Yang Penting Halal! Kisah Dua Penjaga Angkringan Parimono Jombang Melawan Kerasnya Hidup

oleh -67 Dilihat
Penjaga angkringan di kawasan Parimono, Jombang, tetap bertahan bekerja meski hanya menerima upah Rp35 ribu per malam (teguh)
Penjaga angkringan di kawasan Parimono, Jombang, tetap bertahan bekerja meski hanya menerima upah Rp 35 ribu per malam. (teguh)

KabarBaik.co, Jombang – Menjelang senja, ketika langit mulai kehilangan cahaya, Puja Nova Nurmaulidya mendorong sebuah gerobak angkringan menuju tepi Jalan KH Hasyim Asy’ari, Dusun Parimono, Desa Plandi, Kabupaten Jombang.

Jarak yang ditempuh hanya sekitar 20 meter. Tidak jauh. Namun, bagi perempuan berusia 22 tahun itu, gerobak tersebut seolah membawa beban hidup yang jauh lebih berat.

Selepas gerobak tiba di lokasi, Puja mulai menata gelas, menyusun dagangan, menyambut pembeli, mencuci peralatan, hingga membereskan semuanya ketika malam nyaris berganti pagi.

Rutinitas itu dijalaninya hampir setiap hari selama setahun terakhir. Sebagai imbalannya, ia menerima upah Rp 35.000 untuk semalam bekerja.

“Mulai kerja sekitar jam enam petang, selesai sekitar jam satu malam. Jam satu itu pun masih beres-beres buat tutup,” ujar Puja saat ditemui, Sabtu (25/7).

Dalam seminggu, penghasilannya berkisar Rp 200.000 hingga Rp 250.000. Jika dikalkulasi selama sebulan, jumlahnya bahkan belum menyentuh Rp 1 juta.

Uang itu bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Puja juga harus membayar biaya kos Rp 450.000 setiap bulan di Kecamatan Diwek karena pekerjaannya selesai larut malam.

Kampung halamannya di Kecamatan Perak berjarak sekitar 10 kilometer dari tempatnya bekerja.

Sisanya harus cukup untuk makan, transportasi, dan sesekali membantu sang ibu yang bekerja sebagai buruh tani. Agar pengeluaran tidak membengkak, Puja terbiasa menahan lapar.

“Kadang sehari makan satu kali. Kalau masih lapar ya beli mie. Yang penting sehari perut terisi sama nasi,” katanya sambil tersenyum tipis.

Senyum itu tak sepenuhnya mampu menyembunyikan kenyataan hidup yang dijalaninya. Ayahnya telah lama meninggal. Sejak saat itu, Puja memilih berdiri di atas kakinya sendiri.

“Aku enggak mau membebani orang tua. Masa harus minta terus? Yang penting bisa hidup sendiri dari pada minta terus,” ucapnya.

Setiap dua pekan sekali ia pulang menemui ibunya. Namun, perempuan yang melahirkannya itu tak pernah benar-benar tahu bagaimana panjangnya malam yang harus dijalani sang anak demi memperoleh Rp 35.000.

“Ibu tahunya aku kerja. Yang penting aku sehat dan enggak pernah minta uang,” tuturnya.

Belakangan ini, angkringan di kawasan Parimono menjadi perbincangan di media sosial.
Tak sedikit komentar yang menyudutkan para pekerjanya.

Bagi Puja, komentar-komentar itu terasa menyakitkan. Sebab, orang hanya melihat tempatnya bekerja tanpa pernah mengenal cerita hidup orang-orang yang berdiri di balik gerobak angkringan. Ia mengaku sempat diminta pulang oleh kakaknya.

Sudah pulang saja, aku bisa menghidupi kamu, begitu kata kakak,” ujarnya.

Namun Puja memilih bertahan.
Baginya, hidup bukan tentang bergantung kepada orang lain.
Ia percaya setiap orang memiliki harga diri yang harus diperjuangkan.

“Banyak yang keluarganya enggak harmonis. Banyak juga yang ijazahnya cuma SMP bahkan SD. Mau cari kerja di mana? Orang cuma lihat jeleknya saja,” katanya.

