WN Korsel Pemilik Restoran di Surabaya Dipolisikan, Diduga Perkosa Karyawan dan ART

oleh -60 Dilihat
WhatsApp Image 2026 02 24 at 4.28.37 PM
Ilustrasi pemerkosaan. (Foto: Ist)

KabarBaik.co, Surabaya — Seorang karyawan perempuan di Surabaya melaporkan pemilik restoran makanan Korea di Jalan Mayjen HR Muhammad, Surabaya, ke Polrestabes Surabaya atas pemerkosaan yang diduga berlangsung berulang sejak Maret hingga Juli 2026. Pemilik restoran tersebut, SSY, 64, merupakan WN Korea Selatan.

Korban resmi membuat laporan ke pihak kepolisian pada 29 Juli 2026 dengan nomor register TBL/B/VII/2026/SPKT/POLRESTABES SURABAYA/POLDA JAWA TIMUR. Tak hanya korban, seorang asisten rumah tangga (ART) asal Malang juga turut melaporkan SSY. Laporan ART tersebut terdaftar dengan nomor LP/B/1613/VIII/2026/SPKT/POLRESTABES SURABAYA/POLDA JAWA TIMUR pada 6 Agustus 2026.

Bermula dari Pesta Minuman Beralkohol

Koirban menceritakan bahwa dugaan kekerasan seksual tersebut bermula pada 12 Maret 2026 sekitar pukul 20.00 WIB. Saat itu, pelaku menggelar pesta minuman beralkohol bersama sejumlah temannya yang juga warga negara Korea Selatan di restoran yang sedang dalam kondisi tutup. Korban yang saat itu berada di lokasi, dicekoki minuman beralkohol hingga kehilangan kesadaran.

“Itu minum mulai pukul 20.00 WIB malam, sampai dini hari 13 Maret 2026. Saya di resto dicekoki minuman. Setelah selesai minum, saya kehilangan kesadaran,” ujar korban.

Dalam kondisi tidak sadar, korban mengira akan diantar pulang oleh pelaku. Namun, ia justru dibawa menggunakan mobil milik teman pelaku menuju sebuah hotel di wilayah Surabaya Barat. Di lokasi tersebut, korban mengaku mengalami kekerasan seksual disertai ancaman dari pelaku.

“Waktu itu saya sudah gak kuat rasanya mau pingsan. Lalu naik ke atas masuk ke dalam hotel dengan membawa dokumen-dokumennya pelaku. Ternyata di hotel itu gak ada siapa-siapa,” tuturnya.

Korban juga mengaku menerima ancaman akan kehilangan pekerjaan dan gaji. Bahkan, keluarganya turut diancam apabila ia menceritakan kejadian tersebut kepada siapa pun.

“Dia marah mengancam pecat saya, gaji tidak dikeluarkan, keluarga diancam mau dikirimi tukang pukul. Karena kondisi saya di bawah pengaruh alkohol, dia memperkosa saya saat itu,” bebernya.

Keesokan harinya, korban kembali mendapat ancaman agar tidak membocorkan kejadian tersebut, dan dipaksa menerima uang Rp 500 ribu sebelum pulang ke kos.

Kekerasan Disebut Berulang hingga Bulan Juli

Setelah kejadian bulan Maret, korban yang berusia 28 tahun itu mengaku kerap dipanggil ke ruangan pelaku di restoran. Sebagai sekretaris di restoran tersebut, korban menyebut sering terjadi pelecehan di sebuah bilik kamar yang berada di dalam ruangan itu dengan ancaman yang sama.

Pada 21 Mei 2026, pelaku diduga kembali mengancam korban agar mau tinggal di rumahnya di kawasan Wiyung. Di sana, modus yang sama diduga terulang, Korban dicekoki minuman beralkohol dan kembali mengalami kekerasan seksual.

“Modusnya sama, memberi saya banyak minuman beralkohol. Saya ketakutan. Takut keluarga saya dibunuh atau saya yang dibunuh. Karena beberapa kali itu saya ngerasa ada orang yang mengikuti saya. Saya menuruti dia karena di bawah tekanan ancaman,” terangnya.

Dugaan kekerasan kembali terjadi setelah pelaku pulang dari Korea Selatan pada awal Juni 2026. Korban mengaku tetap berada di bawah tekanan dan ancaman sehingga tidak berani meninggalkan pelaku.

Berani Melawan dan Diselamatkan

Puncaknya terjadi pada 27 Juli 2026, ketika korban mulai berani menolak saat pelaku hendak melakukan tindakan serupa. Sehari kemudian, korban kembali dicekoki minuman beralkohol hingga terjadi pertengkaran.

“Lalu tanggal 27 Juli, dia mau melakukan hal yang sama, tapi saya berani melawan, saya tolak. Tanggal 28 saya kembali dicekoki minuman keras. Saya kemudian pura-pura mabuk, saya marah-marah. Akhirnya saya bertengkar sama dia,” ujarnya.

Setelah merasa tidak sanggup, korban akhirnya meminta bantuan kepada manajer restoran melalui telepon. Tiga orang rekan kerja kemudian datang ke rumah pelaku. Mereka meminta kunci kepada ART, yang disebut juga mengalami perlakuan serupa dari pelaku. Kunci tersebut kemudian dilempar ART tersebut melalui jendela.

“Mereka masuk, gedor kamar (pelaku), pelaku keluar dan kayaknya masih mabuk. Terus saya dan ART diambil dan diselamatkan,” tutur korban.

Hingga saat ini, pihak Polrestabes Surabaya dikabarkan sedang menindaklanjuti laporan tersebut dan melakukan penyelidikan lebih lanjut terkait dugaan kekerasan seksual yang melibatkan pemilik restoran warga negara Korea Selatan ini. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Sugiantoro
Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.