KabarBaik.co, Surabaya- Debut di Piala Uber 2026 menjadi panggung pembuktian bagi Thalita Ramadhani Wiryawan bahwa dirinya bukan sekadar pemain pelapis. Di tengah atmosfer dingin Forum Horsens, Denmark, remaja berusia 18 tahun ini melangkah ke lapangan dengan ketenangan luar biasa saat tim Uber Indonesia sedang tertahan imbang 1-1 oleh Kanada.
Kemenangan dua gim langsung atas Wen Yu Zhang dengan skor 21-16 dan 21-19 tidak hanya membawa poin krusial, tetapi juga meletakkan harapan baru di pundak Thalita untuk mengembalikan kedigdayaan tunggal putri Indonesia.
Sejatinya, perjalanan Thalita menuju panggung dunia ini bermula dari sebuah ketidaksengajaan yang unik di Surabaya. Saat masih berusia enam tahun, ia hanyalah bocah TK yang setia mengantar kakaknya berlatih di sebuah klub lokal.
Nah, rasa bosan yang melanda saat menunggu di pinggir lapangan membuatnya iseng memegang raket dan memukul-mukul kok ke arah tembok. Ternyata, ketangkasan alaminya menarik perhatian pelatih yang kemudian menyarankannya untuk berlatih serius hingga akhirnya resmi menembus pelatnas PBSI Cipayung pada Desember 2024.
Motivasi besar Thalita semakin berkobar setelah melahap buku biografi sang legenda, Susi Susanti. Ia mengaku begitu terkesan dengan dedikasi dan air mata kemenangan Susi di Barcelona 1992.
“Momen emas Susi Susanti di Barcelona 1992 menjadi kompas bagi saya. Saya tidak hanya ingin bermain, tapi saya ingin menjadi alasan lagu Indonesia Raya berkumandang di dunia. Saya ingin membuktikan bahwa tunggal putri Indonesia bisa kembali ditakuti,” ungkap Thalita dalam sebuah wawancara bersama PBSI yang menunjukkan ambisi besarnya.
Sebelum menginjakkan kaki di Denmark, siswi SMA Negeri 1 (Khusus Olahraga) Ragunan ini telah mengukir rentetan prestasi yang mengesankan. Ia berhasil menyabet gelar juara di Indonesia International Challenge 2025 setelah menundukkan seniornya, Mutiara Ayu Puspitasari.
Sebelumnya, dominasinya di level junior internasional telah terbukti melalui kemenangan di Bangladesh Junior International Series 2024 serta keberhasilannya menembus jajaran lima besar ranking BWF Junior pada awal tahun 2025.
Kini, meski mengidolakan gaya main legendaris Susi Susanti, Thalita membawa warna baru dengan permainan yang lebih agresif dan variasi drop shot yang tajam. Perpaduan antara mentalitas baja khas Surabaya dan teknik modern ini menjadikannya harapan baru bagi publik bulu tangkis tanah air.
Jika konsistensi tersebut terus terjaga, julukan “The Next Susi Susanti” bukan lagi sekadar impian atau beban, melainkan takdir yang sedang ia jemput dengan penuh percaya diri.
Susi Susanti adalah legenda hidup bulu tangkis Indonesia yang menjadi simbol dedikasi dan patriotisme melalui pencapaian bersejarahnya di kancah internasional. Puncak kariernya terjadi pada Olimpiade Barcelona 1992, di mana ia berhasil mempersembahkan medali emas pertama bagi Indonesia, sebuah momen ikonik yang diwarnai tetesan air mata haru saat bendera Merah Putih berkibar di podium tertinggi.
Di luar lapangan, sosok yang dijuluki “Ratu Bulu Tangkis” ini dikenal karena kerendahan hati dan disiplinnya yang sangat tinggi, menjadikannya teladan abadi bagi generasi atlet setelahnya. Konsistensinya dalam menjaga performa membuatnya mampu mendominasi sektor tunggal putri selama bertahun-tahun, termasuk menyabet berbagai gelar bergengsi seperti Juara Dunia, All England, dan Piala Uber.
Warisannya tidak hanya berupa deretan medali dan piala, tetapi juga semangat pantang menyerah yang terus menginspirasi jutaan anak muda Indonesia untuk berani bermimpi besar dan mengharumkan nama bangsa melalui jalur olahraga.
Ayo, Thalita Wani…! (*)






