Makin Saling Mengerti, Khanza dan Tina Syifa Jadi Opsi Indonesia di AVC Continental 2026

oleh -134 Dilihat
TINA SYIFA U18
Tina Syifa Salim, kapten timnas volu putri Indonesia U-18. (AVC)

KabarBaik.co, Jakarta- Ada sesuatu yang lebih penting dari sekadar kemenangan dan kekalahan yang dibawa Timnas Voli Putri Indonesia dari rangkaian pertandingan sebelumnya. Yakni, rasa saling mengerti di antara para pemain semakin bertumbuh.

Tentu, modal tersebut menjadi bekal berharga bagi skuad Merah Putih menjelang tampil di AVC Women’s Volleyball Continental Championship 2026 di Tianjin, China, 21–30 Agustus mendatang.

Indonesia tergabung di Pool B bersama juara bertahan Thailand, Kazakhstan, dan Australia. Persaingan memang tidak ringan. Thailand datang sebagai juara tiga kali, sementara Kazakhstan dan Australia juga memiliki pengalaman cukup panjang di level Asia.

Namun, di tengah tantangan itu, Timnas Putri Indonesia justru memiliki alasan untuk menatap turnamen dengan semakin percaya diri.  Bukan karena tiba-tiba menjadi tim tanpa kelemahan. Bukan pula karena seluruh masalah teknis telah selesai. Tapi, karena satu sama lain mulai semakin memahami satu sama lain.

Perkembangan tersebut menjadi salah satu hal positif yang terlihat dalam perjalanan Timnas Putri Indonesia di SEA V Cup 2026 lalu. Ketika menghadapi situasi sulit, para pemain mulai menunjukkan kemampuan untuk tetap berada dalam satu ritme.

Komunikasi di lapangan semakin cair, distribusi bola lebih variatif, sementara pemain di setiap posisi mulai memahami kapan harus mengambil tanggung jawab dan kapan memberikan ruang kepada rekannya. Termasuk kapan meluapkan kebahagiaan tanpa malu. Toh, pemandangan itu biasa dilakukan pemain top sekalipun

Perubahan semacam ini mungkin tidak selalu terlihat di papan skor. Tetapi, bagi sebuah tim yang sedang membangun kekuatan, kemampuan untuk saling membaca justru bisa menjadi fondasi penting.

Ketika seorang setter sudah memahami kecenderungan spikernya, ketika outside hitter mengetahui kapan middle blocker membutuhkan dukungan, atau ketika para pemain belakang mampu membaca arah serangan lawan tanpa harus menunggu instruksi panjang, sebuah tim perlahan mulai memiliki identitas. Inilah yang tampaknya sedang dibangun.

BACA JUGALupakan SEA V Cup! Bedah Peluang Srikandi Indonesia di AVC Women’s Continental 2026

Dan momentum tersebut penting untuk dipertahankan menjelang Tianjin. Sebab, tekanan di AVC Continental tentu berbeda dengan kompetisi regional. Lawan yang dihadapi memiliki kualitas serangan, blok, servis, dan pengalaman yang jauh lebih tinggi.

Dalam kondisi seperti itu, pemain tidak hanya membutuhkan kemampuan teknis. Mereka membutuhkan kepercayaan kepada rekan setim.

Jangan Biarkan Hujatan Mengalahkan Kepercayaan Diri

Perjalanan Timnas Putri Indonesia dalam beberapa waktu terakhir juga tidak lepas dari sorotan. Hasil pertandingan yang belum selalu sesuai harapan sering kali menghadirkan kritik. Bahkan, di era media sosial, kritik dengan cepat dapat berubah menjadi hujatan atau bullying terhadap pemain.

Padahal, tekanan semacam itu tidak selalu membuat seorang atlet atau tim bermain lebih baik. Sebaliknya, jika tidak dikelola dengan tepat, tekanan berlebihan justru dapat membuat pemain takut melakukan kesalahan.

