Jangan Anggap Sepele Jantung yang Sering Berdebar, Bisa Jadi Tanda Aritmia

oleh -52 Dilihat
WhatsApp Image 2026 07 09 at 8.33.10 AM 2
CT Scan dual-source, berfungsi Memeriksa jantung dan pembuluh darah (CT Coronary Angiography)/ist

KabarBaik.co, Surabaya – Jantung berdebar kerap dianggap sebagai hal biasa akibat kelelahan, stres, atau terlalu banyak mengonsumsi kafein. Namun, kondisi tersebut tidak selalu dapat dianggap sepele. Dalam beberapa kasus, jantung berdebar bisa menjadi tanda aritmia atau gangguan irama jantung yang berisiko menimbulkan komplikasi serius jika tidak ditangani.

Dokter Spesialis Jantung National Hospital dr. Gunawan Yoga, Sp.JP menjelaskan bahwa aritmia merupakan gangguan pada irama denyut jantung yang gejalanya dapat berbeda-beda pada setiap orang. Keluhan yang paling sering dirasakan adalah jantung berdebar atau palpitasi, dengan sensasi denyut yang sangat cepat, berdetak tidak teratur, terasa menghentak di dada, bahkan hingga denyutnya terasa sampai ke telinga.

“Sebagian besar aritmia sebenarnya bersifat jinak, sekitar 90 persen. Namun, ada sekitar 5 hingga 10 persen yang berpotensi berbahaya dan dapat meningkatkan risiko kematian mendadak apabila tidak ditangani,” ujar dr. Gunawan dalam acara Health Talk: Jantung Berdebar? Kenali Kapan Harus Waspada! di Surabaya, Kamis (9/7).

Ia mengingatkan masyarakat agar tidak menunda pemeriksaan apabila jantung berdebar disertai keluhan lain, seperti pusing, keringat dingin, sesak, mudah lelah, hingga pingsan. Kondisi tersebut perlu mendapat evaluasi medis karena dapat menandakan adanya gangguan irama jantung yang memerlukan penanganan.

Selain itu, pemeriksaan juga dianjurkan bagi orang yang memiliki riwayat penyakit jantung, pernah menjalani operasi jantung, maupun mempunyai anggota keluarga dengan riwayat kematian mendadak akibat gangguan jantung.

Menurut dr. Gunawan, diagnosis aritmia sering kali memerlukan pemeriksaan khusus karena gangguan irama jantung tidak selalu muncul saat pasien menjalani pemeriksaan rutin di rumah sakit.

“Karena gangguan irama jantung tidak selalu muncul saat pemeriksaan biasa, pemilihan jenis pemeriksaan yang tepat menjadi sangat penting agar penyebab keluhan dapat diketahui secara akurat,” jelasnya.

Pemeriksaan yang dapat dilakukan antara lain Holter ECG, yaitu alat yang merekam aktivitas listrik jantung selama 24 hingga 72 jam saat pasien beraktivitas normal. Selain itu, terdapat pula Electrophysiology (EP) Study untuk mengevaluasi sistem kelistrikan jantung serta treadmill test guna menilai respons irama jantung ketika beraktivitas fisik.

Ia menambahkan perkembangan teknologi di bidang kardiologi kini memungkinkan sejumlah kasus aritmia ditangani secara efektif, termasuk melalui prosedur ablasi pada pasien yang memenuhi indikasi medis.

Deteksi dini menjadi kunci penting dalam mencegah komplikasi akibat aritmia. Dengan pemeriksaan yang tepat dan penanganan sesuai kondisi pasien, risiko terjadinya gangguan jantung yang lebih serius, termasuk kematian mendadak, dapat ditekan sehingga kualitas hidup pasien tetap terjaga. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Irma Hari Trisiawardani
Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.