Ketika Board Of Peace Berubah Medan Perang: Surat Terbuka Konglomerat Arab Mengguncang Dunia

oleh -82 Dilihat
AL HABTOOR e1772864112800
Khalaf Ahmad Al Habtoor )Foto X)

KabarBaik.co, Jakarta – Belum genap tinta pada piagam perdamaian mengering, gumpalan asap hitam justru membubung di cakrawala Teluk. Ironi itu pula yang menggerakkan seorang konglomerat Uni Emirat Arab (UEA), Khalaf Ahmad Al Habtoor, untuk menulis surat terbuka yang menusuk langsung ke meja Oval Office.

“Bahkan sebelum tinta mengering pada inisiatif Board of Peace yang Anda umumkan atas nama perdamaian dan stabilitas, kami mendapati diri kami menghadapi eskalasi militer yang membahayakan seluruh kawasan,” tulis Al Habtoor dalam akun X (dulu Twitter) miliknya, Kamis (5/3/2026), seperti dikutip dari berbagai sumber.

Ironi Board of Peace

Board of Peace memang terdengar seperti nama yang mulia. Inisiatif yang diluncurkan Donald Trump pada Januari 2026 itu dirancang untuk mengelola rekonstruksi Gaza dan keamanan pascaperang Israel-Hamas. Namun, menurut laporan, entitas yang dipimpin langsung oleh Trump itu ternyata memungut iuran keanggotaan permanen sebesar USD 1 miliar (Rp 1,6 triliun lebh) per negara. Bahrain, Qatar, Arab Saudi, dan UEA sendiri tercatat sebagai anggota tetap.

Negara-negara Teluk, kata Al Habtoor, telah menyumbangkan miliaran dolar ke dalam inisiatif tersebut dengan niat mendukung stabilitas dan pembangunan. “Dan negara-negara ini berhak bertanya hari ini: Ke mana uang ini pergi? Apakah kami mendanai inisiatif perdamaian atau perang yang membahayakan kami?” tulisnya.

Rentetan Pertanaan Tanpa Ampun

Surat yang ditulis dalam bahasa Arab dan Inggris itu tidak berhenti pada ironi Board of Peace. Al Habtoor, pengusaha berusia 76 tahun yang membangun imperium dari nol, melontarkan pertanyaan demi pertanyaan yang tidak mudah dijawab. “Pertanyaan langsung: Siapa yang memberi Anda (Donald Trump, Red) wewenang untuk menyeret kawasan kami ke dalam perang dengan Iran? Atas dasar apa Anda membuat keputusan berbahaya ini?”

Dia mempertanyakan apakah Trump pernah menghitung collateral damage sebelum menarik pelatuk. “Apakah Anda berpikir bahwa yang pertama menderita akibat eskalasi ini adalah negara-negara di kawasan ini sendiri?” tulisnya.

Kata ‘’Collateral Damage’’ dalam surat Al Habtoor itu adalah pilihan kata yang sangat  pedih. Biasanya istilah itu digunakan militer untuk korban sipil yang “tidak disengaja”. Dengan menggunakannya untuk menggambarkan seluruh kawasan Teluk, boleh jadi terkandung sebuah pesan kuat. “Kami tahu, bagi Washington, kami hanyalah angka, kerugian tambahan, ongkos yang harus dibayar dalam permainan catur global kalian.”

Lebih jauh, Al Habtoor menyatakan Trump menempatkan negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) dan negara-negara Arab “di tengah bahaya yang tidak mereka pilih.” Dia mengingatkan bahwa kawasan Teluk memiliki kekuatan untuk membela diri, tetapi pertanyaan mendasarnya tetap: “Siapa yang memberi Anda izin untuk mengubah kawasan kami menjadi medan perang?”

Pertanyaan Soal Netanyahu dan Tekanan Eksternal

Al Habtoor juga menyentuh isu sensitif yang selama ini hanya dibisikkan di ruang-ruang tertutup para elite Arab. Sejauh mana pengaruh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terhadap keputusan perang Washington? “Rakyat di kawasan ini juga berhak bertanya: Apakah ini keputusan Anda sendiri? Ataukah ini akibat tekanan dari Netanyahu dan pemerintahannya?” tulis Al Habtoor dalam suratnya .

Pertanyaan ini menjadi sangat signifikan mengingat selama bertahun-tahun negara-negara Teluk berusaha menjaga keseimbangan hubungan dengan Washington dan Teheran, sambil secara terbuka maupun diam-diam membangun komunikasi dengan Israel.

Yang membuat surat tersebut berbeda dari sekadar omelan biasa adalah penggunaan data. Al Habtoor mengutip Institute for Policy Studies (IPS) yang memperkirakan biaya operasi militer langsung mencapai USD 40-65 miliar, dan berpotensi menembus USD 210 miliar jika konflik berlangsung empat hingga lima minggu, termasuk dampak ekonomi dan kerugian tidak langsung .

