KabarBaik.co, Nganjuk – Istilah lama yang sempat terkubur dalam lembaran sejarah kini mendadak hangat diperbincangkan di ruang publik.
Diksi Londo Ireng kembali menyeruak ke permukaan usai terlontar dalam pidato Presiden Prabowo Subianto pada acara Harlah PKB di Jakarta, hingga memicu gelombang reaksi dan diskursus panas di tengah masyarakat.
Secara historis, istilah ini merupakan label kelam bagi siapa saja yang berpihak pada penindas demi keuntungan pribadi.
“Secara historiografi atau alur sejarahnya istilah Londo Ireng itu muncul ketika penjajah masuk atau bangsa Eropa itu masuk ke Indonesia,” ungkap Sejarawan Nganjuk sekaligus Humas Komunitas Pecinta Sejarah dan Ekologi Nganjuk (Kota Sejuk), Sukadi, Rabu (29/7).
Pada masa lampau, keterbatasan jumlah pasukan kolonial memaksa pihak penjajah memutar otak. Mereka melancarkan siasat dengan mendekati para penguasa lokal, memanjakan mereka dengan beragam fasilitas istimewa agar mau diajak bekerja sama menaklukkan sesama anak bangsa.
Fasilitas dan kenyamanan tersebut lambat laun mengubah keberpihakan para penguasa daerah hingga tega menindas rakyat kecil demi keuntungan majikan asingnya.
“Jadi Belanda dulu ketika menguasai Indonesia secara keseluruhan itu dia tidak menggunakan cara berhadapan langsung dengan penduduk. Tapi dia memanfaatkan orang-orang pribumi,” tutur Sukadi menegaskan rekam jejak kelam politik adu domba tersebut.
Atas dasar itulah, istilah ‘Londo Ireng’ melekat erat pada pihak-pihak pribumi yang rela berkhianat pada negeri sendiri demi kepentingan asing.
Namun, narasi sejarah itu mendadak ditarik ke era modern ketika Presiden Prabowo menyebut bahwa sosok tersebut tidak pernah benar-benar lenyap, melainkan bertransformasi dalam wujud yang berbeda.
“Londo Ireng masih ada di Indonesia hingga saat ini,” cetus Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya.
Dalam pidatonya, Kepala Negara menyentil keberadaan figur-figur tersebut di tengah masyarakat hari ini. Ia menyebut bahwa sosok itu kini menjelma dalam wujud wartawan, jurnalis, pengamat, hingga LSM sebuah pernyataan yang sontak mengundang beragam reaksi keras dan respons hangat dari publik serta insan pers.








