DI ndalem sederhana di Pondok Pesantren (Ponpes0 Mamba’ul Ma’arif Denanyar, Jombang, KH Abdussalam Shohib duduk bersila. Kemeja putih dipadu sarung membungkus sosoknya yang tenang. Suara santri mengaji samar terdengar dari masjid, bercampur angin malam yang membawa aroma tanah basah setelah hujan.
Di sini, jauh dari hiruk-pikuk ibu kota, hidup seorang kiai muda yang kini muncul sebagai salah seorang figur autentik di bursa calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menjelang Muktamar ke-35 yang rencananya dihelat awal Agustus mendatang.
Gus Salam, sapaan akrabnya, adalah cucu langsung KH Bisri Syansuri, salah satu pendiri NU yang pada 1917 merintis pesantren pertama di Denanyar bersama Bu Nyai Nur Khodijah. Ponpes Mamba’ul Ma’arif berdiri sebagai saksi sejarah Islam Nusantara, pesantren salaf klasik yang hingga kini tetap teguh menjaga Ahlussunnah wal Jamaah (Aswja), fiqih, tasawuf, dan adab pesantren.
Sebagai pengasuh aktif, Gus Salam setiap hari masih terlibat langsung—mendidik santri, hingga memastikan tradisi hidup di tengah derasnya arus zaman. Ini bukan sekadar simbol, melainkan fondasi hidup yang memberinya legitimasi kultural mendalam di kalangan masyayikh dan nahdliyin akar rumput.
Pengalaman organisatorisnya teruji panjang. Kiprahnya di NU dimulai sejak 2002 di Lembaga Bahtsul Masail (LBM) NU Kediri, kemudian Jombang, naik ke Syuriyah PCNU Jombang (2012), menjadi Katib PBNU era KH Said Aqil Siroj (2015), Wakil Ketua PWNU Jatim (2018), hingga sempat menjabat Wasekjen PBNU.
Meski pernah menghadapi dinamika internal, Gus Salam terus fokus ke pesantren. Sebuah sikap tawadu yang justru memperkuat citranya sebagai kiai yang konsisten dan berintegritas. Kini, ia pun dilaporkan aktif melakukan silaturahmi dan sowan ke kiai sepuh di Jawa Timur, Jawa Tengah, serta menjalin komunikasi dengan PCNU, PWNU, sambil tidak meninggalkan basis muda NU seperti PMII dan lainnya.
Banyak kalangan menilai, alasan kuat yang membuat Gus Salam layak memimpin PBNU sangat jelas terpancar dari sosok dan rekam jejaknya. Pertama, mewarisi legitimasi dzurriyah sebagai cucu pendiri NU, yang memberikan otoritas moral dan historis tak tergantikan, Terlebih, ia juga memiliki garis keturunan dengan Syaikhona Cholil. Masa kecilnya juga dihabiskan di Bangkalan. Sesuatu yang tidak dimiliki dan sulit dibangun figur lain.
Kedua, Gus Salam mewakili regenerasi bijak. Sosok kiai muda yang progresif, mendorong santri terlibat di ruang-ruang publik, ekonomi keumatan, dakwah kontekstual, dan adaptasi digital, namun tetap berpijak kuat pada kitab kuning, adab pesantren, dan fiqih sosial Aswaja.
Ketiga, di tengah dinamika internal PBNU belakangan, Gus Salam bisa menjadi figur rekonsiliasi yang fokus mengembalikan marwah jam’iyah ke khittah 1926. Yakni, khidmah sosial dan pendidikan umat, bukan politik berlebih.
Pernyataannya di Halalbihalal IKA PMII Jombang pada 13 April 2026 bahwa “saya diperintah para kiai untuk berikhtiar” dan “ini soal niat, menata niat” mencerminkan sikap sam’an wa tho’atan yang khas pesantren, bukan merupakan ambisi pribadi.
Bagi yang menganggapnya “belum tokoh nasional”, narasi ini justru terbantah oleh sejarah dan realitas NU sendiri. Nasionalitas sejati di jam’iyah ini lahir dari basis yang kuat. Bukan dari frekuensi muncul di panggung Jakarta. KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) terpilih sebagai Ketum PBNU tahun 1984 ketika basis utamanya masih sangat kuat di Pesantren Tebuireng dan garis keluarga Denanyar. Gus Dur baru benar-benar menasional setelah memimpin. Begitu pula KH Wahid Hasyim yang memodernisasi pesantren dari akar lokal sebelum menjadi figur nasional pasca-kemerdekaan.
Gus Salam sudah melampaui lingkup Jombang, salah satu daerah yang begitu relate dengan persebaran Islam di Nusantara. Pengalaman di level PBNU, PWNU Jatim, serta ikatan kultural ke berbagai pesanten menunjukkan Gus Salam menebar jala pengaruh nasional melalui cara khas NU. Dari bawah ke atas, melalui khidmah, silaturahmi, musyawarah. Kekuatan di basis pesantren justru menjadi modal paling ampuh untuk menyatukan jutaan nahdliyin dari Sabang sampai Merauke, karena otoritas kulturalnya autentik dan sulit goyah.
Di tengah tantangan abad kedua NU — disrupsi digital, demografi Gen Z yang mayoritas, serta kebutuhan rekonsiliasi — Gus Salam hadir sebagai opsi figur hibriditas yang seimbang. Sosoknya yang sederhana, dekat dengan santri, dan berani mengambil ikhtiar karena perintah para kiai membuatnya terlihat sebagai penyejuk yang dibutuhkan.
Dari ndalem Denanyar yang tenang, rutinitas pesantren berjalan tenang seperti biasa. Kitab kuning dibaca, adab diajarkan, dan khidmah terus dilakukan. Itulah fondasi kokoh yang membuatnya la sebagai figur yang layak memimpin PBNU. Seorang kiai muda yang kuat di akar tradisi, adaptif terhadap zaman, dan siap menyatukan kembali energi jam’iyah demi kebesaran umat dan bangsa.
Muktamar ke-35 akan menjadi panggung penentu. Namun dari suasana Denanyar yang penuh ketenangan dan kedalaman, sudah terasa jelas bahwa ada sosok yang siap membawa NU kembali ke esensi khidmahnya, dengan cara paling otentik dan penuh kearifan. Kendati demikian, tentu semuanya berpulang pada para muktamirin. Yang pasti, dalam sejarahnya NU tidak kesulitan menemukan tokoh pada setiap zaman untuk mengawal NKRI. (*)







