KabarBaik.co, Jakarta- Umat Islam bersiap menyambut datangnya Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah, yang jatuh pada Selasa, 16 Juni 2026. Memasuki bulan Muharram atau yang dikenal masyarakat Jawa sebagai bulan Suro ini, umat Islam sangat dianjurkan untuk memperbanyak amal ibadah.
Terkait momentum tersebut, Pengasuh Lembaga Pembinaan Pendidikan dan Pengembangan Ilmu Al-Qur’an (LP3iA), KH Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha), memberikan ijazah amalan khusus untuk menyambut malam pergantian tahun, yakni mendirikan Salat Tasbih dan memperbanyak wirid.
Menurut Gus Baha, amalan ini sangat istimewa karena berfokus pada pembersihan dosa secara mutlak melalui untaian kalimat tasbih. “Ini ada ibadah yang menghapus dosa tetapi bentuk wiridnya itu tasbih. Tidak ada istighfarnya. Inilah rahasia kenapa saya mengajarkan tasbih,” ujar Gus Baha sebagaimana dikutip dari NU Online.
Gus Baha menjelaskan bahwa anjuran ini bersandar pada hadis Nabi Muhammad SAW yang termaktub dalam kitab I’anatuth Thalibin. Dalam hadis yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA, Rasulullah SAW menawarkan hadiah luar biasa ini kepada pamannya, Abbas bin Abdul Muthalib:
“Maukah kamu saya kasih? Maukah kamu saya anugerahi? Apakah kamu tidak senang jika engkau melakukannya, Allah akan mengampuni dosamu, awalnya, akhirnya, yang lama, yang baru, yang tanpa disengaja maupun yang terang-terangan? Engkau shalat empat rakaat, di setiap rakaat membaca Al-Fatihah dan satu surat.”
Gus Baha menekankan bahwa momentum pergantian tahun adalah waktu yang sangat tepat untuk mengamalkan shalat ini. Melalui Salat Tasbih, Allah SWT akan mengampuni dosa hamba-Nya yang terdahulu maupun yang akan datang.
“(Awwalahu wa aakhirahu, qodiimahu wa hadiitsahu, sirrohu wa ‘alaaniyatahu). Kiai-kiai itu mengajarkan,” terang ulama asal Rembang tersebut.
Panduan Tata Cara Salat Tasbih
Secara teknis, Salat Tasbih dilakukan sebanyak 4 rakaat (dua salam) dengan total 75 kali pembacaan tasbih di setiap rakaatnya (total 300 tasbih dalam 4 rakaat). Kalimat tasbih yang dibaca adalah: Subhânallah, wal hamdu lillah, wa lâ ilâha illallah, wallahu akbar.
Adapun rincian urutan dan jumlah bacaannya di setiap rakaat adalah sebagai berikut:
- Saat Berdiri: Setelah membaca Al-Fatihah dan surat pendek, baca tasbih sebanyak 15 kali.
- Saat Rukuk: Membaca tasbih sebanyak 10 kali.
- Saat I’tidal: Membaca tasbih sebanyak 10 kali.
- Saat Sujud Pertama: Membaca tasbih sebanyak 10 kali.
- Saat Duduk di Antara Dua Sujud: Membaca tasbih sebanyak 10 kali.
- Saat Sujud Kedua: Membaca tasbih sebanyak 10 kali.
- Saat Duduk Istirahat (sebelum berdiri atau salam): Membaca tasbih sebanyak 10 kali.
Dengan formula ini, total tasbih yang dihimpun dalam satu rakaat genap berjumlah 75 kali.
Amalan Utama di Bulan Muharram Menurut Para Ulama
Selain Salat Tasbih yang diijazahkan oleh Gus Baha itu, khazanah keislaman juga mencatat berbagai amalan lain yang dianjurkan sepanjang bulan Muharram. Para ulama telah mengklasifikasikan jenis-jenis ibadah dan kebaikan yang hendaknya diperbanyak umat Muslim, yaitu:
- Melakukan saalat (termasuk salat sunnah dan salat tasbih)
- Berpuasa (khususnya puasa Tasu’a dan Asyura pada 9 & 10 Muharram)
- Menyambung tali silaturahim
- Bersedekah kepada yang membutuhkan
- Mandi (membersihkan diri)
- Memakai celak mata
- Berziarah kepada ulama (baik yang masih hidup maupun yang telah wafat)
- Menjenguk orang yang sedang sakit
- Menambah nafkah atau uang belanja keluarga
- Memotong kuku
- Mengusap kepala anak yatim (menyantuni dan mengasihi mereka)
- Membaca Surat Al-Ikhlas sebanyak 1.000 kali.
Momentum fajar baru 1448 Hijriah sejatinya adalah waktu emas bagi umat Muslim untuk melakukan refleksi spiritual (muhasabah). Mengombinasikan Salat Tasbih tuntunan Rasulullah SAW dengan deretan amalan sosial dan ritual di atas diharapkan dapat menjadi wasilah (perantara) datangnya keberkahan dan ampunan total di tahun yang baru. (*)






