KabarBaik.co, Jombang– KH Abdussalam Shohib atau yang akrab disapa Gus Salam terus melakukan konsolidasi dengan para kiai sepuh serta struktur Nahdlatul Ulama (NU) menjelang pelaksanaan muktamar.
Pengasuh Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar itu menegaskan bahwa langkah yang dilakukannya merupakan bagian dari ikhtiar mencari kepercayaan dan restu, bukan dalam kerangka pencalonan formal sebagai Ketua Umum PBNU.
“Di NU itu perspektifnya pengabdian (khidmah), bukan kontestasi seperti di politik. Saya lebih nyaman menyebut ini sebagai ikhtiar mencari kepercayaan,” ujar Gus Salam, Selasa (14/4).
Cucu dari KH Bisri Syansuri ini mengaku dalam beberapa waktu terakhir aktif bersilaturahmi ke sejumlah masyayikh dan pengasuh pesantren, khususnya di wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Kunjungan tersebut dilakukan untuk memohon doa dan restu sebagai bekal pengabdian di NU.
Selain itu, ia juga menjalin komunikasi intensif dengan pengurus wilayah (PW) dan pengurus cabang (PC) NU. Gus Salam menargetkan dapat menjangkau sekitar 80 hingga 90 persen struktur organisasi sebelum muktamar digelar.
Terkait pelaksanaan muktamar, ia berharap ada kepastian waktu dan lokasi. Menurutnya, hal ini penting agar roda organisasi dapat berjalan optimal, mengingat masih banyak kepengurusan di daerah yang belum definitif.
“Masih banyak SK cabang yang tidak aktif, ada yang karateker, bahkan lebih dari satu tahun. Ini tentu mengganggu kinerja organisasi,” jelasnya.
Lebih jauh, Gus Salam menekankan pentingnya rekonsiliasi internal dalam tubuh NU. Ia menilai perbedaan pandangan adalah hal yang wajar, namun tidak boleh berujung pada perpecahan.
“Yang paling prinsip adalah rekonsiliasi total. NU ini organisasi besar dengan kepercayaan umat yang tinggi, jadi persatuan harus dijaga,” tegasnya.
Sementara itu, dukungan terhadap Gus Salam juga datang dari kalangan alumni pesantren. Pembina Ikatan Keluarga Alumni Mamba’ul Ma’arif Denanyar, Sholahudin Fathurohman, menyebut pihaknya bersama dzuriah KH Bisri Syansuri telah bermusyawarah dan sepakat mendorong Gus Salam untuk maju.
“Secara keilmuan dan kapabilitas, kami tidak meragukan,” ujarnya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa dukungan tersebut bersifat moral. Para alumni tidak memiliki hak suara dalam muktamar, sehingga kontribusi yang diberikan lebih pada doa dan ikhtiar.
“Kalau kami hanya bisa berdoa, maka itu yang kami lakukan. Harapannya, ini membawa kebaikan bagi NU ke depan,” pungkasnya. (*)






