KabarBaik.co, Batu – Suasana budaya yang kental dengan nilai tradisi dan kearifan lokal kembali akan mewarnai kawasan Songgoriti, Kota Batu. Paguyuban Sanggar Empu Supo bersama masyarakat setempat siap menggelar agenda tahunan Ngarak Banteng 1 Suro Empu Supo ke-18 pada Senin Kliwon, 22 Juni 2026.
Perhelatan budaya yang telah berlangsung hampir dua dekade tersebut mengusung tema ‘Manggalaning Gwaya Purna Udaya’, yang bermakna lahirnya semangat baru menuju kemajuan, kesejahteraan, dan harmoni kehidupan masyarakat melalui penguatan nilai-nilai budaya leluhur.
Kegiatan yang menjadi salah satu ikon pelestarian budaya di Malang Raya itu akan berlangsung mulai pukul 09.00 WIB hingga selesai di kawasan wisata budaya Songgoriti. Tahun ini, sebanyak 50 kontingen kirab budaya dari berbagai daerah di Malang Raya dipastikan ambil bagian dalam prosesi yang selalu menjadi magnet bagi masyarakat dan wisatawan.
Ketua Pelaksana Ngarak Banteng 1 Suro Empu Supo ke-18, Bayu Satria Putra, mengatakan kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ajang pertunjukan seni tradisional, tetapi juga sarana memperkuat identitas budaya lokal di tengah derasnya arus modernisasi.
“Fokus utama kegiatan ini adalah nilai seni, budaya, dan keharmonisan musik tradisional. Bukan kompetisi volume suara,” tegasnya, Sabtu (20/6).
Untuk menjaga kesakralan dan kualitas penyelenggaraan, panitia menerapkan sejumlah aturan yang harus dipatuhi seluruh peserta. Kirab hanya dapat diikuti kelompok yang telah menerima undangan resmi dari panitia dengan jumlah peserta maksimal 35 orang per kontingen.
Panitia juga melarang penggunaan berbagai jenis pengeras suara, mulai dari sound system, TOA, hingga sound horeg yang belakangan marak digunakan dalam berbagai kegiatan karnaval. Sebagai gantinya, seluruh peserta diwajibkan menampilkan pertunjukan musik secara langsung atau live music.
Kebijakan tersebut diterapkan agar esensi seni pertunjukan tetap terjaga serta memberikan ruang lebih besar bagi para seniman untuk menunjukkan kemampuan mereka secara autentik.
Selain itu, peserta dilarang berhenti di sepanjang rute kirab guna menjaga kelancaran lalu lintas dan aktivitas masyarakat. Atraksi maupun pertunjukan hanya diperbolehkan dilakukan di panggung penghormatan yang telah disediakan panitia dengan durasi maksimal enam menit untuk setiap kontingen.
Setelah tampil, rombongan diwajibkan langsung bergerak menuju area keluar dan tidak diperkenankan berkerumun di sepanjang jalur finish.
Dari sisi keamanan, panitia juga menegaskan larangan membawa minuman keras, narkotika maupun senjata tajam yang tidak berkaitan dengan kebutuhan pertunjukan. Penggunaan senjata tradisional hanya diperbolehkan saat tampil dan tetap berada dalam pengawasan penanggung jawab masing-masing kelompok.
Perhatian khusus turut diberikan pada kawasan bersejarah Candi Songgoriti atau yang dikenal masyarakat sebagai Candi Supo. Mengingat nilai historis dan spiritual yang dimiliki situs tersebut, akses peserta ke area candi dibatasi hanya untuk perwakilan tertentu yang diwajibkan menjaga etika dan kesopanan selama berada di lokasi.
Aspek kebersihan lingkungan juga menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan tahun ini. Panitia melarang penggunaan dekorasi berlebihan yang memanfaatkan tanaman hidup berukuran besar seperti pohon beringin maupun batang pisang. Seluruh properti yang dibawa peserta wajib dibawa kembali setelah kegiatan selesai.
Dengan berbagai persiapan dan aturan yang telah ditetapkan, Ngarak Banteng 1 Suro Empu Supo ke-18 diharapkan tidak hanya menjadi tontonan budaya yang menarik, tetapi juga sarana edukasi dan pelestarian tradisi Jawa yang tetap relevan di tengah perkembangan zaman.
Kehadiran puluhan kontingen budaya dari berbagai daerah diprediksi akan menghadirkan suasana khas yang penuh warna sekaligus memperkuat posisi Kota Batu sebagai salah satu destinasi wisata budaya unggulan di Jawa Timur pada momentum pergantian Tahun Baru Jawa. (*)






