Menopause Bukan Akhir Aktivitas, Dokter Ungkap Cara Jaga Tulang dan Kualitas Hidup Tetap Prima

oleh -479 Dilihat
WhatsApp Image 2026 06 05 at 5.28.59 PM 1
Pasien saat diperiksa di Alat Bone Mineral Density/Bone Mineral Densitometry (Ist)

KabarBaik.co, Surabaya – Memasuki masa menopause bukan berarti perempuan harus mengurangi aktivitas atau menerima berbagai gangguan kesehatan sebagai bagian dari proses penuaan. Dengan pola hidup yang tepat dan deteksi dini berbagai risiko penyakit, kualitas hidup setelah menopause tetap bisa terjaga dengan baik.

Dokter Spesialis Densitometri Ciputra Hospital, dr. Boedi Prihatini Yenniastoeti, M.Biomed., (AAM).CCD, menjelaskan bahwa salah satu masalah kesehatan yang paling sering dialami perempuan pascamenopause adalah osteoporosis atau pengeroposan tulang.

Menurutnya, kondisi tersebut terjadi akibat menurunnya kadar hormon estrogen yang selama ini berperan menjaga kepadatan tulang.

“Wanita pasca menopause paling rentan mengalami osteoporosis karena penurunan hormon estrogen. Saat hormon ini berkurang, tulang menjadi lebih cepat kehilangan kepadatannya dan lebih mudah rapuh,” ujar dr. Yenny ditemui di Ciputra Hospital, Jumat (5/6).

Ia menegaskan bahwa osteoporosis sering kali tidak menimbulkan gejala pada tahap awal. Banyak penderita baru menyadari kondisinya setelah mengalami patah tulang atau tinggi badan yang mulai berkurang akibat keretakan pada tulang belakang.

Karena itu, pemeriksaan densitometri menjadi langkah penting untuk mendeteksi kondisi tulang sejak dini.

“Pemeriksaannya sederhana, tidak sakit, dan hanya membutuhkan waktu beberapa menit. Idealnya perempuan mulai melakukan pemeriksaan pada usia 45 hingga 50 tahun, atau lebih awal jika memiliki faktor risiko seperti riwayat keluarga osteoporosis, berat badan rendah, maupun kebiasaan merokok,” katanya.

Tak hanya untuk mengukur kepadatan tulang, teknologi densitometri juga dapat digunakan untuk mengetahui komposisi tubuh, mulai dari massa tulang, massa otot, hingga kadar lemak tubuh.

Menurut dr. Yenny, pemeriksaan komposisi tubuh menjadi penting karena tidak sedikit orang yang terlihat kurus namun sebenarnya memiliki kadar lemak tinggi dan massa otot rendah. Kondisi ini dikenal sebagai obesitas sarkopenik dan dapat meningkatkan berbagai risiko penyakit.

“Sering kali orang menganggap gemuk itu identik dengan sehat. Padahal belum tentu. Yang lebih penting adalah komposisi tubuh yang seimbang antara otot, lemak, dan tulang,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa penumpukan lemak, terutama di area perut, dapat memicu berbagai gangguan kesehatan seperti penyakit jantung, stroke, diabetes, hipertensi, hingga kanker. Bahkan, lemak berlebih juga dapat memperburuk kualitas tulang.

“Lemak bukan hanya cadangan energi. Sel lemak menghasilkan zat-zat peradangan yang dalam jangka panjang dapat merusak berbagai sistem tubuh, termasuk kesehatan tulang,” jelasnya.

Untuk menjaga kualitas hidup setelah menopause, dr. Yenny menekankan pentingnya aktivitas fisik secara rutin. Olahraga menjadi investasi kesehatan yang tidak hanya menjaga kepadatan tulang, tetapi juga memperkuat otot dan menjaga keseimbangan tubuh agar terhindar dari risiko jatuh.

Beberapa jenis olahraga yang direkomendasikan untuk usia di atas 50 tahun antara lain jalan cepat, yoga, pilates, serta latihan beban ringan.

“Yang paling penting bukan beratnya olahraga, tetapi konsistensinya. Tubuh harus terus bergerak agar tulang dan otot tetap kuat,” katanya.

Selain olahraga, asupan nutrisi juga memegang peranan penting. Kebutuhan kalsium dan vitamin D harus tercukupi untuk mendukung kesehatan tulang. Paparan sinar matahari pagi juga diperlukan untuk membantu pembentukan vitamin D secara alami.

Dr. Yenny menambahkan bahwa upaya menjaga kesehatan tulang sebaiknya dimulai jauh sebelum memasuki masa menopause. Puncak kepadatan tulang seseorang umumnya dicapai pada usia sekitar 30 tahun, sehingga pola hidup sehat sejak usia muda menjadi modal penting untuk menghadapi masa tua.

Ia pun mengingatkan masyarakat agar tidak hanya berfokus pada pengobatan ketika penyakit sudah muncul. Menurutnya, pendekatan preventif melalui olahraga, pola makan sehat, dan pemeriksaan kesehatan berkala jauh lebih efektif dan terjangkau.

“Tulang keropos bukan takdir karena bertambahnya usia. Jika dijaga sejak dini dengan pola hidup yang baik, perempuan tetap bisa mandiri, aktif, dan menikmati kualitas hidup yang optimal setelah menopause,” pungkasnya. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Irma Hari Trisiawardani
Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.