KabarBaik.co, Nganjuk – Bangunan bergaya Joglo Jawa kini kembali menjadi primadona dan kebanggaan tersendiri bagi masyarakat. Tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, bangunan ini menjadi simbol kuatnya akar budaya yang diwariskan turun-temurun dari para kakek moyang sejak zaman dahulu kala.
“Memang benar, membangun rumah Joglo itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit, namun nilainya jauh lebih mahal daripada sekadar harga material. Ini adalah tentang harga diri dan kebanggaan memiliki warisan budaya sendiri,” ungkap Sekretaris Komisi IV DPRD Nganjuk, Edy Santoso, Kamis (7/5).
Keunikan arsitektur Joglo, salah satunya yang terletak di Desa/Kecamatan Baron, terletak pada kesan megah, luas, dan terbuka, namun tetap memancarkan nuansa yang sangat tradisional dan kental. Kini, banyak penggemar arsitektur yang memadukan keanggunan Joglo Jawa dengan sentuhan seni khas Bali, menciptakan harmoni yang indah dan estetik.
“Kesan tradisional itulah yang menjadi tujuan utama. Meski zaman terus berkembang dan modernisasi masuk, keinginan untuk memiliki bangunan Joglo tetap tinggi karena ini adalah ciri khas budaya Jawa yang tidak dimiliki oleh bangsa lain,” jelasnya.
Menurut Edy, keputusan membangun Joglo bukan sekadar soal gaya atau tren, melainkan bentuk penghormatan terhadap leluhur. Struktur bangunan yang kokoh dengan tiang-tiang penyangga dan atap yang menjulang menjadi metafora kekuatan dan kestabilan kehidupan.
“Kakek moyang kita sudah membangun dan melestarikan ini sejak dulu. Maka sudah sepantasnya kita sebagai generasi penerus juga ikut menjaga dan membangunkannya kembali, agar identitas budaya kita tidak hilang tergerus zaman,” tambah Edy.
Keberadaan bangunan Joglo, baik yang asli maupun hasil renovasi, kini menjadi ikon yang mempercantik wajah daerah. Selain bernilai seni tinggi, bangunan ini juga menjadi daya tarik tersendiri yang menunjukkan bahwa nilai-nilai tradisi masih sangat dihargai dan hidup di tengah masyarakat modern. (*)







