KabarBaik.co, Sidoarjo– Kepergian Marindra Wibowo meninggalkan luka mendalam. Bukan hanya bagi keluarga, tetapi juga dunia kedirgantaraan Indonesia. Pilot asal Sidoarjo itu dikenal sebagai sosok hangat, rendah hati, dan memiliki dedikasi tinggi terhadap profesinya hingga akhir hayat.
Kabar duka itu datang pada Kamis (16/4) sekitar pukul 22.00 WIB. Kecelakaan di Sekadau Kalimantan Barat merenggut nyawanya secara tiba-tiba, mengejutkan keluarga, sahabat, hingga rekan sejawat yang mengenalnya sebagai pribadi penuh tanggung jawab.
Suasana haru menyelimuti prosesi pemakaman yang digelar pada Sabtu (18/4) di makam warga TNI Angkatan Laut wilayah timur Juanda, Gisikcemandi, Kecamatan Sedati, Sidoarjo. Isak tangis keluarga pecah saat jenazah almarhum dimakamkan dengan upacara militer.
Dalam prosesi tersebut, Letkol Laut Hadi Priyono bertindak sebagai inspektur upacara. Ia memimpin langsung penghormatan terakhir, sebagai bentuk penghargaan atas pengabdian panjang almarhum di dunia penerbangan militer.
Sejak muda, Marindra telah menapaki jalan sebagai penerbang. Ia mengenyam pendidikan di sekolah penerbangan TNI di Yogyakarta. Dari tempat itu, bukan hanya kemampuan terbang yang diasah, tetapi juga karakter disiplin dan loyalitas yang melekat hingga akhir hayatnya.
Bagi rekan rekannya, Marindra bukan sekadar pilot. Ia adalah sahabat yang selalu hadir. Sosok yang mudah bergaul, ringan tangan, dan tak pernah segan membantu siapa pun.
Kapten Royani, pilot dari Wings Air sekaligus kakak kelas almarhum, mengenang kedekatan mereka yang terjalin lebih dari dua dekade.
“Beliau itu orangnya supel, asyik, dan sangat setia kawan. Kalau kumpul, seringkali beliau yang menjemput. Komunikasinya juga enak, dan setiap tugas selalu dijalankan dengan baik,” kenangnya.
Bagi Royani, Marindra adalah tipe pilot yang tenang dan dapat diandalkan dalam situasi apa pun.
“Dia itu fokus. Medan sesulit apa pun tetap dijalani dengan penuh tanggung jawab. Itu yang membuat banyak orang percaya pada beliau,” tambahnya.
Karier Marindra di dunia penerbangan tidak bisa dibilang biasa. Ia pernah terlibat dalam misi perdamaian dunia di bawah bendera Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Sebuah tugas yang hanya diberikan kepada personel dengan kemampuan dan integritas tinggi.
Pengabdiannya juga banyak dihabiskan di medan-medan sulit. Ia kerap menerbangkan helikopter ke wilayah terpencil, termasuk kawasan perkebunan di Sintang, Kalimantan Barat daerah yang tak bisa dijangkau pesawat komersial.
Namun di balik rekam jejaknya yang gemilang, Marindra tetaplah sosok sederhana. Ia tak pernah membanggakan pencapaiannya. Justru, ia lebih senang berbagi cerita ringan dan pengalaman kepada rekan-rekannya.
Kenangan terakhir bersama sahabat kini terasa begitu berharga. Sekitar tiga hingga empat bulan lalu, mereka sempat berkumpul santai di kawasan Gayungsari, Surabaya. Tanpa firasat apa pun, pertemuan itu menjadi momen terakhir kebersamaan mereka.
Kini, Marindra meninggalkan tiga anak laki-laki dan seorang istri. Kehilangannya bukan hanya dirasakan keluarga, tetapi juga banyak orang yang mengenalnya sebagai pribadi tulus dan penuh dedikasi.
Di rumah duka hingga lokasi pemakaman, pelayat terus berdatangan. Mulai dari senior, rekan satuan, hingga junior sesama penerbang hadir memberikan penghormatan terakhir.
Air mata tak terbendung. Namun di balik duka, tersimpan rasa bangga atas sosok yang telah menjalani hidup dengan penuh tanggung jawab, persahabatan, dan pengabdian.
“Beliau itu bukan hanya rekan kerja, tapi juga saudara bagi kami. Sosoknya selalu membawa suasana hangat di setiap pertemuan. Kehilangannya benar-benar terasa,” pungkasnya.
Bagi mereka, Marindra Wibowo bukan sekadar pilot. Ia adalah ‘orang baik’ yang jejak hidupnya akan terus dikenang bukan hanya karena profesinya, tetapi karena ketulusan yang ia tinggalkan. (*)






