KabarBaik.co, Batu – Tradisi budaya Jawa kembali menggema di Desa/Kecamatan Junrejo, Kota Batu. Sebanyak 71 peserta mengikuti ruwatan massal yang digelar Sanggar Krido Budoyo dalam rangkaian peringatan 1 Suro atau 1 Muharam.
Kegiatan yang diprakarsai Pegiat Budaya sekaligus pemilik Sanggar Krido Budoyo, Sampurno, tersebut menjadi salah satu agenda utama dalam Grebeg Suro yang menghadirkan sembilan rangkaian acara, mulai dari ruwatan, gebyak seni hingga pengajian penutup.
Sampurno mengatakan penyelenggaraan ruwatan massal ini merupakan yang pertama kali dilakukan di Junrejo. Ia sengaja mengangkat kembali tradisi yang mulai jarang ditemui sebagai bentuk pelestarian budaya leluhur.
“Baru kali ini kami menyelenggarakan ruwatan. Tradisi budaya Jawa seperti ini sudah sangat jarang terlihat, sehingga kami ingin menghadirkannya kembali melalui Grebeg Suro di Sanggar Krido Budoyo,” ujarnya, Minggu (21/6).
Antusiasme masyarakat pun di luar perkiraan. Pada hari pertama tercatat 30 peserta mengikuti prosesi ruwatan, sedangkan hari kedua mencapai 71 peserta. Setiap peserta didampingi orang tua maupun keluarga sehingga lokasi kegiatan dipenuhi masyarakat.
Menurut Sampurno, dalam tradisi Jawa terdapat sejumlah kategori anak yang dianjurkan menjalani ruwatan atau ritual menghilangkan sukerta (ngilangi sukerto), seperti anak tunggal atau ontang-anting, pasangan perempuan dan laki-laki (gentono-gentini), hingga beberapa kategori lainnya yang jumlahnya mencapai sekitar 25 jenis.
“Ruwatan ini merupakan budaya untuk memohon agar dijauhkan dari bala atau kesialan. Kami hanya ingin memberikan fasilitas kepada masyarakat karena jika dilakukan secara pribadi membutuhkan biaya yang tidak sedikit,” jelasnya.
Ia menegaskan penyelenggaraan ruwatan massal dilakukan secara sederhana tanpa kepentingan tertentu, murni sebagai bentuk pengabdian pegiat budaya untuk menghidupkan kembali tradisi Jawa yang mulai terlupakan.
Prosesi ruwatan dipimpin dua dalang, yakni Ki Sutaji dan Ki Hanafi. Kehadiran dua dalang diperlukan karena prosesi ruwatan melibatkan banyak peserta dengan tahapan yang cukup panjang, mulai dari jamasan, pementasan lakon hingga berbagai rangkaian ritual adat yang disertai penyediaan sesaji sesuai tradisi Jawa.
Selain melestarikan budaya, kegiatan ini juga menjadi wadah pemberdayaan para pelaku seni lokal, mulai dari dalang, sinden hingga pengrawit yang turut terlibat dalam seluruh rangkaian acara.
“Tujuan kami tidak ada selain memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus menjalankan kewajiban uri-uri budaya sebagai pewaris leluhur. Bersyukur antusias masyarakat sangat luar biasa, bahkan setelah pendaftaran ditutup masih banyak yang ingin ikut,” ungkapnya.
Melihat tingginya minat masyarakat, Sampurno memastikan ruwatan massal akan kembali digelar pada peringatan 1 Suro tahun depan dengan skala yang lebih besar serta sejumlah penyempurnaan dalam pelaksanaannya.
“Selama ini kegiatan seperti ini belum ada. Tahun depan kami berencana menggelarnya lebih besar lagi agar semakin banyak masyarakat yang dapat ikut serta dan budaya Jawa tetap lestari,” pungkasnya. (*)








