KabarBaik.co – di musim penghujan ini Pemkab Bojonegoro menekankan perlunya adanya operasi pasar dan Gerakan Pangan Murah (GPM) yang digelar lebih rutin dan merata di berbagai wilayah. Langkah ini diambil untuk mengendalikan harga pangan di Bojonegoro.
Menurut Sukaemi, selaku Staf Ahli Bupati Bojonegoro menilai konsistensi pelaksanaan operasi pasar dan GPM menjadi kunci dalam menahan laju kenaikan harga sejumlah komoditas, terutama beras, cabai, dan bawang yang saat ini berfluktuasi.
Pemkab juga meminta Dinas Perdagangan, Koperasi, dan Usaha Mikro bersama Bulog untuk memperketat pengawasan terhadap distributor dan pengecer. Langkah ini diambil menyusul adanya indikasi bahwa pasokan beras Stabilisasi dan Harga Pangan (SPHP) tidak sepenuhnya sampai ke masyarakat.
“Pengawasan perlu diperketat agar tidak terjadi penimbunan. Jika ada kendala, segera dikoordinasikan,” tegas Sukaemi, Selasa (18/11).
Ia menyoroti lonjakan harga cabai rawit merah dan bawang merah yang dipicu cuaca, turunnya produksi, serta tingginya permintaan dari luar daerah. Pemerintah membuka opsi pemanfaatan cabai kering sebagai alternatif bila pasokan cabai segar tersendat.
Di sisi data, Pemkab meminta perbaikan basis data pedagang dalam sistem SP2KP lantaran masih ditemukan pedagang tidak aktif yang tercatat sebagai sampel. Validitas data dipandang penting untuk memastikan kebijakan pengendalian harga tepat sasaran.
“penguatan koordinasi lintas OPD perlu dilakukan untuk mempercepat implementasi langkah teknis pengendalian inflasi,” Tambah Sukaemi.
Dengan peningkatan pengawasan dan koordinasi, Pemkab Bojonegoro berharap stabilitas harga pangan dapat terjaga sehingga masyarakat tetap memperoleh kebutuhan pokok dengan harga yang terjangkau.
Perlu diketahui, untuk harga cabai merah besar di pasar wisata kota Bojonegoro tercatat Rp 50 Ribu, cabai rawit Rp 35 ribu sedangkan cabai kriting Rp 50 Ribu. Sementara harga beras Premium Rp 14.900 dan untuk beras medium Rp 12.500. (*)






