KabarBaik.co, Malang – Setelah puluhan tahun menetap di Belanda, mantan basis awal band rock Elpamas, Didik Sucahyo, kembali menyapa penikmat musik Indonesia melalui karya musiknya sendiri.
Didik yang meninggalkan Indonesia dan menetap di Belanda sejak 1998 kini kembali aktif bermusik. Jika sebelumnya ia dikenal sebagai salah satu pemain bas Elpamas, kali ini Didik memilih menggarap karya secara mandiri dengan menggandeng sejumlah musisi Indonesia.
Proyek tersebut menjadi bagian dari aktivitas Didik saat mengisi liburan di Indonesia. Selain bernostalgia dengan lingkungan musik yang pernah membesarkan namanya, ia ingin membawa ide-ide musik yang selama ini tersimpan di komputer maupun telepon selulernya menjadi karya yang bisa dinikmati publik.
“Saya ingin mencoba karya saya sendiri tanpa melibatkan Elpamas. Ide-ide yang ada di Belanda saya simpan di komputer atau di handphone. Akhirnya saya lihat ada dua lagu yang menurut saya menarik untuk konsumsi Indonesia,” ujar Didik, Senin (24/8).
Dalam penggarapan karya tersebut, Didik menggandeng Boby pada drum, Sam Rony sebagai vokalis, serta Wiwil pada gitar. Kolaborasi itu berawal dari pertemuan dan komunikasi yang terjalin ketika Didik beberapa kali bermain musik bersama para musisi di Indonesia.
Salah satu lagu yang telah dirilis melalui platform Spotify berjudul “Malam Tanpa Mimpi”. Lagu tersebut mengusung warna pop rock dengan sentuhan melodi romantis dan nuansa Melayu.
Menurut Didik, karakter melodi yang melankolis dipilih karena dinilai cukup dekat dengan selera pendengar musik di Indonesia maupun Asia. Namun, ia berusaha mengemasnya tanpa membuat lagu tersebut terdengar terlalu cengeng.
“Liriknya romantis, musiknya ada nuansa Melayu. Saya mencoba membuatnya tidak cengeng,” ungkapnya.
Didik mengakui meski terdapat warna musik yang sekilas mengingatkan pada Elpamas, karya barunya tersebut memiliki karakter berbeda. Ia sengaja tidak menjadikan Elpamas sebagai acuan utama karena ingin menunjukkan identitas musikalnya sendiri.
Ia berharap dua lagu yang tengah dikembangkan tersebut dapat menjadi langkah awal untuk membangun kesinambungan karya musiknya di Indonesia.
“Ini ibarat telur sudah pecah. Sekarang tinggal bagaimana mengembangkannya dan bagaimana mengemasnya. Saya ingin ada kontinuitas,” tuturnya.
Diketahui, Didik meninggalkan Elpamas dan Indonesia pada 1998, ketika band tersebut masih berada dalam periode produktif. Saat itu, Elpamas dikenal luas melalui sejumlah karya, termasuk lagu ‘Pak Tua’ yang diciptakan pada 1991.
Didik sebenarnya hanya berencana pergi ke Belanda untuk sementara waktu. Namun, situasi yang terjadi di Indonesia pada masa Reformasi 1998 membuat rencana tersebut berubah.
“Saya pindah ke Belanda pada 1998, lepas dari Elpamas. Waktu itu Elpamas sedang booming dengan ‘Pak Tua’. Saya sebenarnya janji ke Belanda sebentar, tetapi sampai di sana malah tidak kembali,” kenangnya.
Di Belanda, Didik kembali membangun aktivitas bermusik. Ia bergabung dengan grup band bernama The Raspers dan menjadi satu-satunya personel asal Indonesia dalam grup tersebut.
Ia juga pernah mengiringi penyanyi dari grup legendaris Shocking Blue, Mariska Veres. Aktivitas musiknya di Belanda lebih banyak dilakukan dalam bentuk penampilan dan perilisan single dibandingkan mengejar produksi album penuh.
Bahkan, puluhan tahun bermusik di Belanda membuat Didik melihat adanya perbedaan cara pandang antara musisi di sana dengan musisi Indonesia.
Menurutnya, musisi di Belanda memberikan perhatian besar terhadap detail permainan. Bahkan, persoalan sederhana seperti panjang-pendek nada, jeda, hingga penempatan not menjadi bagian penting dalam sebuah permainan musik.
“Di sana yang diperhatikan detail. Main dua atau tiga not tidak masalah, tetapi penempatannya harus benar. Setengah not, seperempat, berhentinya bagaimana, not itu dipanjangkan atau tidak, sangat diperhatikan,” jelasnya.
Menurut Didik, perbedaan tersebut bukan persoalan mana yang lebih baik, melainkan lebih kepada karakter dan cara pandang dalam bermusik.
Ia juga melihat perkembangan musik Indonesia saat ini berlangsung sangat dinamis. Namun, menurutnya, sebagian musisi masih cenderung mengikuti tren pasar, salah satunya ketika musik dangdut koplo menjadi populer.
Meski demikian, Didik menilai Indonesia tetap memiliki banyak musisi potensial yang mampu menembus pasar internasional. Ia menyebut sejumlah musisi independen dari Surabaya dan gitaris yang berhasil tampil dalam festival blues dunia sebagai contoh bahwa musik Indonesia memiliki peluang besar untuk dikenal lebih luas.
Nostalgia Sekaligus Membuka Babak Baru
Kembalinya Didik menggarap musik di Indonesia bukan sekadar nostalgia terhadap masa lalu. Ia ingin menjadikan pengalaman panjang bermusik di Belanda sebagai bekal untuk menghasilkan karya baru bersama musisi Indonesia.
Bagi Didik, proyek tersebut juga menjadi cara untuk menjaga hubungan dengan ekosistem musik Indonesia setelah sekian lama hidup di Belanda.
Sementara itu, drummer Boby mengatakan, proses bermusik bersama Didik menjadi kesempatan untuk saling berbagi pengalaman sekaligus menjaga memori musikal.
Menurut Boby, karakter permainan dalam proyek tersebut memiliki ciri khas tersendiri, terutama pada penggunaan distorsi gitar yang tebal. Didik juga memberikan perhatian terhadap pola ritme agar tidak terlalu didominasi karakter pop.
“Sharing dengan kita ini supaya memorinya tidak hilang. Tetapi notasinya tetap menjadi karakteristik, distorsinya tebal. Om Didik meminta supaya lebih jelas, bit-nya tidak dominan pop,” ujar Boby.
Bagi Didik, dua lagu yang tengah dikembangkan tersebut merupakan langkah kecil untuk kembali menancapkan jejak di dunia musik Indonesia. Setelah lama bermusik di Belanda, ia kini mencoba mempertemukan pengalaman masa lalu dengan gagasan baru tanpa harus terjebak pada nostalgia Elpamas semata. (*)







