Keroyokan Bumbu Nusantara dan Krim Asam Rusia: Diplomasi Unik Mahasiswa Indonesia

oleh -138 Dilihat
PEMIRA1

KabarBaik.co, Rusia — Di saat diplomasi antarnegara umumnya berlangsung kaku di balik meja dan ruang ber-AC, puluhan pemuda dari Indonesia, Rusia, dan negara-negara ASEAN memilih merayakan 76 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Rusia dengan cara tak biasa. Yakni, berkemah di tengah hutan taiga, memutar lagu senam SKJ, hingga meracik Sate Taiga dan Nasi Goreng beraroma rempah Nusantara di bawah langit “Malam Putih” (White Nights).

Aksi gastrodiplomasi dan edukasi lingkungan bertajuk PERMIRA Summer Camp 2026 tersebut diinisiasi Perhimpunan Mahasiswa Indonesia di Rusia (PERMIRA) Perwakilan Saint Petersburg bersama Perhimpunan Konservasi Alam Rusia. Selama tiga hari, 19–21 Juli 2026, Semenanjung Kiperort di Kawasan Konservasi Alam Vyborgskiy, Oblast Leningrad, menjadi saksi bisu bertemunya rempah Nusantara dengan ekologi pesisir Teluk Finlandia.

Menembus Batas Budaya Lewat Fusion Cuisine

Salah satu daya tarik utama perkemahan ini terletak pada eksperimen kuliner yang memadukan bumbu khas Indonesia dengan teknik serta bahan lokal Rusia. Tak sekadar memasak, para peserta diajak menciptakan “jembatan rasa” yang ramah bagi lidah pemuda Rusia tanpa menghilangkan identitas Nusantara.

Dalam sesi PERMIRA MasterChef, tersaji enam menu fusion yang unik:

  • Ayam Goreng Lalapan & Sambal Dabu-Dabu Smetana: Ayam diungkep dengan bumbu kuning yang dicampur smetana (krim asam khas Rusia) agar daging tetap empuk dan gurih (juicy). Sambalnya dimodifikasi menggunakan paprika dan bawang bombai merah untuk menyesuaikan tingkat kepedasan.
  • Sate Taiga (Sate Taichan Fusion): Daging ayam dimarinasi dengan smetana sebelum dibakar di atas bara api kayu dan buah pinus, menghasilkan cita rasa layaknya shashlik khas Rusia namun berjiwa Nusantara.
  • Bubur Ayam Herbal: Kuah kuning bubur dilengkapi dengan taburan dill dan petrushka (parsley)—herbal populer dalam sup tradisional Rusia.
  • Nasi Goreng Kampung Plov: Memanfaatkan beras long grain yang biasa digunakan dalam masakan plov Rusia, diolah menggunakan teknik wok cooking berapi besar.
  • Cekodok Gandum Rusia: Pisang goreng khas Kepulauan Riau yang menggunakan tepung gandum kuat dan mentega Rusia sehingga menghasilkan tekstur lebih kenyal dan buttery.
  • Dadar Gulung Blini Alyonka: Panekuk khas Indonesia yang diisi lelehan cokelat Alyonka ikonik asal Rusia.

“Diplomasi sejati lahir dari interaksi yang tulus, dari tangan yang bersama-sama memasak, dan dari hati yang saling terbuka,” ujar Fikria Shaleha dan Farrell Umar Rayhan, Ketua dan Wakil Ketua PERMIRA St. Petersburg.

PEMIRA2

Dari Senam SKJ hingga “Banya” di Pesisir Baltik

Tak hanya soal kuliner, pertukaran budaya di akar rumput ini berlangsung interaktif. Setiap pagi, setelah dibangunkan oleh lagu pop remaja Rusia “Vstavay”, seluruh peserta dari berbagai negara diajak mengikuti Senam Kesehatan Jasmani (SKJ) dipandu mahasiswa Indonesia.

Di sore dan malam hari, suasana makin akrab dengan permainan tradisional anak-anak Nusantara seperti Batewah (Kalimantan Selatan), Polisi Numpang Tanya, ABC Lima Dasar, Domikado, hingga Tepok Nyamuk. Usai beraktivitas di tengah dinginnya angin Teluk Finlandia, para peserta memanjakan diri di Banya—sauna tradisional khas Rusia yang dibangun tepat di tepi pantai.

Dukungan Penuh dari Pemerintah Lokal dan Diplomat

Langkah kreatif mahasiswa Indonesia ini menuai apresiasi tinggi dari berbagai pihak. Duta Besar RI untuk Federasi Rusia merangkap Belarus, Jose Antonio Morato Tavares, menyambut hangat inisiatif yang dinilainya sebagai wujud nyata penguatan persahabatan generasi muda kedua bangsa.

Apresiasi serupa datang dari Pemerintah Oblast Leningrad. Fyodor Stulov (Ketua Komite Sumber Daya Alam) dan Ramila Agaeva (Ketua Komite Pengawasan Lingkungan Hidup) menegaskan bahwa keterlibatan pemuda dalam kawasan konservasi seperti Vyborgskiy adalah metode paling efektif untuk menanamkan kesadaran ekologis secara langsung.

“Ini bukan sekadar perkemahan, melainkan perjalanan ke dalam budaya Indonesia… Walau peserta berbicara dalam bahasa berbeda—Rusia, Indonesia, dan Inggris—komunikasi terasa ringan dan tulus,” puji Jeren Jepbarova, mahasiswi asal Rusia yang menjadi salah satu peserta.

Kegiatan yang ditutup dengan dialog bersama inspektur cagar alam dan sesi rekaman kapsul waktu ini membuktikan bahwa persahabatan antarbangsa tidak selalu harus diikat oleh bahasa yang sama, melainkan bisa dijembatani oleh kehangatan api unggun, keindahan alam, dan cita rasa kuliner Nusantara. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Editor: Supardi Hardy


No More Posts Available.

No more pages to load.