KabarBaik.co, Jombang — Sebanyak 200 unit becak listrik gratis telah disalurkan kepada tukang becak di Kabupaten Jombang. Armada tersebut kini disiapkan untuk mendukung mobilitas peserta selama pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU).
Konsolidasi penerima bantuan sekaligus pengecekan kesiapan armada dan pengemudi digelar di Gedung Serba Guna (GSG) Pondok Pesantren Bahrul Ulum (PPBU) Tambakberas, Jombang.
Setiap becak listrik memiliki nilai sekitar Rp 22 juta. Kendaraan tersebut diberikan kepada pengemudi becak manual yang telah melalui proses verifikasi di lapangan.
Selain membantu meningkatkan produktivitas ekonomi penerima, becak listrik itu akan digunakan sebagai transportasi ramah lingkungan selama rangkaian Muktamar NU.
Seksi Transportasi Panitia Daerah Muktamar NU sekaligus Ketua Asosiasi Becak Cas (ABC) Jombang, Abdul Hamid Hamdah, memastikan seluruh armada siap dioperasikan.
Becak listrik akan melayani mobilitas kiai, masyayikh, dan muktamirin, terutama dari lokasi registrasi menuju tower penginapan hingga arena persidangan.
“Layanan transportasi ini gratis bagi peserta yang memiliki ID card. Becak listrik ini sangat membantu mobilisasi karena arena utama muktamar steril dari kendaraan bermotor,” ujar Abdul Hamid dalam keterangan yang diterima, Sabtu (15/8).
Untuk menghindari kepadatan dan menjaga keamanan, operasional becak listrik akan mengikuti rute yang telah ditentukan panitia. Para pengemudi juga dibekali kartu identitas resmi serta pelatihan mengemudi.
Abdul Hamid mengingatkan penerima agar memanfaatkan bantuan tersebut untuk menunjang pekerjaan. Becak listrik juga dilarang dialihkan kepemilikannya maupun diperjualbelikan.
Ketua Majelis Pengasuh PPBU Tambakberas, KH Hasib Wahab Chasbullah atau Gus Hasib, mengapresiasi bantuan tersebut. Menurutnya, keberadaan becak listrik menjadi salah satu bentuk dukungan terhadap kelancaran Muktamar NU sekaligus membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Becak listrik ini sangat sesuai dengan kondisi kawasan pesantren yang akses jalannya relatif terbatas. Kalau pakai mobil justru mengganggu,” kata Gus Hasib.
Ia menyebut jarak antarlokasi kegiatan di kawasan pesantren hanya sekitar 300 meter. Karena itu, becak listrik dinilai menjadi pilihan efektif untuk melayani mobilitas para kiai dan peserta muktamar.
Manfaat bantuan tersebut turut dirasakan Jamil, 70, tukang becak asal Dusun Kauman, Desa Ngoro, Jombang. Selama ini, Jamil masih mengandalkan becak manual untuk mencari penghasilan.
Ia bersyukur mendapat becak listrik karena kendaraan tersebut dinilai dapat mengurangi beban fisik saat bekerja.
“Alhamdulillah dapat becak listrik. Ini sangat membantu saya yang sudah tua, apalagi nanti bisa ikut membantu mengantar tamu-tamu muktamar,” ungkapnya.