Bol voli termasuk salah satu olahraga yang berpotensi penuh kesalahan. Servis bisa masuk net. Receive bisa meleset. Spike bisa diblok. Setter bisa salah mengambil keputusan. Bahkan, peluang itu bisa dilakukan pemain nomor satu dunia sekalipun.

Yang membedakan tim kuat dengan tim biasa bukanlah kemampuan untuk tidak pernah melakukan kesalahan, melainkan bagaimana seluruh pemain merespons kesalahan tersebut. Karena itu, menjelang AVC Continental 2026, hal yang paling dibutuhkan Timnas Putri Indonesia bukan tambahan tekanan.

Mereka membutuhkan dukungan, kepercayaan, dan lingkungan yang membuat pemain berani bermain lepas.

Jika seorang pemain tahu bahwa kesalahan yang dibuatnya akan diperbaiki bersama, bukan langsung menjadi bahan hujatan, mental bertandingnya akan lebih sehat. Dan ketika mental lebih sehat, komunikasi di lapangan juga berpeluang menjadi lebih baik.

Timnas Putri Indonesia tidak membutuhkan pemain yang takut kalah. Mereka membutuhkan pemain yang berani mencoba menang.

Khanza dan Tina Syifa, Dua Opsi Amunisi dari Generasi Berikutnya

Dalam konteks tersebut, munculnya dua nama muda, Khanza Putri Yanzi Ganeshtri dan Tina Syifa Sabila Salim, menjadi menarik. Keduanya bukan sekadar simbol regenerasi.

Mereka bisa menjadi opsi amunisi baru apabila tim pelatih membutuhkan variasi permainan di AVC Continental 2026.

Khanza merupakan pemain berposisi opposite, sedangkan Tina Syifa bermain sebagai outside hitter. Keduanya sebelumnya menjadi bagian dari skuad Timnas U-18 Indonesia yang dipersiapkan menghadapi Princess Cup dan AVC U18 Girls Championship.

Khanza bahkan sudah mendapatkan pengalaman memperkuat tim pada level senior. Dalam daftar pemain Indonesia untuk AVC Women’s Volleyball Nations Cup 2026, namanya memang belum tercantum, tetapi Tina Syifa sudah masuk dalam daftar pemain senior pada ajang tersebut.

Artinya, kehadiran mereka di sekitar tim senior bukan sesuatu yang sepenuhnya datang dari ruang kosong. Ada proses regenerasi yang sedang berjalan. Ada pengalaman junior yang mulai dibawa menuju level lebih tinggi. Dan yang paling penting, keduanya bisa memberikan alternatif ketika tim membutuhkan perubahan ritme.

Khanza menjadi salah satu nama yang menarik perhatian dari generasi U-18. Sebagai opposite, pemain muda ini memiliki karakter permainan yang agresif. Posisi tersebut juga memberi Indonesia opsi tambahan ketika membutuhkan serangan dari sisi kanan.

Khanza tidak harus langsung diposisikan sebagai penyelamat tim. Justru lebih sehat jika kehadirannya dipandang sebagai bagian dari kedalaman skuad. Jika pemain utama mengalami kebuntuan, Khanza dapat menjadi salah satu alternatif.

Jika lawan mulai membaca pola serangan Indonesia, kehadiran pemain dengan karakter berbeda dapat membantu mengubah arah permainan.

Dan jika situasi pertandingan membutuhkan energi baru, pemain muda seperti Khanza dapat memberikan suntikan keberanian. Itulah fungsi regenerasi yang sesungguhnya. Bukan menggantikan generasi sebelumnya secara tergesa-gesa, tetapi menambah pilihan bagi pelatih.

Hal serupa berlaku untuk Tina Syifa. Sebagai outside hitter, Tina memiliki ruang untuk memberikan opsi tambahan di sektor sayap sekaligus membantu sistem penerimaan bola.

