KabarBaik.co- Usianya masih begitu muda. Pada 30 Maret 2024 mendatang, semestinya menjadi hari ulang tahunnya. Genap berumur 32 tahun. Namun, Senin (11/3) Sekretaris Jenderal (Sekjen) Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) Muhammad Rafsanjani telah berpulang. Menghadap Sang Khaliq.
Rafsan, panggilan akrabnya, meninggal dunia saat menjalani perawatan di RS Siloam, Lebak Bulus, Jakarta Selatan, sejak beberapa hari lalu karena pneumonia. Almarhum dimakamkan di Pondok Pesantren (Ponpes) Pulosari, Kp Jalan Pulosari, RT 02, RW 06, Cijolang, Kecamatan Balubur Limbangan, Kabupaten Garut, Jawa Barat.
Mendung duka pun cepat menyebar. Doa dan ucapan duka cita datang dari berbagai beragam kalangan. Baik tokoh maupun organisasi. Termasuk dari DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). ‘’Semoga Allah SWT menerima amal baik dan menempatkannya di sisi-Nya serta keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan dan kekuatan lahir batin.’’ cuit PKB dalam akun X (Twitter).
Dikutip dari NU Online, Rafsan merupakan salah seorang kandidat calon ketua umum PB PMII pada Kongres XX di Balikpapan. Dia merupakan putra pasangan KH Cecep Alba-Hj Rd Mimin Nurganiah Maulani, pimpinan Ponpnes Pulosari Garut.
Rafsan menamatkan pendidikan Ilmu Politik Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta. Lalu, pascasarjana pada konsentrasi politik dan hubungan internasional, sekolah kajian strategik dan global di Universitas Indonesia (UI).
Rafsan juga tercatat sebagai tim kaderisasi nasional PB PMII periode 2017 2020. Sebelum menjadi Sekjend PB PMII, ia pernah menjabat sebagai ketua PC PMII Ciputat masa khidmat 2015-2016. Selain aktif di organisasi, Rafsan juga aktif di beberapa forum kajian. Salah satunya, di forum kajian tertua Ciputat, Forum Mahasiswa Ciputat (Formaci).
Dua bulan lalu, Rafsan masih berbicara di Podcast Swara NU. Di akhir perbincangannya, dia menyampaikan satu harapan buat kader atau anak-anak muda PMII. ‘’Buang mentalitas menggantungkan masa depan ke orang lain. Baik itu senior, baik itu organisasi. Titik. Yang bisa menentukan masa depan kita, hanya diri kita sendiri. Itu harus tertanam pada otak dan hati kader,’’ ungkapnya semasa hidup.
‘’Soal jaringan, berkah kita di organisasi, jangan diniatin. Nanti juga ketemu. Yang harus kita yakini, yang bisa mengubah nasib kita itu cuman diri kita sendiri. Baik sebagai individu, atau komunitas. Kalau menggantungkan, kita dibonsai terus,’’ pungkasnya. (*)







