjadi perbincangan hangat di ruang publik dan media sosial.
Menyikapi situasi tersebut, Persatuan Wartawan Indonesia atau PWI Malang Raya mengimbau masyarakat agar tetap mengedepankan kedewasaan berpikir dalam menilai sebuah karya seni.
Ketua PWI Malang Raya, Cahyono, mengatakan bahwa perbedaan pandangan terhadap sebuah medium ekspresi merupakan hal yang wajar dalam kehidupan demokrasi. Menurutnya, karya seni termasuk film yang mengangkat ritual budaya pada dasarnya merupakan ruang interpretasi yang terbuka bagi publik.
“Kritik itu sah dalam negara demokrasi, namun harus disampaikan dengan cara yang sehat dan saling menghormati. Yang utama adalah menjaga ruang dialog agar tetap kondusif,” ujar Cahyono, Jumat (15/5).
Ia menegaskan, masyarakat tidak seharusnya hanya terpaku pada simbol atau tampilan luar sebuah karya tanpa memahami makna dan pesan yang ingin disampaikan pembuatnya.
“Kita merdeka dalam berpikir sepanjang mampu menempatkan kualitas nalar sebagai kasta tertinggi. Ketika seseorang memahami hakikat dan jati diri sebuah persoalan, maka medium ekspresi seperti film atau ritual sejatinya hanyalah sebuah jalan penafsiran,” tegasnya.
Cahyono mengajak masyarakat untuk lebih mendalami konteks serta nilai-nilai substansial dari sebuah karya sebelum memberikan penilaian secara sepihak. Menurutnya, perbedaan sudut pandang yang muncul di tengah masyarakat seharusnya menjadi bagian dari dinamika demokrasi yang sehat, bukan justru berkembang menjadi konflik sosial.
PWI Malang Raya pun berharap diskusi terkait film Pesta Babi dapat berlangsung secara lebih bijaksana dan tetap dalam koridor saling menghargai antarpendapat. (*)







