KabarBaik.co, Nganjuk – Bagi masyarakat Jawa, datangnya bulan Suro bukan sekadar pergantian tanggal di penanggalan. Bulan pertama dalam kalender Jawa yang bertepatan dengan 1 Muharram dalam kalender Hijriah ini dianggap sebagai waktu yang sangat sakral, penuh makna spiritual, sekaligus sarat akan tradisi leluhur yang masih terjaga erat hingga kini.
“Bulan ini dianggap sangat sakral dan dimaknai sebagai waktu keramat untuk introspeksi diri, menyucikan batin, dan memohon keselamatan dari Tuhan,” ujar Bopo Boniman, salah seorang sesepuh sekaligus pelaku seni asal Kaloran, Ngronggot, Nganjuk, saat ditemui pada Selasa (16/6).
Sebagai bulan yang dikeramatkan, Suro identik dengan suasana keprihatinan. Masyarakat diajak untuk menahan diri dari kesenangan duniawi yang berlebihan. Ini adalah momen krusial untuk mengendalikan hawa nafsu, mengurangi hura-hura, dan lebih mendekatkan diri kepada Sang Pencipta melalui laku spiritual.
Menurut pria yang juga aktif dalam kesenian jaranan atau seni kuda lumping ini, aspek penting bagi orang Jawa di bulan ini meliputi “Bulan Prihatin” dan “Waktu Eling lan Waspodo” sebuah momentum untuk selalu ingat akan asal-usul dan Tuhan, serta waspada terhadap segala godaan dan marabahaya.
Puncak dari sakralitas ini puncaknya terjadi pada Malam Satu Suro, yang menandai pergantian tahun.
“Ya seperti tadi malam. Orang Jawa biasanya melakukan tirakatan (tidak tidur semalaman), berdoa, dan bermunajat,” tambah Bopo Boniman mengenai tradisi kuat yang dilakukan masyarakat umum pada malam pergantian tahun tersebut.
Di samping ritual keagamaan dan budaya, bulan Suro juga diselimuti oleh berbagai mitos dan pantangan yang masih dipegang teguh oleh sebagian besar masyarakat.
Larangan-larangan ini dianggap sebagai bentuk penghormatan terhadap kesakralan bulan, sekaligus upaya menolak bala.
Bopo Boniman menjelaskan bahwa selama bulan Suro, terdapat sejumlah pantangan kuat seperti, tidak menggelar hajatan, terutama pernikahan, karena dipercaya akan membawa kesialan bagi pengantin.
“Tidak membangun atau pindah rumah, serta tidak keluar rumah pada malam 1 Suro kecuali untuk tujuan ibadah atau kegiatan spiritual.” Jelasnya
Melalui perpaduan antara doa, tirakat, dan kepatuhan terhadap tradisi, bulan Suro tetap menjadi kompas spiritual bagi masyarakat Jawa untuk memulai lembaran tahun yang baru dengan hati yang bersih dan mawas diri.





