KabarBaik.co, Nganjuk – “Pak Presiden yang terhormat, Pak Bupati, tolong benerin jalan kami to pak!,”. Itu adalah ucapan seorang siswa SD dalam video yang viral beberapa waktu lalu soal rusaknya jalan di Dusun Tegal Abe.
Jalan tersebut tak hanya rusak, namun juga berlumpur parah jika hujan tiba. Namun video tersebut juga menjadi titik awal perubahan besar bagi warga di Dusun Tegal Abe, Desa Pule, Jatikalen, Nganjuk.
Karena video itu pula, Bupati Nganjuk Marhaen Djumadi segera melakukan pengecekan langsung ke lokasi. Bupati Marhaen kemudian menginstruksikan pembangunan jalan dengan proses pengecoran yang kokoh untuk memastikan kualitas dan daya tahan yang baik.
Bahkan Bupati Marhaen tidak menunda waktu untuk melakukan kunjungan kerja ke lokasi. Ia melihat sendiri betapa sulitnya akses yang harus dilalui anak-anak setiap hari untuk pergi ke sekolah.
Jalan tersebut benar-benar memprihatinkan, terutama saat musim hujan. Jalan yang berada di antara hamparan hutan di kedua sisinya itu akan penuh lumpur yang membuat perjalanan sangat sulit.
“Saya sangat prihatin melihat kondisi yang dialami oleh anak-anak kita. Sekolah adalah tempat untuk mengejar masa depan, tidak boleh jadi beban karena jalan yang rusak,” ujar Bupati Marhaen, Kamis (29/1)
“Oleh karena itu, saya langsung instruksikan agar pembangunan jalan dilakukan secepatnya dengan menggunakan metode pengecoran agar bisa bertahan lama dan memberikan manfaat yang maksimal,” jelasnya,

Kini, dengan hadirnya jalan baru yang telah melalui proses pengecoran dan pelapisan yang baik, warga Dusun Tegal Abe dan sekitarnya merasakan perubahan yang sangat signifikan. Banyak orang tua yang akhirnya bisa merasa tenang ketika anak-anak mereka berangkat sekolah.
“Sebelumnya, saya selalu harus mengantar anak-anak saya ke sekolah karena takut mereka jatuh atau terlambat. Kadang-kadang hujan deras membuat jalan tidak bisa dilewati sama sekali, sehingga anak-anak harus absen dari sekolah,” ungkap Sriatun, 50, warga Desa Pule.
Selain memudahkan akses pendidikan bagi anak-anak, jalan yang diapit oleh hutan ini juga diharapkan menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat. Banyak warga yang mengandalkan hasil bumi dari lahan pertanian dan kawasan hutan sekitar, seperti jagung, padi, kayu bakar dan lain sebagainya yang menjadi sumber penghasilan utama sebagian keluarga.
“Sebelumnya, kita kesusahan membawa hasil panen, kita harus mengeluarkan biaya lebih banyak untuk transportasi,” jelas Nur Salam, 45, seorang petani Desa Pule.
Wakil Bupati Trihandy Cahyo Saputro mengapresiasi kerja sama yang terjalin antara pemerintah dan masyarakat selama proses pembangunan.
“Kita membangun jalan ini tidak hanya sebagai sarana transportasi, tapi sebagai landasan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat. Setiap langkah yang kita tempuh bersama ini akan membawa kita menuju kemajuan yang lebih baik,” katanya. (*)







