Dari Drum Bekas Jadi Jidor Sahur, Perajin di Jombang Ini Raup Puluhan Juta Saat Ramadan

oleh -64 Dilihat
WhatsApp Image 2026 03 04 at 11.43.57 AM
Jidor berbahan drum bekas karya Ardani warga Plemahan, Sumobito, Jombang (ist)

KabarBaik.co, Jombang – Dentuman jidor terdengar bersahut-sahutan dari sebuah sudut Desa Plemahan, Sumobito, Jombang, menjelang sore. Suara khas yang identik dengan Ramadan itu lahir dari bengkel sederhana milik Ardani.

Dalam dua tahun terakhir, pria tersebut menekuni pembuatan jidor berbahan dasar drum bekas. Tumpukan drum logam yang semula tak terpakai, di tangannya berubah menjadi alat musik tabuh bernilai jual tinggi, terutama saat bulan suci tiba.

Ide memanfaatkan drum bekas muncul dari kepekaannya melihat peluang. Banyaknya drum terbengkalai mendorongnya berkreasi.

Berbekal tutorial dari media sosial dan belajar secara otodidak, ia mulai mencoba mengolahnya menjadi jidor alat musik tradisional yang kerap digunakan untuk membangunkan sahur maupun memeriahkan Idul Fitri.

“Awalnya coba-coba belajar sendiri. Saya lihat drum ini masih bagus kalau dimanfaatkan. Ternyata setelah jadi, banyak yang minat,” ujar Ardani, Rabu (4/3).

Proses pembuatan jidor terlihat sederhana, tetapi membutuhkan ketelitian agar menghasilkan suara yang nyaring dan mantap.

Setelah drum dibersihkan dan dipotong sesuai ukuran, bagian atasnya dipasangi kulit kambing jantan sebagai membran.

Kulit jenis ini dipilih karena teksturnya lebih tebal dan kuat, sehingga mampu menghasilkan resonansi suara yang lebih dalam sekaligus tahan lama.

Tahap pemasangan kulit hingga pengencangan tali menjadi bagian paling krusial. Di sinilah kualitas bunyi ditentukan.

Dalam sehari, Ardani mampu menyelesaikan hingga lima unit jidor. Namun, jumlah tersebut bergantung pada cuaca dan ketersediaan tenaga bantuan. Saat cuaca cerah, proses pengeringan kulit berlangsung lebih cepat sehingga produksi bisa lebih optimal.

Memasuki Ramadan, suasana bengkel Ardani jauh lebih sibuk. Pesanan berdatangan tidak hanya dari wilayah Jombang, tetapi juga dari Sidoarjo, Surabaya, hingga sejumlah daerah di Jawa Tengah.

Harga jidor yang ditawarkan bervariasi, tergantung ukuran dan model. Untuk tipe satu sisi, dijual sekitar Rp 900.000. Model dua sisi dibanderol Rp 1,8 juta, sementara versi lengkap bisa mencapai Rp 2 juta per unit.

Momentum Ramadan menjadi masa panen baginya. Dalam satu musim produksi, omzet yang dikumpulkan bisa menembus Rp 30 juta hingga Rp 35 juta. Pendapatan tersebut menjadi penopang utama ekonomi keluarganya dalam setahun.

“Alhamdulillah, kalau Ramadan memang paling ramai. Bisa sampai tiga puluh jutaan lebih,” katanya.

Bagi Ardani, dentuman jidor bukan sekadar penanda waktu sahur. Di balik setiap tabuhan, ada ketekunan, kreativitas, dan keberanian mengubah limbah menjadi berkah.

“Membuatnya harus sabar, tekun, dan berani berinovasi dari bahan limbah jadi barang berharga dan berkualitas,” pungkasnya. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Teguh Setiawan
Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.