KabarBaik.co, Surabaya – Langkah konsolidasi industri gula nasional terus dimatangkan. PT Sinergi Gula Nasional (SGN) menargetkan proses akuisisi tujuh pabrik gula milik PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) dapat dirampungkan pada akhir Maret atau paling lambat awal April 2026.
Perusahaan yang merupakan anak usaha dari PT Perkebunan Nusantara III (Persero) ini menilai langkah tersebut sebagai bagian penting dalam upaya memperkuat struktur industri gula nasional sekaligus mendukung target swasembada pangan pemerintah.
Corporate Secretary SGN, Yunianta, mengatakan proses akuisisi saat ini masih berjalan secara progresif, termasuk penyelesaian sejumlah dokumen administrasi yang diperlukan sebelum penandatanganan resmi dilakukan.
“Insya Allah prosesnya mudah-mudahan akhir bulan ini (Maret) atau awal April sudah bisa selesai (signing). Objeknya mencakup pabrik di bawah Rajawali I, Rajawali II, maupun Candi Baru,” ujar Yunianta di temui di Acara Media Gathering PT. SGN, Kamis Malam (12/3).
Aksi korporasi ini mencakup tujuh unit pabrik gula strategis yang tersebar di Pulau Jawa. Pabrik-pabrik tersebut berada di bawah pengelolaan PT Rajawali I di Jawa Timur, PT Rajawali II di Jawa Barat, serta pabrik gula Candi Baru yang berlokasi di Sidoarjo.
Integrasi aset tersebut diharapkan mampu meningkatkan efisiensi operasional sekaligus mendorong standarisasi kualitas produksi di bawah manajemen terpadu SGN.
Yunianta menjelaskan, meskipun kesepakatan terkait struktur pemegang saham telah tercapai, masih terdapat sejumlah tahapan administratif yang perlu diselesaikan sebelum proses pengalihan aset dapat dilakukan sepenuhnya.
Lebih dari sekadar ekspansi bisnis, rencana akuisisi ini menjadi bagian dari strategi besar pemerintah dalam menata ulang industri gula nasional. Dengan bergabungnya pabrik-pabrik milik RNI, SGN diharapkan memiliki kendali yang lebih kuat terhadap rantai pasok gula nasional, mulai dari pengelolaan lahan tebu rakyat hingga distribusi produk.
Langkah ini juga diharapkan mampu menciptakan keseimbangan kebijakan harga di tingkat petani dan industri.
“Intinya, kerja sama dan aksi korporasi ini dilakukan dalam rangka penguatan industri gula kita agar lebih kompetitif dan tidak melemah oleh sentimen global,” tambah Yunianta.
Masuknya tujuh pabrik gula baru tersebut juga diharapkan dapat membantu SGN menghadapi berbagai tantangan operasional yang muncul dalam beberapa tahun terakhir, seperti fluktuasi harga komoditas tetes serta kenaikan biaya logistik akibat dinamika harga energi.
Dengan pengelolaan yang terintegrasi, SGN optimistis kapasitas giling nasional dapat meningkat signifikan. Selain itu, konsolidasi ini juga diharapkan memberikan kepastian serapan tebu bagi para petani di wilayah Jawa Barat maupun Jawa Timur.
Ke depan, konsolidasi tersebut diharapkan menjadi fondasi yang semakin memperkuat ketahanan pangan nasional, khususnya di sektor komoditas gula.






