Mitos Watu Gandul dan Parang Rusak, Jejak Legenda di Balik Nama Ngluyu Nganjuk

oleh -56 Dilihat
Watu Gandul
Watu Gandul di Nganjuk

KabarBaik.co, Nganjuk– Tersembunyi di lereng bukit Desa Ngluyu, terdapat sebuah fenomena alam unik yang dikenal sebagai Watu Gandul. Batu raksasa yang posisinya seolah menggantung ini bukan hanya keajaiban alam, melainkan juga menyimpan kisah legenda yang sangat kuat di masyarakat.

Cerita ini menceritakan asal usul nama daerah dan makna di balik motif batik khas yang dilarang dipakai di lokasi tersebut.

“Pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang jin bernama Kala Haluyu. Ia tinggal sendirian di tengah hutan dan sangat terkenal karena kekuatan gaibnya. Ia bisa berubah wujud menjadi manusia, namun sifatnya sangat jahat karena suka membunuh dan memakan manusia,” demikian bunyi cerita yang turun-temurun, seperti dikutip sejarawan Nganjuk Sukadi, Minggu (5/4)

Sukadi melanjutkan suatu hari, Kala Haluyu ingin berguru kepada Begawan Surongmungujoyo untuk mempelajari ilmu. Di antara murid lainnya, penampilannya selalu paling menarik karena selalu memakai pakaian bermotif Batik Parang Rusak. Sayangnya, motif ini justru membuatnya semakin sombong dan angkuh.

Anehnya, ia melarang orang lain memakai motif yang sama. Hal ini memicu kemarahan hingga terjadi pertikaian yang berakhir dengan kematian salah seorang murid bernama Cantrik Halayuda.

“Kenapa kamu memakai motif yang mirip dengan saya? Ini motifku, bukan milikmu,” kata Kala Haluyu dengan angkuh.

Kesombongan ini akhirnya diketahui oleh gurunya. Dengan kesaktiannya menggunakan surban ajaib, Begawan memelintir tubuh Kala Haluyu dan menjebaknya di antara dua batu besar di lereng bukit. Sejak saat itu, makhluk tersebut tidak bisa bergerak lagi.

Sebelum terkunci selamanya, Kala Haluyu sempat mengancam akan membunuh siapa saja yang memakai pakaian mirip dengannya saat lewat di tempat itu. Mendengar hal itu, Begawan pun melarang masyarakat memakai Batik Parang Rusak ketika melewati lokasi tersebut.

“Ha..ha…, dengarkan Begawan, Aku akan membunuh dan memakan siapa saja yang memakai pakaian seperti milikku, saat mereka lewat di depanku. Kapan saja!,” teriak Kala Haluyu.

Peristiwa inilah yang kemudian melahirkan nama tempat. Batu besar yang menggantung itu disebut ‘Watu Gandul’, sedangkan nama Kala Haluyu diabadikan menjadi nama wilayah tersebut, yaitu “Ngluyu”.

“Sejak itu, masyarakat mengenali tempat ini bukan hanya sebagai formasi batu alam, tetapi sebagai saksi bisu sejarah dan legenda yang hidup di hati masyarakat,” pungkas Sukadi yang juga aktif di Komunitas Pecinta Sejarah dan Ekologi Nganjuk (Kota Sejuk) serta Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Nganjuk. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Agus Karyono
Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.