KabarBaik.co, Blitar – Satgas Etik Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Blitar menerima laporan dugaan pelecehan yang melibatkan dosen berinisial S. Dari pendampingan awal, tercatat ada 15 korban yang melapor melalui perwakilan mahasiswa.
Sekretaris Badan Pelaksana Penyelenggara (BPP) UNU Blitar, Rudiyanto Hendra Setiawan mengatakan, Satgas Etik menerima pendampingan dari PMII Komisariat UNU Blitar dan LPM Bhanu Tirta pada 12 Mei 2026.
“Satgas Etik telah menerima perwakilan PMII Komisariat UNU Blitar dan LPM Bhanu Tirta sebagai pendamping dari 15 korban,” ujarnya, Rabu (13/5)
Dari hasil penanganan awal tersebut, lanjut Rudiyanto, pihak kampus memutuskan menonaktifkan sementara dosen berinisial S dari seluruh aktivitas proses belajar mengajar. “Keputusan kampus, yang bersangkutan dinonjobkan dari kegiatan proses belajar mengajar,” katanya.
Selain itu, pihak kampus juga menyiapkan shelter keamanan dan pendampingan psikolog bagi korban selama proses berjalan.
Rudiyanto menyebut pihak kampus masih membuka ruang bagi mahasiswi lain yang merasa menjadi korban untuk melapor. Menurutnya, setiap laporan tambahan akan tetap diproses melalui mekanisme internal kampus.
“Kalau ada korban lain dari terduga pelaku S, kami sangat terbuka dan memberi ruang untuk melapor,” tegasnya.
Kampus juga mengaku telah mengantongi sejumlah bukti awal berupa percakapan WhatsApp yang berkaitan dengan dugaan kasus tersebut.
Menurut Rudiyanto, apabila korban memutuskan membawa kasus ke aparat penegak hukum (APH), pihak kampus siap membantu menyediakan bukti maupun saksi. “Kalau korban melanjutkan ke APH, kami siap menyiapkan bukti dan saksi,” ujarnya.
Ke depan, BPP UNU Blitar mengaku akan melakukan penguatan sistem perlindungan mahasiswa, termasuk memperkuat Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (PPKPT).
Sebelumnya, Ketua Komisariat PMII UNU Blitar, Ahmad Kafi, menyebut dugaan pelecehan terjadi saat proses perkuliahan maupun di depan umum. Menurutnya, korban mengalami dugaan pelecehan verbal hingga fisik. Dosen tersebut disebut kerap melontarkan kalimat vulgar saat mengajar di kelas. (*)








