KabarBaik.co – Insiden tenggelamnya Kapal Motor Penyeberangan (KMP) Tunu Pratama Jaya di Selat Bali pada Rabu (2/7) malam kembali membuka mata publik terhadap urgensi keselamatan pelayaran di Indonesia. Kejadian nahas ini mendapat perhatian serius dari berbagai kalangan, termasuk akademisi.
Salah satunya adalah Dr. Ing. Ir. Setyo Nugroho, pakar transportasi laut dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Dosen yang akrab disapa Yoyok ini menegaskan bahwa kecelakaan laut seperti ini kerap kali disebabkan oleh kombinasi antara kelalaian manusia dan faktor alam.
“Hampir 90 persen kecelakaan kapal terjadi karena kelalaian manusia,” ujar Dekan Fakultas Teknologi Kelautan (FTK) ITS tersebut, Jumat (4/7).
Yoyok menjelaskan, banyak kecelakaan pelayaran yang berawal dari kurangnya perawatan mesin kapal serta kesalahan dalam menghitung stabilitas muatan. Ia menyebut, dari seluruh kasus kelalaian, sekitar 80 persen berkaitan dengan kesalahan dalam penanganan muatan.
Selain faktor teknis dan human error, Yoyok juga menyoroti kondisi cuaca yang semakin ekstrem. “Cuaca yang tidak stabil dapat menimbulkan gelombang tinggi yang membahayakan kapal, apalagi jika kapal tidak dalam kondisi prima,” tambahnya.
Menurut Yoyok, tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya kemungkinan besar merupakan akibat dari kombinasi antara buruknya cuaca, kesalahan prosedur pengoperasian, dan kondisi mesin yang tidak terawat. Hal ini, menurutnya, menjadi sinyal kuat bahwa evaluasi menyeluruh terhadap sistem keselamatan pelayaran sangat mendesak dilakukan.
Sebagai solusi, Yoyok mendorong adanya perbaikan menyeluruh mulai dari standar operasional pemuatan kapal, perawatan mesin, hingga sistem navigasi. Ia juga menekankan pentingnya penerapan teknologi untuk mendukung keselamatan pelayaran.
Salah satu inovasi yang ia kembangkan adalah aplikasi iStow, sebuah sistem digital untuk menghitung stabilitas dan penataan muatan kapal secara akurat. Aplikasi ini tak hanya bertujuan mencegah kecelakaan, tapi juga mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya poin 9 (industri, inovasi, dan infrastruktur) serta poin 14 (ekosistem laut).
“Perguruan tinggi memiliki peran penting dalam memberikan solusi atas berbagai persoalan transportasi laut. Kami berharap kontribusi akademisi bisa ikut memperkuat keselamatan pelayaran, tidak hanya di Indonesia, tapi juga di tingkat global,” pungkas Yoyok.







