Mahasiswa UB Ciptakan Rompi Pintar ADAPT-V untuk Deteksi dan Redam Tantrum Anak ASD

oleh -160 Dilihat
WhatsApp Image 2026 08 23 at 11.33.08 AM
Rompi pintar ciptaan mahasiswa UB (foto: istimewa)

KabarBaik.co, Malang – Lima mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) menciptakan inovasi teknologi kesehatan berupa rompi pintar bernama ADAPT-V. Perangkat wearable ini dirancang untuk mendeteksi stres fisiologis pada anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD) sekaligus memberikan respons menenangkan secara otomatis.

ADAPT-V dikembangkan dengan memanfaatkan metode Deep Pressure Therapy (DPT), yakni memberikan tekanan terkontrol pada tubuh untuk menciptakan sensasi nyaman seperti pelukan. Teknologi tersebut diharapkan dapat membantu meminimalkan risiko tantrum yang kerap muncul akibat gangguan pemrosesan sensorik pada anak dengan ASD.

Anggota tim dari Program Studi Psikologi UB, Muhammad Nafis Khilmi, mengatakan anak dengan ASD dapat mengalami kesulitan dalam merespons berbagai rangsangan sensorik.

Kondisi tersebut terkadang memicu reaksi emosional berupa menangis, berteriak, menendang hingga perilaku agresif yang berpotensi membahayakan diri sendiri maupun orang di sekitarnya.

“Melalui ADAPT-V, kami menerapkan metode Deep Pressure Therapy (DPT) dengan memberikan tekanan terkontrol pada tubuh untuk menghadirkan sensasi nyaman menyerupai pelukan hangat yang telah terbukti efektif memberikan efek relaksasi,” ujar Nafis, Minggu (23/8).

Menurutnya, terapi menggunakan tekanan sebenarnya telah dikenal melalui perangkat manual seperti Snug Vest. Namun, penggunaan rompi konvensional masih membutuhkan pengawasan orang tua atau terapis untuk mengatur tekanan secara manual.

Keterbatasan tersebut kemudian coba diatasi tim mahasiswa UB melalui integrasi teknologi kecerdasan buatan atau Machine Learning.

Ketua tim pengembang, Zakky Yahya dari Program Studi Teknik Elektro UB, menjelaskan ADAPT-V mampu bekerja secara otomatis dan real-time dengan mengandalkan sejumlah sensor.

“Sistem menggunakan sensor MAX30102 untuk mendeteksi denyut nadi jantung serta sensor MPU6050 untuk memetakan pola gerakan anak,” jelas Zakky.

Data dari kedua sensor tersebut selanjutnya dianalisis menggunakan algoritma Support Vector Machine (SVM). Sistem ini digunakan untuk mengenali pola kondisi fisiologis dan gerakan anak guna mendeteksi saat mulai memasuki fase tantrum.

Ketika kondisi tersebut terdeteksi, mikrokontroler ESP32 secara otomatis mengaktifkan micro air pump DC. Pompa tersebut kemudian mengisi kantung udara yang terdapat di dalam rompi untuk memberikan tekanan sesuai kebutuhan.
Aspek keamanan tekanan udara juga menjadi perhatian dalam pengembangan perangkat tersebut.

Anggota tim dari Teknik Elektro, Sugih Rizkiawan, mengatakan ADAPT-V dilengkapi algoritma Proportional Integral Derivative (PID) yang terhubung dengan sensor tekanan MPX5100DP.

“Kunci keamanan rompi ini terletak pada kendali algoritma PID yang terhubung dengan sensor tekanan MPX5100DP. Algoritma ini memastikan tekanan udara yang masuk ke tubuh anak tetap stabil pada batas aman yang ditentukan,” kata Sugih.

Apabila sistem mendeteksi kondisi anak telah kembali tenang, solenoid valve akan terbuka secara perlahan sehingga udara di dalam rompi keluar secara otomatis.

Tidak berhenti pada sistem kendali tekanan, ADAPT-V juga dikembangkan dengan konsep Internet of Things (IoT). Data aktivitas anak dan respons rompi dapat dikirim melalui jaringan Wi-Fi menuju aplikasi smartphone.

Fitur tersebut memungkinkan orang tua dan terapis memantau kondisi anak dari jarak jauh secara real-time.

Pengembangan ADAPT-V dilakukan melalui Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC). Tim tersebut mendapat bimbingan dari dosen Teknik Elektro UB, Nurussa’adah, serta dosen Kedokteran, Agung Riyanto Budi S.

Nurussa’adah mengatakan aspek keamanan dan keandalan menjadi perhatian utama selama proses pengembangan. Pengujian dilakukan mulai dari akurasi sensor, respons algoritma dalam mengklasifikasikan kondisi emosi, hingga kestabilan tekanan udara.

Tim juga melibatkan terapis dari lembaga pendidikan inklusif dalam proses evaluasi. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan ADAPT-V memenuhi aspek kenyamanan, keamanan medis, sekaligus mudah digunakan saat diterapkan pada anak.

Melalui inovasi ini, lima mahasiswa UB tersebut berharap ADAPT-V dapat terus dikembangkan menjadi teknologi pendukung yang memberikan manfaat bagi anak dengan ASD, keluarga, maupun terapis.

Kolaborasi mahasiswa dari bidang teknik elektro, kedokteran, dan psikologi menjadi salah satu kekuatan utama dalam pengembangan ADAPT-V sebagai inovasi teknologi yang tidak hanya mengandalkan kecanggihan sistem, tetapi juga mempertimbangkan aspek kebutuhan dan kenyamanan penggunanya. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Putut Priyono
Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.