Pengalamannya bersama Timnas U-18 menjadi modal penting. Dalam skuad U-18 yang diumumkan PBVSI, Tina menempati posisi outside hitter bersama Venis Dwi Oktaviani, Zebe Hawlyy Almadina Pramesti, dan Vania Nurfatima Hafani.

Naik ke level senior tentu bukan perkara sederhana. Kecepatan bola berbeda. Tekanan blok lebih tinggi. Kesalahan kecil bisa langsung dihukum lawan. Namun justru karena itulah pengalaman seperti ini penting bagi regenerasi.

Tina tidak harus datang ke Tianjin dengan beban sebagai pemain muda yang harus langsung menjadi bintang. Cukup datang sebagai pemain yang siap memberikan pilihan ketika dibutuhkan.

Opsi Memaksa Megawati Hangestri

Andaikan pemain-pemain berpengalaman seperti Megawati Hangestri Pertiwi berada dalam komposisi utama, keberadaan pemain senior juga memiliki arti penting bagi proses adaptasi generasi muda. Megawati bukan hanya bisa menjadi sumber poin.

Pengalaman bermain di level internasional membuat pemain seperti dirinya dapat menjadi figur yang membantu pemain muda memahami atmosfer pertandingan besar.

Namun, konsep regenerasi tidak boleh berhenti pada satu atau dua pemain. Kekuatan Indonesia harus dibangun sebagai sebuah ekosistem. Pemain senior memberi pengalaman. Pemain yang lebih muda membawa energi. Pemain baru memberikan opsi.

Dan semuanya harus merasa bahwa mereka berada dalam satu tim. Darah dan semangat juang Merah Putih. Bukan lagi klub asal daerah atau yang lain. Tapi, Garuda!

Kini, AVC Continental 2026 akan menjadi tantangan menarik. Thailand, Kazakhstan, dan Australia menunggu di Pool B. Indonesia tidak boleh hanya mengandalkan satu atau dua pemain untuk memenangkan pertandingan.

Kedalaman skuad, disiplin, kemampuan membaca permainan, dan terutama mental akan menjadi faktor penting. Indonesia juga memiliki kesempatan untuk mengejar pencapaian lebih tinggi karena tiga tim terbaik turnamen akan mendapatkan tiket ke FIVB World Championship 2027, sementara juara berhak tampil di Olimpiade 2028.

Karena itu, atmosfer di sekitar tim juga perlu dijaga. Kritik tentu tetap diperlukan. Evaluasi harus tetap dilakukan. Tetapi kritik yang membangun berbeda dengan hujatan yang membuat atlet kehilangan kepercayaan diri.

Menjelang pertandingan sebesar AVC Continental, dukungan publik bisa menjadi energi tambahan. Biarkan pelatih mengoreksi kesalahan teknis.  Biarkan pemain memperbaiki kekurangan. Dan, biarkan para pejuang olahraga itu bertanding dengan keyakinan bahwa satu kesalahan tidak akan membuat seluruh perjuangan mereka dianggap gagal.

Jika Indonesia mampu mempertahankan perkembangan dalam hal komunikasi dan rasa saling percaya yang mulai terlihat, maka perjalanan ke Tianjin tidak sekadar menjadi perjalanan menuju turnamen besar. Ini bisa menjadi tahap penting dalam pembentukan wajah baru Timnas Voli Putri Indonesia.

Skuad ini memang masih memiliki pekerjaan rumah. Konsistensi belum sempurna. Penerimaan masih harus diperkuat.  Variasi serangan perlu terus dikembangkan. Mental ketika berada di bawah tekanan juga harus semakin matang.

Tetapi fondasinya mulai terlihat. Para pemain semakin memahami satu sama lain. Dan fondasi itulah yang harus diperkuat, bukan diruntuhkan oleh tekanan berlebihan. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: F. Noval
Editor: Supardi Hardy


No More Posts Available.

No more pages to load.