KabarBaik.co, Nganjuk – Suasana khidmat dan penuh persiapan menyelimuti Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Hok Yoe Kiong Sukomoro, Nganjuk. Kelenteng bersejarah ini tengah bersiap menjadi persinggahan penting bagi 58 biksu yang sedang melakoni perjalanan spiritual Indonesian Walk For Peace 2026.
Para biksu yang berasal dari Indonesia, Thailand, Laos, dan Malaysia tersebut berjalan kaki dari Bali dengan tujuan akhir Candi Borobudur.
“Hari ini padat, kita siapkan sarana prasarana, kursi-kursi, terop-terop, banner-banner, terutama juga koordinasi sama Pemda,” kata Ketua Panitia Indonesian Walk For Peace 2026 Nganjuk, Roy Sugiarto, saat menjelaskan kesibukan panitia lokal, Selasa (19/5).
Menjelang kedatangan rombongan yang dijadwalkan menginjakkan kaki di Bumi Anjuk Ladang pada Rabu (20/5) sore, panitia terus mematangkan rute.
Berdasarkan jadwal, sebelum memasuki wilayah Sukomoro, rombongan biksu terlebih dahulu bermalam di Kelenteng Gudo, Jombang, dan akan melanjutkan perjalanan ke Nganjuk pada Rabu pagi.
“Kertosono rencana akan dipakai untuk tempat pemberhentian makan siang sekaligus istirahat para biksu. Kita maksimalkan di sana,” ujar Roy, menambahkan bahwa titik transit tersebut disiapkan secara optimal agar para biksu bisa memulihkan stamina.
Setelah melepas lelah di Kertosono, rombongan akan melanjutkan long march menuju Kelenteng Sukomoro dan diperkirakan tiba sekitar pukul 16.30 WIB.
Setiba di lokasi, sebuah prosesi sakral berupa ritual membasuh kaki biksu serta pemberkatan kepada umat Buddha dan Tri Dharma setempat akan langsung digelar, sebelum para biksu menginap semalam di kelenteng ini.
“Besok pada hari Kamis kurang lebih sekitar pukul 07.30 WIB kita akan meluncur menuju Pendopo Kabupaten Nganjuk, nanti akan ada penyambutan sekaligus pelepasan oleh Forkopimda,” jelas Roy mengenai agenda sebelum rombongan bertolak menuju Saradan, Madiun.
Di luar dimensi spiritualnya, aksi jalan kaki lintas provinsi ini mengemban misi kemanusiaan yang mendalam sebagai simbol kampanye perdamaian global.
Melalui langkah kaki para biksu, ada pesan kuat tentang indahnya persatuan di dalam ruang keberagaman, sekaligus menjadi momen penting bagi masyarakat untuk memetik nilai toleransi yang nyata. (*)







