Misteri 9 Goa di Jombang, Jejak Pelarian Maling Caluring hingga Kisah Penunggu Mistis

oleh -172 Dilihat
Maling Caluring
Suyono salah satu warga setempat menunjukkan salah satu area Goa di Desa Latsari (Istimewa)

KabarBaik.co, Jombang — Di ujung Kecamatan Mojowarno, Jombang, terdapat sebuah desa yang menyimpan kisah turun-temurun yang masih dipercaya warga hingga kini. Desa Latsari dikenal dengan keberadaan sembilan lubang goa yang sarat cerita legenda dan nuansa mistis.

Lubang-lubang tersebut tersebar di beberapa titik, mulai dari area persawahan hingga pekarangan warga. Meski sebagian sudah tertutup dan sulit diakses, jejaknya masih bisa ditemukan.

Kepala Desa Latsari, Muslikan, menjelaskan bahwa keberadaan goa-goa ini berkaitan dengan legenda Maling Caluring, tokoh yang konon melarikan diri usai mencoba menculik Putri Bajang dari Desa Karanglo.

“Dalam pelariannya, Maling Caluring membuat lubang-lubang ini sebagai tempat persembunyian,” kata Muslikan, Sabtu (16/5).

Ia menyebutkan ukuran goa relatif sempit. Pengunjung yang masuk harus berjalan satu arah sambil membungkuk.

Dari sembilan lubang yang ada, dua berada di tengah sawah, empat di lahan milik warga, dan tiga lainnya berada di area pabrik. Bahkan, dua di antaranya kini telah tertutup bangunan dan mesin pabrik, sementara sebagian lainnya hanya tersisa lubang kecil yang berfungsi sebagai saluran air.

Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah desa untuk melestarikannya sebagai situs cagar budaya.

“Status kepemilikan lahan menjadi kendala utama. Perlu proses panjang jika ingin dilakukan penetapan atau pengelolaan,” ujarnya.

Selain nilai sejarah, warga juga meyakini adanya unsur mistis di setiap goa. Beberapa lubang dipercaya memiliki ‘penunggu’, seperti sosok Eyang Kertojoyo di goa kesembilan dan Nyai Sungging di goa kedelapan.

Kepercayaan tersebut masih dijaga melalui tradisi tahunan. Setiap bulan Suro, warga menggelar ritual bersih desa yang diisi dengan doa bersama, sedekah desa, hingga pagelaran wayang.

“Ini bentuk rasa syukur sekaligus doa agar desa tetap aman dan tenteram,” kata Muslikan.

Salah satu warga setempat, Suyono, 69, masih mengingat pengalaman masa mudanya saat menjelajahi goa-goa tersebut. Ia menunjuk salah satu lubang yang kini tersembunyi di balik semak lebat.

Menurutnya, dahulu warga kerap masuk ke dalam goa untuk mencari sarang burung sriti.

“Dulu banyak burung sriti di dalamnya. Kami berani masuk sampai ke dalam,” ujarnya.

Suyono juga menceritakan salah satu goa memiliki kedalaman sekitar enam meter dengan aliran air yang mengarah ke sungai. Sementara goa lain di pekarangan warga dulunya merupakan punden yang sering didatangi seniman sebelum pentas.

“Ada dalang dan pemain kuda lumping yang datang untuk meminta restu,” katanya.

Di kawasan ini, juga terdapat goa dengan aliran air cukup deras yang diselimuti mitos. Warga meyakini lorongnya terhubung hingga ke wilayah Kerajaan Majapahit di Mojokerto.

Sementara itu, goa kedelapan dan kesembilan yang berada di area persawahan dipercaya sebagai tempat bersemayam tokoh spiritual yang dihormati warga setempat.

Menariknya, sejarah Desa Latsari tidak terlepas dari Desa Karanglo. Tokoh yang diyakini sebagai pembabat alas atau perintis wilayah justru dimakamkan di Karanglo, memperkuat hubungan historis dan kultural antara kedua desa.

Hingga kini, sembilan lubang goa di Desa Latsari bukan sekadar bentukan alam, melainkan bagian dari identitas lokal yang menyatukan sejarah, legenda, dan kepercayaan masyarakat setempat. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Teguh Setiawan
Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.