KabarBaik.co, Surabaya – Diabetes masih menjadi salah satu tantangan kesehatan masyarakat di Jawa Timur. Tidak hanya jumlah penderitanya yang terus meningkat, usia pasien yang terdiagnosis diabetes juga semakin muda. Pola hidup yang kurang seimbang, tingginya konsumsi makanan dan minuman manis, serta rendahnya asupan serat disebut menjadi sejumlah faktor yang turut memicu peningkatan kasus tersebut.
Berdasarkan Profil Kesehatan Provinsi Jawa Timur 2023, jumlah estimasi penderita diabetes usia 15 tahun ke atas mencapai 854.454 orang. Sementara di Surabaya, Dinas Kesehatan Kota Surabaya mencatat terdapat 104.363 pasien diabetes sepanjang tahun 2023.
Di tengah tingginya angka tersebut, kesadaran masyarakat terhadap bahaya komplikasi diabetes dinilai masih perlu ditingkatkan. Banyak pasien yang hanya fokus pada pengendalian kadar gula darah, padahal penyakit ini dapat memicu gangguan serius pada organ vital seperti jantung dan ginjal.
Untuk meningkatkan pemahaman masyarakat, Daewoong Pharmaceutical Indonesia bekerja sama dengan Siloam Hospitals Surabaya menggelar edukasi kesehatan bertajuk “Silent but Deadly: Serangan Jantung pada Penderita Diabetes”. Kegiatan ini menyoroti pentingnya deteksi dini dan pengobatan berkelanjutan guna mencegah komplikasi yang dapat mengancam jiwa.
Direktur Siloam Hospitals Surabaya, dr. Maria Magdalena Padmidewi, Sp.PK, mengatakan edukasi menjadi salah satu kunci penting dalam menekan risiko komplikasi pada pasien diabetes.
“Diabetes tidak hanya berkaitan dengan kadar gula darah. Penyakit ini dapat memengaruhi jantung, ginjal, pembuluh darah, hingga kualitas hidup pasien secara keseluruhan. Karena itu, pemahaman pasien dan keluarga menjadi sangat penting,” ujarnya, Minggu (21/6).
Menurut Maria, rumah sakit memiliki peran penting dalam mendukung diagnosis dini, edukasi pasien, serta layanan kesehatan yang terintegrasi agar komplikasi dapat dicegah sejak awal.
Ancaman komplikasi jantung menjadi salah satu hal yang mendapat perhatian khusus. Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, Prof. Yudi Her Oktaviono, Sp.JP(K), FIHA, menjelaskan bahwa serangan jantung pada penderita diabetes kerap tidak menunjukkan gejala khas seperti nyeri dada.
Kondisi tersebut terjadi karena kadar gula darah yang tinggi dalam jangka panjang dapat merusak saraf yang berfungsi mengirimkan sinyal nyeri ke tubuh. Akibatnya, penyumbatan pembuluh darah koroner bisa terjadi tanpa disadari pasien.
“Pasien diabetes dapat mengalami risiko kardiovaskular tanpa gejala yang nyata. Karena itu, pemeriksaan kesehatan berkala dan pengendalian faktor risiko sangat penting meskipun pasien merasa sehat,” kata Prof. Yudi.
Ia menjelaskan, diabetes juga dapat mempercepat proses aterosklerosis atau penumpukan plak pada dinding pembuluh darah. Kondisi ini terjadi ketika kolesterol jahat atau LDL-C menumpuk dan menyempitkan aliran darah, sehingga meningkatkan risiko serangan jantung maupun stroke.
Karena itu, pengelolaan kadar kolesterol menjadi bagian penting dalam penanganan diabetes. Menurut Prof. Yudi, pengendalian LDL-C sebaiknya dilakukan sedini mungkin dan dipertahankan secara konsisten sesuai rekomendasi tenaga kesehatan.
Selain jantung, ginjal juga menjadi organ yang rentan mengalami kerusakan akibat diabetes. Dokter spesialis penyakit dalam konsultan endokrinologi, Dr. dr. Soebagijo Adi Soelistijo, SpPD, Subsp.EMD(K), FINASIM, FACP, mengatakan penyakit ginjal akibat diabetes sering berkembang tanpa gejala pada tahap awal.
“Kadar gula darah yang tinggi secara terus-menerus dapat merusak jaringan ginjal secara perlahan. Sayangnya, banyak pasien tidak merasakan keluhan hingga fungsi ginjal sudah menurun cukup jauh,” ujarnya.
Karena itu, ia mendorong pasien diabetes untuk rutin menjalani pemeriksaan kesehatan, termasuk pemantauan HbA1c untuk melihat kontrol gula darah, UACR untuk mendeteksi kebocoran protein dalam urine, serta eGFR guna menilai kemampuan ginjal dalam menyaring darah.
Pemeriksaan rutin dinilai menjadi langkah penting untuk menemukan tanda-tanda kerusakan organ lebih dini sehingga penanganan dapat dilakukan sebelum kondisi berkembang menjadi lebih berat.
Head of Daewoong Pharmaceutical Indonesia Business Division, Baik In-hyun, mengatakan edukasi kesehatan menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai hubungan erat antara diabetes dan berbagai komplikasinya.
Menurutnya, pemahaman yang baik akan membantu pasien mengambil langkah pencegahan lebih cepat sebelum terjadi kerusakan organ yang bersifat permanen.
Dengan jumlah penderita yang terus meningkat, para tenaga kesehatan mengingatkan bahwa pengelolaan diabetes tidak cukup hanya dengan mengontrol gula darah. Pemeriksaan jantung, kolesterol, dan fungsi ginjal secara berkala juga menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas hidup pasien sekaligus mencegah komplikasi yang dapat berujung fatal. (*)






