KabarBaik.co – Banjir yang merendam hamparan sawah di Dusun Ketapang Rejo, Desa Ketapang Kuning, Ngusikan, Jombang, selama empat hari terakhir membawa dua sisi cerita.
Di satu sisi, petani harus menelan pil pahit karena sekitar 17 hektare tanaman padi terancam gagal panen. Namun di sisi lain, genangan air itu justru menghadirkan pemandangan tak biasa yang menyedot perhatian warga.
Air banjir yang menggenangi lahan pertanian tersebut membentuk danau dadakan. Permukaannya beriak tertiup angin, menciptakan panorama yang kian memesona saat matahari perlahan tenggelam di ufuk barat.
Suasana senja yang syahdu itulah yang kemudian mengundang ratusan warga datang berbondong-bondong.
Warga terlihat memadati area sawah yang tergenang. Mereka datang bersama keluarga, sahabat, hingga pasangan muda. Ada yang sekadar duduk santai, berburu foto, hingga menikmati angin sore di tepi genangan air.
Keramaian ini pun dimanfaatkan para pedagang kecil. Lapak jajanan bermunculan di sekitar lokasi, menjajakan aneka makanan dan minuman bagi para pengunjung.
Salah seorang pengunjung, Bianca Nisha Aurelia, 15, mengaku datang karena penasaran melihat ramainya warga yang berkunjung.
“Cuma lihat banjir saja sih, tapi seru. Airnya kayak danau, ada gelombang-gelombangnya. Terus bisa menikmati sunset,” ujar Bianca, Rabu (14/1) sore.
Menurut Bianca, suasana di lokasi terasa sejuk dan menenangkan. “Syahdu, anginnya sepoi-sepoi. Gratis juga, banyak jajan. Yang paling saya suka suasananya,” katanya.
Bianca bahkan sempat berkelakar membayangkan genangan tersebut dijadikan wahana perahu. “Saya sampai kepikiran mau buat perahu terus disewakan. Kayaknya seru,” ujarnya sambil tertawa.
Hal serupa disampaikan Mohammad Ilham, 25. Ia datang setelah melihat video suasana banjir tersebut viral di media sosial.
“Ini wisata dadakan. Kejadiannya mungkin setahun cuma satu atau dua kali. Ada video drone yang viral, akhirnya penasaran dan datang ke sini,” kata Ilham.
Menurutnya, daya tarik utama lokasi ini terletak pada kombinasi air banjir yang bergelombang dan pemandangan senja. “Sore hari bukan cuma lihat air, tapi senjanya juga bagus. Bisa ngopi senja, gratis lagi,” ujarnya.
Keramaian pengunjung mulai terasa sejak sehari sebelumnya, namun puncaknya terjadi pada Selasa sore. “Kemarin sudah ramai, tapi hari ini paling ramai,” tambahnya.
Di balik keramaian tersebut, para pedagang kecil turut merasakan berkah. Atim, 45, penjual pentol bakar asal Desa Keboan, mengaku baru pertama kali merasakan dampak wisata dadakan seperti ini.
“Kalau petani jelas merasa rugi. Tapi masyarakat banyak yang senang karena ada wisata dadakan,” kata Atim.
Ia menyebut penjualannya memang tidak menentu, namun tetap bersyukur. “Alhamdulillah banyak yang beli. Kita coba membaca peluang karena pengunjungnya ramai,” ujarnya.
Meski demikian, Atim berharap pemerintah setempat turut turun tangan. “Harapannya pemerintah bisa meninjau langsung. Banjirnya ini lama-lama kasihan juga petaninya,” pungkasnya. (*)






