KabarBaik.co, Nganjuk – Gemuruh yel-yel ratusan buruh menggema di sepanjang jalan Desa Nglundo, Sukomoro, Nganjuk, melepas kepulangan Presiden Prabowo Subianto setelah meresmikan Museum Marsinah. Di tengah lautan manusia yang saling berdesakan pada Sabtu (16/5) sore itu, seorang remaja berdiri bergeming dalam sunyi.
Hendro Prasetyo, seorang remaja tunarungu asal Kertosono, mengangkat tinggi-tinggi sebuah bingkai berisi lukisan hitam-putih. Kegigihan itu rupanya tertangkap oleh pandangan mata sang Presiden; mobil RI 1 mendadak mengerem, menahan lajunya di tengah kerumunan.
“Lukisan anak saya, kami bawa ke sini untuk diberikan kepada Pak Prabowo. Awalnya kami membawanya di pintu masuk tenda, tapi tidak berhasil,” ungkap Slamet, ayah Hendro, menceritakan perjuangan mereka yang sempat menemui jalan buntu di area sterilisasi paspampres.
Melihat sang anak tak patah arang, Slamet dengan sigap menggandeng Hendro untuk bergeser, menyusup ke barisan para buruh di dekat jalur keluar kendaraan kepresidenan.
Naluri seorang ayah terbukti benar. Ketika kaca mobil kepresidenan diturunkan, Prabowo langsung melambaikan tangan, memanggil Hendro mendekat, dan memintanya naik ke pijakan samping mobil agar bisa bersalaman langsung.
“Terus saya dan anak saya ke arah jalan keluar. Baru bisa memberikan lukisan itu. Alhamdulillah diterima dengan baik oleh Pak Prabowo. Dan kami dikasih uang,” beber Slamet dengan mata berkaca-kaca.
Momen haru pun memuncak saat Prabowo dengan bangga mengangkat lukisan sketsa wajah dirinya yang berbahan pensil tersebut ke udara, menunjukkannya kepada khalayak seolah memamerkan sebuah mahakarya.
Sebagai bentuk apresiasi spontan, sebuah amplop putih diulurkan dari dalam mobil ke tangan Hendro yang gemetar karena bahagia.
“Saya memberikan lukisan hitam putih dari pensil karya saya. Saya mempersiapkan dua minggu. Saya bangga, lukisan saya diterima Bapak Prabowo,” kata Hendro diterjemahkan ayahnya. (*)






