National Hospital Surabaya Hadirkan Adaptive DBS Pertama di Indonesia, Terapi Otak Lebih Personal

oleh -107 Dilihat
WhatsApp Image 2026 08 04 at 6.08.28 PM
Foto (ki-ka) : Dokter Bedah Saraf National Hospital Surabaya, dr. Heri Subianto, SpBS - Dokter Spesialis Bedah Saraf National Hospital Surabaya, dr. Achmad Fahmi, SpBS (Irma Hari Trisiawardani)

KabarBaik.co, Surabaya – Perkembangan teknologi di bidang bedah saraf membuka harapan baru bagi pasien dengan gangguan gerak akibat penyakit neurologi. National Hospital Surabaya melalui National Hospital Neuroscience Center (NHNC) bersama Medtronic menghadirkan Adaptive Deep Brain Stimulation (Adaptive DBS/aDBS), teknologi stimulasi otak adaptif pertama di Indonesia yang dirancang memberikan terapi lebih personal sesuai kondisi pasien.

Gangguan gerak seperti tremor, kekakuan otot (rigiditas), hingga gerakan yang melambat (bradikinesia) kerap dialami pasien penyakit Parkinson maupun gangguan neurologi lainnya. Kondisi tersebut dapat menghambat aktivitas sehari-hari dan menurunkan kualitas hidup penderitanya.

Dokter Spesialis Bedah Saraf National Hospital Surabaya, dr. Achmad Fahmi, SpBS, menjelaskan bahwa Deep Brain Stimulation (DBS) selama ini menjadi salah satu pilihan terapi bagi pasien tertentu dengan cara memberikan stimulasi listrik pada area tertentu di otak untuk membantu mengendalikan gejala.

Seiring perkembangan teknologi, kini hadir Adaptive DBS yang bekerja lebih cerdas dibandingkan DBS konvensional. Jika sebelumnya stimulasi diberikan berdasarkan pengaturan tetap yang diprogram dokter, Adaptive DBS mampu menyesuaikan stimulasi secara otomatis mengikuti aktivitas otak pasien.

“Teknologi ini menggunakan sistem closed-loop stimulation yang dapat membaca aktivitas listrik otak secara real-time melalui teknologi BrainSense. Berdasarkan data tersebut, perangkat akan menyesuaikan intensitas stimulasi sesuai kebutuhan pasien, namun tetap berada dalam batas aman yang telah ditentukan dokter,” jelasnya, Selasa (4/8).

Pendekatan ini dinilai penting karena kondisi setiap pasien tidak selalu sama. Gejala dapat berubah sewaktu-waktu, bahkan dalam satu hari, sehingga kebutuhan stimulasi pun dapat berbeda.

Dengan kemampuan beradaptasi secara real-time, terapi diharapkan mampu memberikan pengendalian gejala yang lebih optimal sekaligus mengurangi stimulasi yang tidak diperlukan. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan kenyamanan pasien saat beraktivitas dan mendukung kualitas hidup yang lebih baik.

Dokter Bedah Saraf National Hospital Surabaya, dr. Heri Subianto, SpBS, menambahkan bahwa Adaptive DBS tidak hanya berfungsi mengirimkan stimulasi listrik ke otak, tetapi juga mampu merekam sinyal aktivitas otak yang berkaitan dengan gejala penyakit.

Data tersebut kemudian dianalisis oleh sistem untuk menentukan apakah pasien memerlukan stimulasi yang lebih tinggi atau lebih rendah. Selanjutnya perangkat akan menyesuaikan stimulasi secara otomatis sesuai parameter yang sebelumnya telah diprogram oleh dokter.
Dibandingkan Continuous DBS (cDBS), Adaptive DBS menawarkan terapi yang lebih dinamis.

Teknologi ini memiliki potensi meningkatkan pengendalian gejala motorik seperti tremor, rigiditas, maupun bradikinesia, sekaligus membantu mengurangi efek samping akibat stimulasi yang berlebihan. Selain itu, penyesuaian stimulasi yang lebih efisien juga berpotensi memperpanjang usia baterai perangkat.

Meski perangkat bekerja secara otomatis, peran dokter tetap menjadi bagian utama dalam keseluruhan terapi. Dokter tetap menentukan target terapi, lokasi stimulasi, parameter keamanan, hingga batas penyesuaian stimulasi, sementara perangkat hanya melakukan adaptasi dalam rentang yang telah ditetapkan.

Karena itu, Adaptive DBS bukan menggantikan peran dokter, melainkan menjadi teknologi pendukung untuk menghadirkan terapi yang lebih presisi sesuai kebutuhan masing-masing pasien.

Melalui peluncuran Adaptive DBS pertama di Indonesia ini, National Hospital bersama National Hospital Neuroscience Center (NHNC) dan Medtronic berharap masyarakat Indonesia memiliki akses yang lebih luas terhadap terapi neuromodulasi modern. Kehadiran teknologi tersebut juga menandai langkah baru dalam penanganan gangguan gerak dengan pendekatan yang lebih personal, presisi, dan berorientasi pada peningkatan kualitas hidup pasien. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Irma Hari Trisiawardani
Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.