Dia juga menyoroti inkonsistensi Trump yang berkampanye dengan janji menghindari perang baru dan memprioritaskan Amerika, namun kenyataannya memerintahkan intervensi militer di tujuh negara selama masa jabatan kedua: Somalia, Irak, Yaman, Nigeria, Suriah, Iran, dan Venezuela. “Anda mengarahkan lebih dari 658 serangan udara asing pada tahun pertama Anda menjabat, setara dengan jumlah total serangan selama seluruh masa jabatan Biden—Biden yang sama yang Anda kritik karena melibatkan Amerika Serikat dalam perang asing,” tulisnya.

Akibatnya, menurut Al Habtoor, rating persetujuan Trump terhadap publik Amerika turun 9 persen hanya dalam 400 hari sejak masa jabatan kedua dimulai.

Bukan Lawan, Tapi Mitra yang Kecewa

Yang membuat kritik Al Habtoor ini begitu berbobot adalah latar belakang hubungannya dengan Trump. Forbes mencatat kekayaan bersihnya mencapai USD 2,3 miliar, menempatkannya di peringkat 335 orang terkaya dunia. Pada 2008, perusahaannya tergabung dalam konsorsium yang memenangkan kontrak konstruksi senilai 2,9 miliar dirham (USD790 juta) untuk proyek Trump International Hotel and Tower di Palm Jumeirah, Dubai—proyek yang akhirnya batal pada 2011 akibat krisis keuangan global .

Bahkan pada 2015, Al Habtoor menulis opini di The National berjudul “Why I’m backing The Donald’s bid to be president”, memujinya sebagai “pelaku pemberani” dan pengusaha sukses. Namun, hubungan itu putus di tahun yang sama ketika Trump mengusulkan pelarangan umat Muslim masuk AS. “Saya menyesal mendukungnya,” kata Al Habtoor saat itu kepada NBC News.

Pengamat menilai surat Al Habtoor ini bukan sekadar opini pribadi. Ketika Al Habtoor berbicara, para pemimpin dunia, terutama UEA, pasti mendengarkan. Dia adalah mantan anggota Dewan Nasional Federal UEA, mantan ketua Commercial Bank of Dubai, dan satu-satunya anggota non-Amerika di Dewan Gubernur Dunia USO pada 1994-1997 .

Kritiknya muncul di tengah meningkatnya korban akibat serangan Iran ke kawasan Teluk. Berdasarkan laporan, serangan Iran pada tahap awal konflik menembakkan lebih dari dua kali lipat rudal balistik dan sekitar 20 kali lebih banyak drone ke negara-negara Teluk dibandingkan ke Israel. Di UEA, tiga orang dilaporkan tewas dan 78 lainnya terluka.

Al Habtoor menutup suratnya dengan sebuah definisi yang menjadi tamparan terlembut sekaligus terkeras bagi Trump. “Kepemimpinan sejati tidak diukur dari keputusan untuk berperang, tetapi dari kebijaksanaan, rasa hormat kepada orang lain, dan upaya untuk mencapai perdamaian. Dan jika inisiatif-inisiatif ini diluncurkan atas nama perdamaian, maka kita berhak menuntut transparansi dan akuntabilitas penuh.’’

Surat Al Habtoor tersebut kemungkinan besar akan bergema luas. Bukan hanya di dunia Arab, tetapi juga di kalangan akademisi dan pengamat kebijakan luar negeri AS. Al Habtoor telah melakukan apa yang mungkin dipikirkan oleh banyak pemimpin Teluk lainnya, juga di luar Teluk, tetapi tidak berani mereka ucapkan secara terbuka karena tekanan diplomatik. Dia menjadi “suara publik” untuk kegelisahan pribadi para eliet di Riyadh, Abu Dhabi, dan Doha.

Surat ini juga seolah menjadi pengingat nyata bahwa “Persahabatan” AS-Teluk tidak bisa dianggap enteng. Ada batasnya. Ketika keamanan eksistensial kawasan Teluk terancam oleh keputusan sepihak AS, tali persahabatan itu bisa saja putus.

Yang jelas, surat Khalaf Al Habtoor ini adalah sebuah masterpiece of public protest dari kalangan elite. Dia berhasil melakukan beberapa hal sekaligus. Pertama, mendefinisikan ulang loyalitas. Menunjukkan bahwa loyalitas utama seorang putra Teluk adalah kepada tanah airnya, bukan kepada mitra bisnisnya di luar negeri.

Kedua, membongkar kemunafikan. Dengan cerdik menyandingkan inisiatif “perdamaian” dengan aksi “perang”. Ketiga, menuntut akuntabilitas. Meminta pertanggungjawaban langsung dari Presiden AS di hadapan publik dunia.

Al Habtoor tidak hanya mengkritik Trump, tetapi juga mengirimkan pesan ke seluruh dunia. “Kami di kawasan Teluk bukan pion. Kami adalah pemain. Dan jika papan catur ini ingin dibakar, setidaknya tanyakan dulu pada kami.”

Surat yang ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan rasa yang terpendam dan rasa kepemilikan yang mendalam terhadap masa depan tanah air. ‘’Saya sudah kaya, saya sudah tua, saya tidak takut lagi kehilangan apa pun kecuali tanah air saya.” (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Editor: Supardi Hardy


No More Posts Available.

No more pages to load.