KabarBaik.co, Nganjuk – Museum Anjuk Ladang yang berlokasi di Jalan Gatot Subroto, Kelurahan Ringin Anom, Kecamatan/Kabupaten Nganjuk, terus memperkokoh posisinya sebagai penjaga memori kolektif daerah.
Museum ini menyimpan kekayaan sejarah yang sangat bernilai melalui deretan koleksinya yang mampu mewakili garis waktu perjalanan sejarah, mulai dari era prasejarah hingga masa pasca kemerdekaan.
“Alhamdulillah di Museum Anjuk Ladang ini koleksinya sudah ada keterwakilan dari masa ke masa. Mulai dari prasejarah sampai pasca kemerdekaan. Itu sudah ada,” ujar Kepala Bidang Kebudayaan Disporabudpar Nganjuk, Amin Fuadi, Senin (10/8).
Memasuki zona era kolonial, pengunjung disuguhi beragam pusaka pejuang Jawa seperti keris, pedang, dan tombak. Koleksi ini semakin lengkap dengan keberadaan perlengkapan militer kuno, mulai dari pedang tentara KNIL, helm, pistol, beberapa jenis telepon kuno, hingga unit sepeda onthel yang dahulu digunakan oleh petugas kepolisian dan militer.

“Kami terus terang untuk mendapatkan itu juga agak repot. Akhirnya kita bekerja sama dengan kolektor untuk yang mereka punya itu akhirnya kita beli. Nah, itu untuk memenuhi konteks supaya koleksi kami pada era kolonial itu cukup lengkap,” ungkap Amin menjelaskan perjuangan museum dalam melengkapi artefaknya.
Meski koleksinya kian beragam, perburuan benda bersejarah tidak berhenti di sini. Pihak museum saat ini masih berupaya keras melacak keberadaan telepon jinjing khas pasukan militer masa lalu sebuah artefak langka yang sangat sulit didapatkan namun krusial untuk melengkapi narasi sejarah pertempuran di Nganjuk.
“Harapannya nanti ke depan setelah di sehat itu dilakukan kajian ya sehingga nama-nama mereka ini nanti muncul dan bisa diakui pemerintah daerah,” pungkas Amin, merujuk pada pentingnya kajian mendalam terhadap deretan pahlawan lokal Nganjuk seperti Dermodjoyo, Kapten Kasihin, hingga Lurah Surodarmo agar sejarah perjuangan mereka tercatat secara resmi.







