Digugat Soal Dugaan Penelantaran Anak, Denada Minta Privasinya Dihormati

oleh -90 Dilihat
IMG 20260110 WA0000
Denada (Instagram Denada)

KabarBaik.co Denada Elizabeth Anggia Ayu Tambunan akhirnya buka suara soal kasus gugatan terhadap dirinya di Pengadilan Negeri Banyuwangi terkait dugaan penelantaran anak kandung.

Melalui manajernya, Risna Oriens pihak Denada menyebut bahwa kasus itu adalah ranah keluarga. Oleh karenanya Denada meminta publik menghormati privasinya.

“Sangat prihatin atas isu publik yang berkembang, yang sebenarnya ini adalah ranah keluarga, karena bagaimana pun juga semua keluarga memiliki privasi, setiap keluarga punya cerita,” tulis pihak Denada melalui keterangan tertulis.

Dalam keterangan itu disebutkan bila situasi ini bukan hal mudah bagi Denada. Oleh karenanya Denada masih perlu waktu dan memasrahkan seluruh proses hukum yang bergulir ke kuasa hukumnya.

“Untuk menjaga ketenangan dan kejelasan informasi, kami mohon pengertian agar diberikan ruang dan waktu bagi Denada untuk menelaah perkara ini secara proporsional dan tetap mempertimbangkan kebaikan semua pihak,” tandasnya.

Sebelumnya Penyanyi Denada Elizabeth Anggia Ayu Tambunan digugat ke Pengadilan Negeri Banyuwangi terkait dugaan penelantaran. Penggugat bernama Ressa Rizky Rossano, pemuda berusia 24 tahun yang mengaku sebagai anak biologis Denada.

Kuasa hukum Ressa, Moh Firdaus Yuliantono mengatakan gugatan telah resmi diajukan ke Pengadilan Negeri Banyuwangi. Gugatan tersebut berisi dugaan melakukan perbuatan melawan hukum karena menelantarkan anak kandung.

Firdaus mengaku, pihaknya telah mengantongi beberapa bukti yang menyatakan bahwa Ressa adalah anak kandung Denada. Namun, bukti itu baru akan dibuka dalam pengadilan.

“Saat ini masih dalam tahap mediasi (di Pengadilan). Pada masa mediasi, pokok perkara belum bisa dibuka secara detail. Namun secara umum, gugatan tersebut adalah perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh Denada sebagai ibu penggugat. Bentuk perbuatan melawan hukumnya adalah tidak menjalankan kewajiban selayaknya seorang ibu,” kata Firdaus.

Firdaus menjelaskan Ressa baru mengetahui sebagai anak kandung Denada setelah lulus sekolah menengah atas (SMA) beberapa tahun silam.
Sebelumnya, Ressa hanya tahu bahwa ia adalah anak dari bibi Denada yang ada di Banyuwangi. Bersama bibi Denada itulah Ressa hidup dan tinggal selama ini.

“Dia (Ressa) sering mendengar selentingan bahwa dirinya bukan anak bibinya Denada, melainkan anak Denada. Hal itu baru ia ketahui secara pasti setelah lulus SMA, ketika diberi tahu oleh seseorang yang sangat ia percayai,” ujar Firdaus.

Setelah menerima informasi itu, Ressa telah beberapa kali menanyakan secara langsung dan meminta jawaban kepada Denada. Namun, menurut dia, Denada tak pernah memberi jawaban yang seperti Ressa harapkan.

“Ketika ia menanyakan langsung kepada Denada, hal tersebut tidak diakui. Denada tetap mengatakan bahwa ia (Ressa) adalah adiknya, bukan anaknya,” sambung Firdaus.

Selama ini, Ressa dibesarkan oleh keluarga besar Denada di Banyuwangi. Menurut Firdaus, kebutuhan hidup Ressa selama ini dipenuhi oleh keluarga besar Denada, terutama almarhumah Emilia Contessa yang merupakan ibu Denada.

“Setelah Bu Emilia meninggal dunia, kondisi ekonomi keluarga memburuk dan tidak ada pemasukan sama sekali. Akhirnya, anak tersebut mencoba menuntut Denada,” tutur Firdaus.

Oleh karenanya dalam gugatan itu, Ressa juga menyampaikan permintaan ganti rugi yang nilainya mencapai miliaran rupiah. Nominal itu dihitung berdasarkan biaya pendidikan sejak SD hingga SMA dan biaya hidup.

“Semua biaya tersebut dimintakan kepada Denada untuk diganti dan diajukan kepada majelis hakim,” tutur dia.

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Ikhwan
Editor: Gagah Saputra


No More Posts Available.

No more pages to load.