KabarBaik.co – Setiap tanggal 28 Juli, masyarakat dunia memperingati Hari Hepatitis Sedunia (World Hepatitis Day) sebagai momentum untuk meningkatkan kesadaran akan bahaya hepatitis, mendorong deteksi dini, memperluas akses pengobatan, serta memperkuat upaya pencegahan penyakit yang masih menjadi ancaman kesehatan global.
Peringatan ini diinisiasi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan diperingati setiap tahun di berbagai negara. Tanggal 28 Juli dipilih untuk menghormati hari kelahiran Dr. Baruch Samuel Blumberg, ilmuwan peraih Nobel yang berhasil menemukan virus hepatitis B (HBV) serta mengembangkan tes diagnostik dan vaksin hepatitis B. Penemuannya menjadi tonggak penting dalam upaya pengendalian penyakit hepatitis di seluruh dunia.
Secara historis, Hari Hepatitis Sedunia pertama kali diperingati oleh komunitas pasien pada 19 Mei. Namun, melalui resolusi World Health Assembly (WHA) ke-63 pada tahun 2010, WHO menetapkan 28 Juli sebagai Hari Hepatitis Sedunia yang resmi diperingati secara global mulai tahun berikutnya. Penetapan tersebut bertujuan memperkuat komitmen internasional dalam pencegahan, diagnosis, dan penanganan hepatitis virus.
Hepatitis merupakan peradangan pada organ hati yang dapat disebabkan oleh virus hepatitis tipe A, B, C, D, dan E. Di antara kelima jenis tersebut, hepatitis B dan C menjadi perhatian utama karena dapat berkembang menjadi infeksi kronis, memicu sirosis hati hingga kanker hati apabila tidak ditangani sejak dini. Ironisnya, banyak penderita tidak menyadari telah terinfeksi karena penyakit ini sering kali tidak menunjukkan gejala pada tahap awal sehingga kerap dijuluki sebagai “silent killer”.
Melalui peringatan Hari Hepatitis Sedunia, WHO terus mengajak masyarakat untuk meningkatkan kesadaran melakukan vaksinasi hepatitis B, menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, menghindari penggunaan jarum suntik secara bergantian, memastikan transfusi darah yang aman, serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala bagi kelompok yang berisiko. (*)








