KabarBaik.co- Masyarakat politik global tampaknya dalam beberapa hari ke depan bakal semakin mengarahkan pandangan ke Amerika Serikat (AS). Tidak sampai dua bulan lagi, tepatnya 5 November, Negeri Paman Sam itu giliran menggelar Pemilihan Presiden (Pilpres). Menggantikan Presiden Joe Biden, yang mendadak mundur dari bursa pencalonan.
Dua kandidat dipastikan bertarung berebut kursi AS 1. Yakni, mantan Presiden Donald AS Trump (Partai Republik) dan Kamala Harris, wakil presiden AS saat ini yang dijagokan Partai Demokrat. Peta politik AS penting. Sebab, bakal membawa dampak global. Tidak terkecuali Indonesia.
Pada 10 September 2024 lalu, Trump dan Harris sudah melaksanakan debat terbuka. Saling sindir dan saling serang. Debat yang disiarkan langsung ABC News itu mengundang perhatian luas dari publik dunia. Sebab, itulah kali pertama dua tokoh berhadap-hadapan secara langsung. Survei CNN terhadap penonton debat mendapati gambaran bahwa 63 persen responden percaya bahwa Harris tampil lebih baik daripada Trump.
Jajak pendapat terbaru Yahoo News/YouGov, dilansir dari Economic Times, Senin (16/9), juga menunjukkan keunggulan Harris. Calon Demokrat itu unggul 5 poin persentase dibandingkan Trump di antara pemilih terdaftar. Dari sebanyak 1.755 orang dewasa AS disurvei, Harris meraih 50 persen suara. Sedangkan Trump 45 persen.
Survei itu merupakan perkembangan penting bagi Harris. Dari jajak pendapat Yahoo News/YouGov sebelum debat atau pada Agustus 2024, Harris hanya unggul tipis. Yakni, 47 persen Harris dan 46 persen Trump.
Dalam jakak pendapat khusus manajemen ekonomi, berdasarkan survei Financial Times dan Ross School of Business dari Universitas Michigan yang dirilis pada Minggu (15/9), juga mendapati kesimpulan bahwa 44 persen responden lebih memercayai Harris dalam menangani perekonomian. Sedangkan 42 persen memberikan dukungan untuk Trump.
Mengacu survei Financial Times dan Ross School of Business dari Universitas Michigan tersebut juga terungkap, sebanyak 58 persen responden mengatakan bahwa isu ekonomi seperti pekerjaan dan biaya hidup adalah faktor yang paling dianggap penting dalam menentukan preferensi memilih dalam Pilpres. Survei ini dilakukan pada 11-12 September, dengan melibatkan 1.002 responden. Margin kesalahan kurang lebih sebesar 3,1 poin persentase.
Tren dukungan terhadap Harris terus melebar. Tidak hanya di kalangan internal massa konstituen parpol, di kalangan pemilih independen, Harris juga makin mendapatkan tempat. Sebelum debat, di pemilih independen, Harris tertinggal 9 poin dari Trump. Yakni, 35 persen berbanding 44 persen. Nah, sesuai debat, Harris berbalik unggul 10 poin dari Trump. Elektabilitas Harris mencapai 47 persen dan Trump hanya 37 persen. Perubahan haluan di antara para independen ini dapat memainkan peran penting. Bisa menjadi penentu bandul hasil pemungutan suara 5 November nanti.

Selamat dari Rencana Pembunuhan
Sementara itu, Minggu (15/9) waktu setempat, Donald Trump dilaporkan nyaris menjadi korban upaya pembunuhan lagi. Biro Investigasi Federal (FBI) menyebut upaya itu terjadi saat Trump berada di lapangan golf pribadinya, yang ada di West Palm Beach, Florida, AS.
Insiden ini terjadi sekitar dua bulan dalam penembakan terhadap Trump sebelumnya. Yakni, saat ia berkampanye di Butler, Pennsylvania. Ketika itu, Trump terluka dan salah satu pendukungnya meninggal dunia.
Dalam laporan FBI, sosok penembak terlihat oleh agen-agen Dinas Rahasia, yang bertugas sebagai pasukan pengamanan presiden (Paspampres). Mereka bergerak lebih dulu di depan Trump di lapangan golf untuk melakukan pemeriksaan keamanan di lubang (hole) yang dituju Trump. Menurut pejabat keamanan, para agen biasanya berada satu lubang di depan Trump.
Nah, Minggu (15/9) sekitar pukul 13,30 waktu AS, para agen melihat laras senapan menyembul dari semak-semak. Kemudian, melepaskan tembakan ke arah Trump. Dilaporkan, saat itu Trump berada 275 hingga 455 meter dari posisi senapan. Petugas pengamanan pun melepaskan tembakan kepada pria bersenjata itu empat hingga lima kali. Tersangka lantas menjatuhkan senapan jenis AK-47 dan kabur menggunakan kendaraan, meninggalkan dua buah ransel, sebuah teleskop bidik, dan sebuah kamera GoPro
Dilansir Antara, Kepala Kepolisian wilayah Palm Beach, Sheriff Ric Bradshaw, dalam konferensi pers pada Senin (16/9) waktu setempat mengatakan, penangkapan berhasil dilakukan berkat laporan seseorang yang menyaksikan tersangka melarikan diri. Saksi mata melihat si pelaku melarikan diri dari semak-semak lalu bergegas masuk ke sebuah mobil Nissan hitam. Saksi mata juga berhasil memotret kendaraan si pelaku.
Berdasarkan laporan tersebut, petugas kepolisian berhasil mengidentifikasi kendaraan beserta arah mobil itu kabur, yaitu ke Martin County. Kepolisian Palm Beach lantas menghubungi kepolisian wilayah Martin untuk membantu mengamankan terduga pelaku. Dengan bantuan mereka, kendaraan tersebut berhasil disetop dan si terduga pelaku diamankan. Tersangka itu teridentifikasi bernama Ryan Wesley Routh.
BBC Verify telah menemukan profil media sosial yang identik dengan nama tersangka tersebut. Profil tersebut mengindikasikan bahwa Routh menyerukan agar para petempur asing pergi ke Ukraina untuk berperang melawan pasukan Rusia. Ada juga pesan-pesan pro-Palestina, pro-Taiwan, dan anti-China di profilnya.
Menurut sumber CBS, Routh oernah didakwa dan dihukum atas sejumlah tindak pidana di Guilford County di North Carolina antara 2002 dan 2010. Tindak pidana itu antara lain membawa senjata tersembunyi, menolak penangkapan oleh petugas polisi, mengemudi dengan SIM yang dicabut, memiliki barang curian, dan melakukan tabrak lari menggunakan kendaraan bermotor. (*)







