Jutaan Jemaah Bersiap Bergerak ke Arafah, Ini Amalan Sunnah dan Bekal Penting

oleh -174 Dilihat
WUKUF JABAL RAHMAH
Ilustrasi Jemaah haji dari berbagai saat wukuf di Padang Arafah. (Foto Antara)

KabarBaik.co, Makkah — Jutaan jemaah haji dari berbagai negara bersiap memasuki fase paling krusial dalam rangkaian rukun Islam kelima itu. Yakni, wukuf di Arafah, yang pada musim haji 1447 Hijriah/2026  berlangsung pada Selasa (26/5). Sejak sehari sebelumnya, arus besar jemaah mulai bergerak dari Makkah menuju Mina dan Arafah secara bertahap sejak pagi.

Dalam tradisi manasik, momentum Arafah bukan sekadar perpindahan massal manusia menuju padang pasir suci, tetapi juga puncak spiritual haji. Nabi Muhammad SAW bahkan menegaskan: “Haji itu adalah Arafah.” Hadis tersebut diriwayatkan dalam Sunan at-Tirmidhi dan Sunan Abu Dawud.

Berdasarkan pola penyelenggaraan haji beberapa tahun terakhir, pergerakan jemaah Indonesia menuju Armuzna (Arafah, Muzdalifah, Mina) biasanya dimulai sekitar pukul 07.00 hingga malam waktu Arab Saudi secara bergelombang menyesuaikan sektor, maktab, dan transportasi bus.

Dalam sebiah riwayat, Rasulullah mencontohkan berangkat ke Mina pada 8 Dzulhijjah, bermalam di sana, lalu bergerak menuju Arafah setelah Subuh 9 Dzulhijjah. Riwayat itu disebutkan dalam hadis Jabir bin Abdullah yang diriwayatkan Sahih Muslim nomor 1218.

Wukuf: Momen Doa Terbesar

Di Padang Arafah, jemaah dianjurkan memperbanyak doa, zikir, istighfar, dan membaca talbiyah. Nabi Muhammad SAW bersabda: “Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah.” Hadis tersebut diriwayatkan dalam Sunan at-Tirmidhi.

Saat wukuf, Rasulullah juga mencontohkan menghadap kiblat sambil mengangkat tangan dan berdoa hingga matahari terbenam. Banyak ulama menyebut hari Arafah sebagai momentum pengampunan dosa terbesar dalam Islam. “Tidak ada hari ketika Allah lebih banyak membebaskan hamba dari neraka selain hari Arafah.” Riwayat Sahih Muslim no. 1348.

Selain kesiapan spiritual, jemaah juga dituntut menyiapkan logistik pribadi secara efisien. Kondisi Armuzna yang begitu padat dan mobilitas tinggi membuat jemaah disarankan hanya membawa perlengkapan penting.

Jika dulu banyak jemaah membawa makanan berat, pakaian berlapis, hingga koper tambahan, kini tren “tas ringan Armuzna” menjadi budaya baru di kalangan jemaah berbagai negara, termasuk Indonesia. Barang yang paling dicari bukan lagi oleh-oleh atau perlengkapan mewah, melainkan benda-benda sederhana untuk bertahan menghadapi panas, kepadatan manusia, dan perjalanan panjang selama puncak haji.

Beberapa barang yang paling umum dibawa antara lain air minum dan snack ringan, obat pribadi, masker dan tisu, sajadah tipis, power bank, sandal nyaman, serta alas tidur sederhana untuk mabit di Muzdalifah

Bagi jemaah lansia, perlengkapan pelindung panas seperti payung lipat, kipas portable, dan oralit menjadi kebutuhan penting mengingat suhu Arab Saudi pada akhir Mei dapat mencapai di atas 40 derajat Celsius.

Mabit di Muzdalifah sendiri menjadi salah satu fase paling menantang karena jutaan jemaah bermalam di area terbuka sebelum melanjutkan perjalanan ke Mina untuk melontar jumrah. Karena situasi dna kondisi demikian, belakangan dilakukan murrur. Yakni, cukup melintasi kawasan Muzdalifah menggunakan bus tanpa turun dari kendaraan.

Dengan puncak haji yang tinggal menghitung hari, otoritas Arab Saudi dan petugas haji berbagai negara kini memfokuskan perhatian pada kelancaran transportasi, kesehatan jemaah, dan pengaturan kepadatan di kawasan Armuzna.

Dalam beberapa tahun terakhir, di fase Armuzna tersebut biasanya banyak jemaah yang kondisi kesehatannya drop  bahkan meninggal dunia. Karena itu, mesti dipersiapkan semuanya. Para keluarga di tanah air, bisanya juga melaksanakan tradisi khusus untuk turut mendoakan keselamatan dan kelancaran di fase Armuzna itu,

Selain dianjurkan berpuasa sunnah di hari Arafah, bagi umat Muslim yang sedang tidak melaksanakan haji, salah satu amalan atau ijazah yang dianjurkan adalah membaca Alquran Surat (17) Al Hajj sebanyak satu kali selepas waktu Zuhur pada hari Arafah itu.

Namun, ketika memasuki ayat ke-27 dari Surat Al Hajj itu, dibaca sesuai umur pihak yang sedang membaca Alquran tersebut. Misalnya, kalau umurnya 40 tahun, maka khusus ayat ke-27 tersebut dibaca sebanyak 40 kali. Amalam itu dibaca istiqamah setiap hari Arafah. Kabarnya, akan diberikan kemudahan untuk dapat melaksanakan umrah atau ibadah haji. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Editor: Supardi Hardy


No More Posts Available.

No more pages to load.