KabarBaik.co, Jombang– Keluhan warga Dusun Balongampel, Desa Sepanyul, Gudo, Jombang soal bau menyengat dan serbuan ribuan lalat akhirnya menemukan titik terang.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jombang memastikan sumber masalah berasal dari aktivitas kandang ayam pasca-panen.
Masalah ini sebelumnya dikeluhkan warga karena dianggap mengganggu aktivitas sehari-hari. Lalat yang beterbangan kerap menghinggapi makanan, sementara bau tak sedap membuat warga kesulitan beristirahat dengan nyaman.
Menindaklanjuti laporan tersebut, tim DLH Jombang turun langsung ke lokasi untuk melakukan verifikasi lapangan. Dalam kunjungan itu, tim didampingi Kepala Desa Sepanyul, Dedy Anugrah Dwi P., dan bertemu dengan pemilik kandang ayam, Sugeng.
Hasil peninjauan menunjukkan bahwa persoalan utama berasal dari pengelolaan kandang pasca-panen yang belum optimal, terutama terkait limbah dan pengendalian lalat.
DLH pun memberikan sejumlah instruksi tegas kepada pemilik usaha. Pertama, melakukan penyemprotan pembasmi lalat secara rutin menggunakan bahan yang efektif, bukan sekadar air. Kedua, segera membersihkan kotoran ayam setelah masa panen tanpa penundaan.
Selain itu, DLH menegaskan akan terus melakukan pengawasan terhadap proses pembersihan guna memastikan kondisi lingkungan kembali kondusif dan tidak merugikan warga.
Pemilik kandang, Sugeng, menyatakan kesediaannya untuk mengikuti arahan tersebut demi kenyamanan masyarakat sekitar.
Kepala Desa Sepanyul, Dedy Anugrah, mengapresiasi langkah cepat DLH dalam merespons keluhan warganya. Ia membenarkan bahwa sumber bau dan lalat berasal dari kandang ayam di wilayah utara desa yang sebelumnya sempat dihentikan operasionalnya, namun kini kembali beroperasi.
“Saya ucapkan terima kasih kepada DLH yang sudah turun langsung. Hari ini sudah diberikan arahan kepada pemilik agar melakukan perawatan lebih maksimal,” ujar Dedy, Jum’at (17/4).
Tak hanya soal kebersihan, pihak desa juga menyoroti aspek tanggung jawab sosial pemilik usaha terhadap warga terdampak, khususnya di Dusun Balongampel dan Balongading.
Dedy berharap mekanisme kompensasi berupa daging ayam dapat diperbaiki. Ia meminta agar pembagian dilakukan langsung kepada warga atau melalui Ketua RT, bukan warga yang harus datang ke kandang.
“Itu sebagai bentuk empati kepada masyarakat yang terdampak,” tegasnya.
Saat ini, warga dan pemerintah desa menunggu realisasi komitmen pemilik kandang dalam memperbaiki manajemen lingkungan. Mereka berharap kejadian serupa tidak kembali terulang pada periode pemeliharaan berikutnya. (*)








