KabarBaik.co, Gresik – Suasana malam di SOR Tri Dharma Petrokimia Gresik, Jumat (14/8), terasa berbeda. Ribuan pasang mata tertuju pada pagelaran wayang kulit yang menutup rangkaian HUT ke-54 Petrokimia Gresik sekaligus peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia ke-81.
Pagelaran dengan dalang utama Ki Bayu Aji Pamungkas Anom ini mengusung lakon “Begawan Ciptaning”. Pertunjukan tersebut tidak sekadar menjadi hiburan. Di balik kisah Arjuna yang menjalani berbagai ujian, terselip pesan tentang kesetiaan, dedikasi, keikhlasan, dan perjuangan untuk meningkatkan kapasitas diri.
Pesan itu dianggap selaras dengan perjalanan Petrokimia Gresik yang selama 54 tahun terus berkembang sebagai bagian dari ekosistem Pupuk Indonesia.
Direktur Utama PT Petrokimia Gresik Daconi Khotob mengatakan, pagelaran wayang kulit menjadi bentuk rasa syukur sekaligus penutup rangkaian peringatan HUT ke-54 perusahaan.
Namun, sebelum pertunjukan dimulai, Daconi juga membawa kabar yang menurutnya membanggakan. Ia menyinggung pidato kenegaraan Presiden RI Prabowo Subianto di Gedung DPR/MPR pada Jumat pagi.
Dalam pidatonya, kata Daconi, Presiden memberikan apresiasi terhadap kinerja Pupuk Indonesia selama dua tahun terakhir.
“Tadi pagi Bapak Presiden Republik Indonesia, Bapak Prabowo Subianto pada pidato kenegaraan resmi, didepan MPR- DPR, itu memberikan apresiasi kepada Pupuk Indonesia, beliau menyampaikan bahwa baru kali ini sepanjang sejarah Republik Indonesia, harga pupuk turun 20 persen diskon,” ungkap Daconi.
Penurunan harga tersebut, lanjut dia, justru diikuti peningkatan produksi dan penyaluran pupuk kepada petani.
“Ketika harga pupuk turun sebaliknya suplainya semakin naik produksinya. Penyaluran ke petani juga naik. Dan yang lebih membahagiakan lagi sudah diberi diskon jumlah produksinya malah meningkat, penyalurannya meningkat. Ini malah kinerja perusahaan disebut langsung oleh Bapak Presiden, PT Pupuk Indonesia berhasil meningkatkan keuntungan perusahaan 250 persen lebih. Alhamdulillah, ” lanjutnya.
Daconi menyebut capaian itu sebagai anomali positif. Sebab, pemberian diskon umumnya berpotensi menekan pendapatan perusahaan.
“Ini anomali karena biasanya perusahaan memberikan diskon, pendapatan turun. Namun, Pupuk Indonesia justru mencatat kinerja yang cemerlang,” sambung Daconi.
Menurut Daconi, capaian tersebut tidak lepas dari dukungan berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, stakeholder, masyarakat hingga petani Indonesia.
Dukungan itu dinilai penting bagi Petrokimia Gresik dalam menjalankan perannya sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan nasional.
Bagi Daconi, pertunjukan wayang kulit bukan hanya tradisi yang dipertahankan. Cerita yang dimainkan juga menyimpan nilai yang dapat menjadi refleksi bagi perusahaan dan para pekerjanya.
Ia menyebut kisah pewayangan yang diangkat membawa pesan tentang kesetiaan, dedikasi, dan keikhlasan untuk mengutamakan kepentingan yang lebih besar.
“Sekali lagi terima kasih. Nah sebagai wujud rasa syukur kita selenggarakan pegelaran wayang kulit malam ini,” imbuhnya.
Menurut dia, nilai-nilai tersebut penting untuk terus dirawat. “Semoga nilai nilai ini bisa kita teladani untuk perusahaan yang kita cintai ini,” harap Daconi.
Dalam lakon “Begawan Ciptaning”, Arjuna dikisahkan menjalani perjalanan untuk membangun kapasitas diri. Ia menempa kemampuan dan menghadapi berbagai tantangan serta ujian demi mencapai tujuan.
Perjalanan Arjuna tersebut menjadi gambaran bahwa keberhasilan tidak datang secara instan. Ada proses panjang, konsistensi, perjuangan, serta kesetiaan terhadap tugas dan tanggung jawab yang harus dijalani. Nilai itulah yang kemudian dianggap merefleksikan perjalanan Petrokimia Gresik selama 54 tahun.
Malam pertunjukan semakin istimewa karena panggung tidak hanya menjadi milik dalang utama. Dalang muda dan dalang cilik yang merupakan bagian dari pembinaan seni budaya di lingkungan Petrokimia Gresik juga ikut tampil.
Salah satunya Ki Ahmad Bagas Setiawan. Di usia 26 tahun, Ki Bagas merupakan karyawan Pabrik Produksi 2B Petrokimia Gresik sekaligus dalang muda binaan Sanggar Mahesa Kencana Petrokimia Gresik.

Selain Ki Bagas, tiga dalang cilik turut tampil. Mereka adalah Avito Bintang Pratama, siswa kelas IX SMPN 1 Gresik, Nicholas Davino Pudyantoro, siswa kelas V SD Petrokimia Gresik, dan Kyano Reynand Hanenda, siswa kelas V MI NU Trate Putra. Kehadiran mereka menjadi bagian dari upaya meneruskan tradisi sekaligus mengenalkan seni pewayangan kepada generasi muda.
Sementara itu, Ki Bayu Aji Pamungkas Anom tampil sebagai dalang utama. Pertunjukan tersebut disaksikan masyarakat sekitar perusahaan dan warga dari berbagai daerah yang memadati lokasi. Di bawah cahaya panggung dan iringan gamelan, kisah Arjuna pun bergulir.
Bagi Petrokimia Gresik, malam itu bukan sekadar penutup perayaan ulang tahun. Wayang menjadi medium untuk mengingat kembali perjalanan panjang perusahaan: bahwa untuk terus tumbuh, dibutuhkan ketekunan, kesetiaan, keberanian menghadapi tantangan, dan kemauan untuk terus menempa diri.
Semangat itulah yang ingin dibawa Petrokimia Gresik memasuki perjalanan berikutnya, sekaligus menjadi bagian dari kontribusi perusahaan bagi masyarakat dan bangsa.(*)






