Usai Pelesir ke Candi Cetho di Lereng Gunung Lawu, Mobil Rombongan Asal Gresik Terperosok ke Kebun Teh

oleh -105 Dilihat
LAKA ELF
Kendaraan Elf yang mengangkut rombongan asal Gresik saat terperosok ke area kebun teh Kranganyar, Jumat )4/4). (Foto Medos)

KabarBaik.co- Rombongan wisatawan asal Gresik, Jawa Timur, mengalami celaka kemarin (4/4). Kendaraan yang mereka tumpangi terperosok ke area perkebunan teh di Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Beruntung tidak ada korban jiwa. Namun, empat penumpang mengalami luka-luka hingga dibawa ke Puskesmas setempat.

Informasi yang dihimpun, rombongan wisatawan itu menggunakan mobil Elf dengan nopol W 7885 AG. Elf itu dikemudikan Alfian Cipta Adi, 38, warga Surabaya. Kendaraan itu membawa sebanyak13 penumpang. Sebetulnya, rombongan unjung-unjung Lebaran ke rumah saudara di Desa Gumeng. Nah, selapas silaturahmi itu, mereka juga memanfaatkan untuk berwisata. Sekali jalan. Tujuannya, ke Candi Cetho.

Selesai ke Candi Cetho, sekitar pukul 13.00 WIB, rombongan melanjutkan perjalanan. Saat turun dari arah Candi Cetho ke arah Kota Solo, tepatnya di pertigaan Cakruk Kadipekso, Jenawi, rem Elf itu diduga gagal fungsi alias blong. Sopir pun membanting setir ke arah kanan. Hilang kendali mobil kemudian terperosok ke kubangan kebun teh dengan kedalaman sekitar 30 meter.

Melihat insiden itu, warga pun bergegas membantu. Mereka mengevakuasi para korban maupun mobil dari area perkebunan teh tersebut. ‘’Tidak ada korban meninggal dunia,’’ kata Kepala Unit Penegakan Hukum (Kanit Gakkum) Satlantas Polres Karanganyar Iptu Yudo Sukarno kepada wartawan.

CANDI CETHO
Perona Candi Cetho di lereng Gunung Lawu, Jawa Tengah (Foto website Persona Karanganyar)

Pesona dan Misteri Candi Cetho

Candi Cetho merupakan Candi bercorak Hindu. Berada di lereng Gunung Lawu. Secara administratif berada di Dusun Ceto, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Berada pada ketinggian 1.496 m di atas permukaan laut (mdpl).

Sejumlah literatur menyebut, Candi Cetho diduga kuat dibangun pada masa Majapahit abad 15 Masehi. Candi Cetho memiliki 13 teras berundak dari barat ke timur berdasarkan data pada tahun 1928. Namun, pemugaran pada tahun 1978 mengakibatkan teras yang ada tinggal sembilan teras saja

Candi Cetho buka dari jam 08.00-17.00 WIB. Untuk dapat masuk ke Candi Cetho wisatawan cukup membayar tiket masuk Rp 15.000 untuk wisatawan lokal dan untuk wisatawan mancanegara sebesar Rp 30.000. Masuk ke Candi Cetho sudah menggunakan e-Ticket. Beberapa fasilitas yang tersedia seperti toilet, musala, toko oleh-oleh dan cindera mata, dan area parkir.

Selain memiliki pesona alam yang bagus, misteri dan mitos juga menyelimuti Candi Cetho. Beberapa informasi mengenai misteri dan mitos Candi Cetho banyak diungkap media pers maupun media sosial. Berikut beberapa mitos itu:

Tanda Keperjakaan

Misteri dan mitos Candi Cetho yang masih bertahan adalah mitos tes keperjakaan. Ketika seseorang yang belum menikah dan belum berhubungan intim, ketika melewati gapura piramida Candi Cetho maka akan merasa jalannya dilancarkan. Namun, bila seseorang kencing sebelum melewati gapura, konon dianggap sudah tidak perjaka atau sudah tidak perawanan. Sejauh ini, mitos tersebut menjadi perbincangan di kalangan masyarakat sekitar. Tapi, masih menjadi tanda tanya soal kebenarannya.

Misteri Pasar Setan

Konon, di kawasan Candi Cetho sering terdengar suara-suara seperti transaksi jual beli layaknya di pasar. Tapi, tidak ada penampakan yang terlihat oleh pengunjung atau pendaki yang melewati pasar setan ini. Mitos inipun membawa makin membawa nuansa mistis dan menambah daya tarik tersendiri bagi Candi Cetho sebagai tempat yang menyimpan cerita-cerita misteri tak terpahami.

Patung Kelamin Laki-Laki

Misteri selanjutnya adalah keberadaan patung kelamin laki-laki. Patung ini terletak di gubuk dekat piramida puncak. Kendati patung ini menggambarkan penciptaan manusia dan bukan sesuatu yang erotis, namun tetap saja menjadi salah satu elemen misteri yang menarik perhatian pengunjung. Patung itu juga kerap ditaburi bunga dupa dan sesajen, menggambarkan kesakralan tersendiri bagi ritual keagamaan Hindu dan kejawen.

Menghadap ke Arah Kiblat

Misteri dan mitos Candi Cetho lainnya adalah orientasi Candi Cetho yang menghadap ke barat atau kiblat. Kabarnya, hal ini menjadi salah satu perbedaan dengan kebanyakan candi lainnya, yang menghadap ke timur. Sejumlah kalangan menyebut, Candi Cetho yang menghadap kiblat ini dianggap menjadi penanda tentang latar belakang kebudayaan candi ini yang lebih banyak mengarah kebudayaan barat daripada budaya timur.

Pembangunan Melibatkan Mahluk Lain

Pembangunan Candi Cetho juga dikabarkan menyimpan misteri. Berbeda dari candi-candi peninggalan Majapahit lainnya, Candi Cetho memiliki relief yang sederhana dan gaya arsitekturnya unik. Arkeolog mengungkapkan, Candi Cetho mungkin merupakan peninggalan Suku Maya, yang memiliki pengaruh fashion atau gaya orang Sumeria. Memiliki peradaban maju dibandingkan orang Jawa saat itu, dengan mengenakan anting-anting besar dan gaya rambut yang mirip dengan gaya Eropa, Romawi, dan Yunani kuno.

Konon, pembangunan Candi Cetho diduga melibatkan campur tangan makhluk lain pada susunannya, meninggalkan misteri tersendiri bagi para peneliti.

Terlepas benar atau tidak, cerita misteri dan mitos seputar Candi Cetho tersebut menjadi salah satu warna-warni dan daya tarik tersendiri, selain pesona alami yang menyelimutinya. (*)

 

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini



No More Posts Available.

No more pages to load.