KabarBaik.co, Jombang – Bulan Ramadan selalu menghadirkan tradisi khas menjelang waktu berbuka puasa. Di berbagai daerah, masyarakat punya cara tersendiri untuk mengisi waktu sore atau yang akrab disebut ngabuburit.
Di Jombang, salah satu lokasi yang kini ramai menjadi pilihan warga adalah tambangan perahu Nogo Joyo di Desa/Kecamatan Megaluh.
Di tempat ini, suasana sore terasa berbeda. Perahu getek sebutan warga untuk perahu penyeberangan tradisional tampak mondar-mandir menyeberangi aliran Sungai Brantas.
Perahu-perahu itu menghubungkan dua wilayah yakni Kecamatan Megaluh, Jombang dengan Kecamatan Jatikalen, Nganjuk.
Gemercik arus Sungai Brantas berpadu dengan lalu-lalang perahu getek, menciptakan pemandangan yang menenangkan. Saat matahari mulai condong ke barat, panorama kian lengkap dengan semburat jingga keemasan yang memantul di permukaan air. Hijaunya tanggul sungai di sisi aliran menjadi latar alami yang mempercantik momen terbenamnya matahari.
Tak heran, setiap sore selama Ramadan, tepian tanggul dipadati berbagai kalangan. Mulai dari warga lokal yang sekadar duduk santai menunggu azan Magrib, hingga pengunjung dari luar Megaluh yang datang karena penasaran dengan suasana ngabuburit di lokasi tersebut.
Salah satunya Fauziyah Az-Zahra, 19, warga Sumobito, Jombang. Ia mengaku sengaja datang setelah mendengar rekomendasi teman dan melihat unggahan di media sosial.
“Saya penasaran karena banyak yang bilang suasananya beda. Biasanya ngabuburit di alun-alun atau tempat ramai, tapi di sini lebih tenang dan alami. Baru pertama kali saya merasakan sensasi seperti ini di Jombang,” ujarnya, Minggu (1/3/2026).
Menurut Zahra, melihat perahu getek yang terus beroperasi membawa penumpang di tengah cahaya matahari yang perlahan tenggelam memberikan pengalaman tersendiri. Ada kesan sederhana namun hangat, terlebih saat angin sore berembus pelan menyapu permukaan sungai.
“Di tengah hiruk-pikuk kehidupan, ngabuburit di tepian Sungai Brantas, Megaluh, rasanya lebih berkesan. Senja, aliran sungai, dan perahu-perahu kecil yang setia berlayar seperti mengingatkan kalau keindahan itu sering hadir dalam hal-hal sederhana,” tuturnya.
Hal serupa disampaikan M. Fadhul Raffi, 21, warga Kesamben, Jombang. Ia datang bersama beberapa temannya untuk menghabiskan waktu menjelang berbuka.
“Awalnya cuma ikut teman. Ternyata seru juga. Bisa lihat langsung aktivitas penyeberangan, foto-foto dengan latar sunset, dan suasananya nggak terlalu bising,” katanya.
Bagi Raffi, Tambangan Perahu Nogo Joyo bukan sekadar tempat menunggu waktu berbuka, melainkan ruang berkumpul yang sederhana dan terjangkau. Tanpa tiket masuk atau fasilitas mewah, pengunjung sudah bisa menikmati suguhan alam yang autentik.
Ramainya tambangan saat Ramadan menunjukkan bahwa daya tarik wisata tak selalu harus berupa bangunan megah atau wahana modern.
Aktivitas tradisional seperti penyeberangan perahu getek dan lanskap alami Sungai Brantas justru memiliki magnet tersendiri.
Di Megaluh, senja dan arus sungai menjadi perpaduan yang sederhana, namun cukup untuk membuat banyak orang rela datang, duduk sejenak, dan menanti azan Magrib dengan cara yang berbeda. (*)








