KabarBaik.co- Pelarian panjang Zuleam Costinel Cosmin, 33, akhirnya terhenti di Bali. Dia adalah buronan internasional. Tersangka utama atas kasus pembunuhan sadis seorang pengusaha kaya di Kota Sibiu, Rumania, pada tahun 2023 silam.
Penangkapan Zuleam dilakukan di kawasan Kerobokan, Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung, pada Kamis (15/1). Tersangka diringkus oleh tim gabungan Divisi Hubungan Internasional (Divhubinter) Polri melalui Set NCB Interpol Indonesia dengan jajaran Polda Bali.
“Tersangka atas nama Zuleam Costinel Cosmin telah berhasil ditangkap pada 15 Januari 2026 di wilayah Kerobokan. Saat ini dilakukan penitipan penahanan pada Ditreskrimum Polda Bali sampai dengan proses penyerahan kepada NCB Bucharest,” kata Kabid Humas Polda Bali Kombes Pol Ariasandy kepada awak media, Jumat (16/1).
Penangkapan tersebut berdasarkan Interpol Red Notice. Pihaknya mengaku mendapatkan informasi dari beberapa negara anggota Interpol mengenai pelarian tersangka ke wilayah Bali. “Kegiatan dilaksanakan berdasarkan informasi yang dikirimkan oleh beberapa negara anggota Interpol, di antaranya NCB Bucharest, NCB Tashkent, NCB Brussels, dan lainnya melalui surat permohonan resmi,” ujarnya.
Detik-detik Perampokan Maut
Dihimpun dari berbagai media setempat, malam itu, 6 November 2023, di sebuah kawasan elit Sibiu, vila mewah milik pengusaha Adrian Kreiner tampak tenang seperti biasa. Namun, ketenangan itu hanya ”topeng” karena di balik kegelapan, tiga sosok bersenjata rapi sedang menunggu saat yang tepat.
Sekitar pukul 02.36 dini hari, ketiga pelaku, yakni Zuleam Costinel Cosmin, Laurențiu Ghița, dan Marian Cristian Minae, datang ke TKP mengenakan cagule dan sarung tangan. Mereka menyusup ke area belakang rumah, memanfaatkan celah yang mereka temukan saat pengintaian. Sensor gerak pagar yang tidak aktif, dan pengawasan yang longgar.
Dengan langkah cepat dan dingin, mereka masuk ke dalam rumah. Di dalam, hanya ada tiga orang: Adrian Kreiner, anak perempuannya, dan pasangannya. Dalam hitungan menit, rumah yang biasanya penuh kenyamanan berubah menjadi arena teror.
Para pelaku langsung menguasai ruang tamu. Mereka mengikat tangan dan kaki Kreiner, lalu mulai memukulinya dengan kejam. Pukulan bertubi-tubi mengenai kepala dan tubuh korban. .Semua dilakukan dengan satu tujuan, memaksa korban mengungkap tempat menyimpan barang berharga.
Suara benturan dan teriakan mengisi rumah. Anak perempuan Kreiner yang berada di lantai atas pun turun untuk melihat apa yang terjadi. Ia melihat salah satu pelaku dan panik, lalu berlari kembali ke kamar untuk menyembunyikan diri. Dalam kepanikan itu, ia berhasil menekan nomor darurat.
Tapi suara panggilan itu bukan membuat pelaku berhenti. Malah memicu ancaman baru. Dua pelaku kemudian mengejar dan mengintimidasi anak korban, mencoba menghentikan upaya penyelamatan.
Sementara itu, kekerasan terhadap Kreiner terus berlangsung. Tubuhnya dipaksa menyerah, tetapi luka demi luka telah menembus batas ketahanan. Setelah beberapa saat, para pelaku akhirnya mengalihkan perhatian mereka ke target utama. Yakni, barang berharga.
Mereka mengambil 16 jam tangan mewah yang tersimpan di rumah, senilai lebih dari 200.000 Euro atau setara Rp 3,8 miliar. Jam-jam tangan itu bukan hanya barang, tetapi simbol kekayaan yang menjadi alasan tragedi ini terjadi. Selain itu, pelaku juga mengambil sejumlah kecil uang tunai dari dompet anak korban.
Setelah mengambil barang rampasan, ketiganya melarikan diri dari vila, meninggalkan Kreiner dalam kondisi kritis. Korban sempat dilarikan ke rumah sakit, namun luka parah yang dideritanya tak tertolong. Beberapa jam kemudian, Adrian Kreiner meninggal dunia.
Dua rekan Zuleam, yakni Laurențiu Ghița dan Marian Cristian Minae, sudah ditangkap sebelumnya di Irlandia dan Skotlandia dan dijatuhi hukuman penjara seumur hidup. Beberapa sumber berita Eropa menyebutkan, Zuleam telah dihukum 30 tahun penjara secara in absentia (pengadilan memutuskan saat ia masih buron). (*)