Karena itu, ia berharap masyarakat tidak mudah menghakimi.

“Kalau enggak tahu apa yang kita rasakan, jangan menghujat. Di sini orang cuma cari nafkah,” katanya.

Tidak setiap malam angkringan dipenuhi pelanggan apalagi pada saat musim hujan turun, pembeli bisa dihitung dengan jari. Puja pernah melewati malam ketika hanya menjual belasan gelas minuman dengan omzet sekitar Rp 80.000. Meski harus berangkat menerobos hujan hingga pakaian basah kuyup, ia tetap datang bekerja.

“Pernah berangkat kena hujan, baju basah sampai kering sendiri di badan, bahkan pulang masih basah,” kenangnya.

Ia bersyukur pemilik angkringan tetap membayar upah hariannya meski penjualan sedang sepi. Sebelum bekerja di sana, Puja pernah menjadi penjaga stan minuman es teh dengan gaji sekitar Rp 750.000 per bulan.

Ia juga telah berkali-kali melamar pekerjaan ke berbagai pabrik di Jombang. Hingga kini, belum satu pun panggilan datang.

“Kalau ada kerja yang lebih baik ya mau. Tapi sudah ngelamar ke pabrik-pabrik, belum pernah dipanggil,” katanya.

Sambil menunggu kesempatan itu datang, ia memilih tetap bekerja.

“Yang penting saya bisa kerja,” ujarnya.

Harapan yang sama juga disimpan Anggun Gisella Gitafreya atau Gita. Perempuan 20 tahun asal Kecamatan Gudo itu bekerja di angkringan yang sama. Ia datang pukul 19.00 WIB dan pulang sekitar pukul 01.00 dini hari. Setiap malam ia menerima upah antara Rp 45.000 hingga Rp 60.000, bergantung pada target penjualan.

Jika sedang ramai, penghasilannya dalam sebulan bisa mencapai lebih dari Rp 2 juta. Namun, kehidupan Gita juga jauh dari kata mudah.

Ia hanya memiliki ijazah SD setelah putus sekolah saat duduk di bangku MTs akibat persoalan keluarga. Kini ia tinggal bersama neneknya setelah berpisah dengan kedua orang tuanya.

“Sekarang tinggal sama nenek,” ujarnya.

Sebelum bekerja di Jombang, Gita pernah menjaga warung kopi di Surabaya selama dua tahun. Baginya, bekerja di Jombang terasa lebih nyaman.

“Kalau di Surabaya pergaulannya terlalu bebas. Di sini masih tahu aturan,” katanya.

Meski merasa nyaman, ia tetap berharap suatu hari memperoleh pekerjaan yang lebih baik. Seperti Puja, Gita juga sedih melihat banyak orang memberi cap buruk kepada para pekerja angkringan.

“Kadang agak terganggu. Aku di sini kan cuma kerja, kok jadi omongan orang di luar sana,” katanya.

Menurutnya, sebagian besar pelanggan datang hanya untuk menikmati kopi, mengobrol, lalu pulang.

“Untungnya di sini enggak pernah ada yang aneh-aneh. Orang datang ya ngopi, bayar, terus pulang,” bebernya.

Di tengah berbagai penilaian itu, ada satu kalimat sederhana dari neneknya yang selalu ia ingat.

“Yang penting halal. Enggak nyuri,” tegasnya.

Kalimat itu menjadi alasan mengapa Gita tetap bertahan.
Di balik riuhnya percakapan di angkringan setiap malam, sesungguhnya ada anak-anak muda yang sedang berjuang mempertahankan hidup.
Mereka mungkin hanya terlihat menyajikan kopi dan minuman hangat.

Namun di balik setiap gelas yang disodorkan kepada pelanggan, tersimpan cerita tentang kehilangan, keterbatasan, harga diri, dan harapan yang belum mereka lepaskan.

Mereka tidak sedang mencari belas kasihan hanya ingin diberi kesempatan untuk bekerja dan dihargai sebagai manusia yang tengah berjuang mencari nafkah dengan cara yang halal.

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Teguh Setiawan
Editor: Gagah Saputra


No More Posts Available.

No more pages to load.