KabarBaik.co, Sidoarjo – Ketegangan pecah saat dilakukan pembongkaran pagar pembatas antara Perumahan Mutiara Regency dan Mutiara City, Kamis (29/1). Penolakan warga terhadap pembukaan akses jalan berujung kericuhan, yang mengakibatkan sejumlah warga mengalami luka-luka, termasuk ibu-ibu.
Salah satu warga, Bagus, penghuni Blok A1 Nomor 36 Mutiara Regency, mengaku menjadi korban kekerasan saat berupaya menghentikan pembongkaran sebelum dilakukan dialog bersama pihak terkait.
Menurut Bagus, dirinya sempat meminta aparat menahan diri dan mengedepankan musyawarah. Namun, upaya tersebut justru berujung pada dugaan tindakan represif. Ia mengaku dituduh sebagai provokator, diseret, hingga dipukul oleh oknum di lapangan.
“Bukannya diajak bicara, saya malah diperlakukan kasar. Saya diseret dan dipukul,” ungkapnya sambil menunjukkan sejumlah luka di tubuh akibat insiden tersebut.
Bagus juga menyayangkan adanya dugaan keterlibatan warga dari kampung belakang yang disebut-sebut ikut dikondisikan dalam aksi pemukulan. Atas kejadian itu, ia menegaskan akan menempuh jalur hukum dan segera melaporkan dugaan kekerasan tersebut kepada pihak berwajib.
Penolakan serupa disampaikan warga lainnya, Naning. Ia menegaskan bahwa pembukaan akses jalan tersebut bertentangan dengan konsep keamanan satu pintu (one gate system) yang menjadi alasan utama warga membeli hunian di Mutiara Regency.
“Coba dipikir, Mutiara City itu warganya sekitar 1.000 orang, sementara di sini hanya 300. Harusnya mereka menyiapkan akses sendiri, bukan menggunakan jalan warga kami,” tegasnya di lokasi kejadian.
Situasi di lokasi eksekusi pagar pembatas, nampak warga melempari petugas satpol PP dengan kursi. Kericuhan tersebut diwarnai jerit histeris para ibu ibu. Warga juga menuntut pertanggungjawaban atas biaya pengobatan bagi sejumlah ibu-ibu yang terjatuh dan terinjak saat terjadi aksi dorong-dorongan.
Sebagai bentuk protes lanjutan, warga berencana membangun kembali pagar pembatas tersebut. Bahkan, sempat muncul wacana mendirikan bangunan masjid di atas lahan sengketa agar akses tersebut tidak dapat dilalui kendaraan.
Hingga berita ini diturunkan, warga masih berjaga di sekitar lokasi untuk mempertahankan wilayah perumahan mereka. (*)






