KabarBaik.co, Malang – Ramainya perbincangan di media sosial terkait desain toga baru Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berujung pada keputusan kampus membatalkan penggunaan atribut wisuda tersebut. Toga tersebut sempat menjadi sorotan karena dinilai sejumlah warganet menyerupai kostum kesenian bantengan.
Toga itu akhirnya ditarik dari peredaran menjelang pelaksanaan Wisuda Periode ke-122 Tahun 2026. Keputusan itu diambil setelah kritik dan berbagai komentar bermunculan di media sosial. Manajemen UMM memilih kembali menggunakan toga lama sembari membuka layanan penukaran bagi seluruh calon wisudawan yang telah menerima atribut versi terbaru.
Kepala Biro Kemahasiswaan dan Alumni (BKA) UMM Tatag Muttaqin mengatakan dinamika yang berkembang di media sosial menjadi bahan evaluasi penting bagi pimpinan universitas. Menurutnya, Rektor UMM memutuskan untuk menarik seluruh toga baru sebagai bentuk tanggung jawab terhadap kualitas atribut wisuda.
“Pak Rektor mendengarkan dengan bijaksana, beliau memutuskan bahwa ini adalah bagian dari tanggung jawab UMM. Maka seluruh toga yang kemarin dibagikan untuk kegiatan ini kita tarik semua, dan kita sementara kembali menggunakan toga lama. Kami mengakui ada kesalahan desain, bahan, dan warna. UMM ini kampus besar, kalau kualitasnya seperti itu ya kita tidak berkenan memaksakannya,” ujarnya, Rabu (8/7).
Tatag menjelaskan sebenarnya perubahan desain toga merupakan bagian dari upaya penyegaran atribut wisuda yang telah digunakan selama bertahun-tahun. Gagasan tersebut muncul dari jajaran pimpinan kampus agar tampilan toga terlihat lebih modern dan menarik.
“Sebenarnya arahan dari para rektor memang harus kita lewati. Toga yang kita gunakan saat ini kan posisinya sudah sangat lama sekali dipakai. Kami di level pimpinan kemarin memikirkan dan merencanakan adanya penyegaran desain toga yang akan digunakan agar lebih fresh dan menarik,” ungkapnya.
Namun dalam proses produksi massal, hasil yang diterima kampus ternyata tidak sesuai dengan contoh yang sebelumnya telah disepakati. Perbedaan pada aspek desain, warna, hingga bahan membuat kualitas toga dinilai jauh dari harapan.
“Memang yang terjadi adalah apa yang sudah kita sepakati terkait desain, warna, dan bahan itu ternyata tidak sesuai dengan apa yang pertama kita contohkan. Karena ketidaksesuaian itu, saat dicoba dibagikan kepada calon wisudawan, muncul respons yang masif,” jelas Tatag.
Hingga kini proses penarikan atribut terus dilakukan. Dari total 971 peserta wisuda yang dijadwalkan mengikuti prosesi pada 7 hingga 9 Juli 2026, sekitar 460 toga telah dikembalikan ke panitia untuk ditukar dengan toga model lama.
UMM menargetkan seluruh proses penukaran selesai sebelum rangkaian wisuda berakhir. Seluruh biaya penarikan maupun distribusi ulang atribut ditanggung sepenuhnya oleh universitas.
Meski batal digunakan pada periode wisuda kali ini, UMM memastikan rencana penyegaran desain toga tidak dihentikan. Evaluasi terhadap proses produksi akan dilakukan secara menyeluruh agar desain baru yang akan digunakan pada masa mendatang benar-benar sesuai dengan konsep awal dan standar kualitas yang diharapkan. (*)






