Greg Barton Bicara Masa Depan NU di Muktamar Jombang, Kembali ke Khittah

oleh -86 Dilihat
Akademisi Australia sekaligus pengamat NU Greg Barton saat memberikan keterangan (istimewa)
Akademisi Australia sekaligus pengamat NU Greg Barton saat memberikan keterangan (istimewa)

KabarBaik.co, Jombang – Akademisi asal Australia sekaligus pengamat Nahdlatul Ulama (NU), Greg Barton, menyebut NU sedang berada pada fase penting dalam menentukan arah organisasi.

Ia berharap NU tetap berpegang pada khittah serta memperkuat gagasan kemanusiaan yang selama ini menjadi bagian penting dari pemikiran KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Greg menyebut NU seperti halnya Indonesia, selalu menghadapi pilihan dan persimpangan dalam perjalanan. Menurutnya, kondisi tersebut kembali terjadi dalam tubuh NU saat ini.

“NU, ya sama dengan Negara Republik Indonesia, seolah selalu menghadapi pilihan, selalu menghadapi persimpangan jalan. Ini memang salah satu saat ketika NU menghadapi pilihan,” kata Greg, Sabtu (29/8).

Ia menilai NU memiliki peluang untuk mengambil arah yang lebih progresif dengan memperkuat peran generasi muda. Mereka perlu dipersiapkan untuk menghadapi tantangan masa depan yang semakin kompleks.

Sejumlah persoalan seperti perubahan iklim, perkembangan teknologi, kecerdasan buatan (AI), pendidikan, pengangguran, hingga ekonomi dinilai perlu menjadi perhatian NU.

Di tengah dinamika Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Greg juga mengingatkan agar NU tidak terlalu larut dalam kepentingan politik praktis maupun kepentingan partai politik.

Ia berharap NU kembali meneguhkan khittah dan visi awal organisasi, terutama dalam menjalankan peran kemanusiaan serta membela kelompok masyarakat yang tertindas.

“Harapan saya jelas, bahwa akan memilih untuk fokus pada khittah yang asli, fokus pada visi yang asli,” ujarnya.

Greg yang dikenal sebagai penulis buku biografi Gus Dur, The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid, mengaku masih mengagumi pemikiran Gus Dur, khususnya mengenai Islam kemanusiaan.

Menurutnya, gagasan tersebut tetap relevan untuk menjawab berbagai persoalan masyarakat saat ini.

Ia juga menilai kepemimpinan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) telah berupaya membawa gagasan tersebut ke dalam gerakan NU.

“Dulu saya melihat bahwa dalam kepemimpinan Pak Yahya, beliau berusaha untuk menerapkan ide Gus Dur dalam bentuk humanitarian Islam, Islam yang insania, yang saya kira sangat cocok untuk zaman ini,” katanya.

Greg berharap kepemimpinan saat ini diberi kesempatan untuk menyelesaikan tugasnya. Namun, jika nantinya terjadi pergantian kepemimpinan, ia berharap visi tersebut tetap dipertahankan.

Menurutnya, NU harus mampu merespons persoalan aktual masyarakat dan dunia tanpa meninggalkan prinsip keadilan serta keberpihakan kepada kelompok rentan.

“Bukan saja kemakmuran, tapi juga cara yang adil, membela yang tertindas. Ini memang merupakan kelebihan NU. Insyaallah akan diteruskan,” tuturnya.

Greg juga memberikan penilaian positif terhadap pelaksanaan Muktamar ke-35 NU. Ia menilai pidato Gus Yahya dalam pembukaan Muktamar menunjukkan keyakinan terhadap visi dan peran NU ke depan.

Kehadiran Presiden Prabowo Subianto dalam pembukaan Muktamar juga menjadi sorotan Greg. Menurutnya, hal itu menunjukkan pentingnya posisi organisasi masyarakat Islam dalam kehidupan demokrasi Indonesia.

Ia menyebut NU dan Muhammadiyah memiliki posisi strategis dalam menjaga demokrasi, termasuk dalam proses transisi demokrasi di Indonesia.

“Organisasi massa Islam di Indonesia ini merupakan kunci untuk pendukungan demokrasi dan democratic transition,” katanya.

Meski memberikan apresiasi secara umum, Greg juga menyampaikan sejumlah catatan terhadap pelaksanaan Muktamar, khususnya pada rangkaian pembukaan.

Salah satunya mengenai keterlibatan perempuan. Ia menyinggung pernyataan Sinta Nuriyah Wahid yang menyayangkan tidak adanya perempuan yang diberi kesempatan untuk menyampaikan doa, ceramah, maupun berbicara dalam sesi tertentu.

Bagi Greg, keterlibatan perempuan dalam forum sebesar Muktamar NU merupakan bagian penting dari semangat keterbukaan organisasi.

Ia juga menyoroti penggunaan bahasa Arab dalam pidato Rais Aam PBNU. Greg memahami bahasa Arab memiliki posisi penting dalam tradisi keilmuan NU.

Namun, ia menilai penggunaan bahasa Arab dalam forum sebesar Muktamar juga perlu mempertimbangkan keberagaman peserta dan tamu yang hadir.

“Untuk pembukaan Muktamar NU, pasti ada banyak yang tidak bisa memahami bahasa Arab. Termasuk juga Pak Presiden,” ungkapnya.

Kendati memberikan sejumlah catatan, Greg menegaskan kesan keseluruhannya terhadap NU tetap positif.

Ia mengaku kagum terhadap perjalanan panjang dan capaian NU. Greg berharap NU terus mengambil peran dalam menjawab tantangan bangsa sekaligus perubahan yang terjadi di dunia.

“Pada umumnya sangat-sangat positif,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Teguh Setiawan
Editor: Gagah Saputra


No More Posts Available.

No more pages to load.