KabarBaik.co, Banyuwangi – PT Kereta Api Indonesia (KAI) Persero Daop 9 Jember melakukan peremajaan peralatan persinyalan mekanik di sejumlah titik wilayah Banyuwangi. Pekerjaan ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan keandalan sistem persinyalan untuk menjaga keselamatan perjalanan kereta api.
Di wilayah Banyuwangi, overhaul atau peremajaan peralatan persinyalan dilakukan di Stasiun Glenmore, Banyuwangi Kota, Ketapang RS B (Rumah Sinyal B), dan Ketapang Pos P. Pekerjaan tersebut dilaksanakan secara bertahap pada Semester II 2026 dengan target penyelesaian hingga Desember mendatang.
Manager Hukum dan Humas KAI Daop 9 Jember, Cahyo Widiantoro mengatakan, total KAI Daop 9 Jember melaksanakan overhaul peralatan dalam sinyal mekanik di sembilan lokasi, yaitu Stasiun Bayeman, Klakah, Mangli, Ledokombo, Mrawan, Glenmore, Banyuwangi Kota, Ketapang RS B (Rumah Sinal B), dan Ketapang Pos P.
Selain itu, penggantian saluran kawat persinyalan dilakukan di 24 lokasi yang tersebar mulai wilayah Pasuruan hingga Banyuwangi. Seluruh pekerjaan dilaksanakan pada Semester II Tahun 2026 dengan target penyelesaian mulai Juli hingga Desember 2026.
Cahyo menyebut peremajaan tersebut dilakukan untuk memastikan peralatan persinyalan tetap berfungsi optimal. Sistem persinyalan menjadi bagian penting dalam mengatur perjalanan kereta api, terutama dalam memastikan kondisi jalur dan wesel aman sebelum kereta mendapatkan izin melintas.
“Persinyalan dapat diibaratkan sebagai sistem pengatur lalu lintas pada perjalanan kereta api. Di dalamnya terdapat sistem interlocking yang memastikan sinyal, wesel, dan jalur bekerja secara saling mengunci sehingga kereta hanya memperoleh izin melintas ketika seluruh kondisi telah benar-benar aman,” ujar Cahyo.
Menurutnya, overhaul dilakukan secara berkala setiap dua hingga tiga tahun untuk mengembalikan fungsi optimal peralatan interlocking dan pesawat blok pada sistem persinyalan mekanik. Pemeliharaan tersebut juga menjadi langkah preventif untuk meminimalkan potensi gangguan yang dapat memengaruhi perjalanan kereta api.
“Pelanggan mungkin lebih sering melihat kereta yang beroperasi tepat waktu, namun di balik itu terdapat proses pemeliharaan yang dilakukan secara berkesinambungan terhadap seluruh infrastruktur pendukung operasional,” tambahnya. (*)








